
"...untung orang tua Dion kaya raya dan Dion pewaris mereka, jadi Dion selamat dari Polisi," Vero
"Separah itu?? Tapi kan aku gak buta?? Aku bisa ngeliat semua," Laras.
.
.
.
"Tapi kamu tak bisa mengenali wajah orang kan?? Kamu selalu buta terhadap wajah seseorang, bahkan setelah beberapa kali kita bertemu, kamu masih tak mengenaliku tadi," Vero
Laras terkejut, "Ahhh itu- aku-" Laras
"Itulah yang kumaksud. Aku tak bermaksud menghinamu ya, tapi kamu selalu menunduk, aku bicara kayak gini kayak guru sd ngajar anak kelas satu tau," Vero
Vero mendekat ke Laras mencubit lembut pipi Laras,
"Aku mengerti dirimu Bunga, karena itu aku akan terus bersamamu, ya aku akan membuatmu seperti biasa, karena itu, anggap saja aku adalah Kakakmu, Ayahmu, Katingmu, Gurumu, dan Priamu. Karena dari awal kita bertemu, aku sudah menjadi milikmu. Kamu bisa bersikap manja dan seperti biasa pada orang lain karena aku akan bersamamu, kamu bisa bersamaku untuk melakukan perubahan," Vero
"??" Laras bingung
"Ekhem," suara deheman
Laras melihat Ryu dan melepaskan cubitan Vero,
"Hei, ini dapur udah gelap, tapi kalian masih bisa bermesraan," Ryu
"Ahh Kak-" Laras
"Aku bukan Kakakmu, jangan panggil Kakak, panggil aja aku Riku," Ryu
"Ya baiklah Ryu," Laras
"Ryu?? Hei namaku Riku, Rikukanha," Ryu
"Ryu juga memanggilku Bunga, kenapa aku gak boleh manggil Ryu dengan Ryu," Laras
"Hei-" Ryu
"Hentikan," Vero
Laras bersembunyi di balik punggung Vero saat Ryu mendekat,
"Ahhh kau curang Bunga. Sudahlah cepat makanannya ya, aku lapar," Ryu
"Baiklah," Laras
Ryu pergi,
"Vero, kamu keluar saja sana, aku akan menyiapkan ini," Laras
"Baiklah," Vero
Vero pergi. Namun di luar, Vero di hentikan oleh Dion,
"Aku mau bicara denganmu, ikut aku," Dion
"Ada apa sih??" Vero
"Kau menyukai Bunga??" Dion
"Kau mau aku jawab jujur? Atau jawab bohong?" Vero
"Kau mau mati hah!?" Dion mulai kesal
"Ahhh baiklah. Aku memang menyukai- ah tidak, aku mencintai Bunga dan ini serius, Bunga adalah satu satunya gadis yang bahkan tak mengenaliku bahkan judes padaku, dia gadis yang menarik bahkan bisa menarik perhatian dan hatiku juga," Vero
"Kau yakin?? Kau tak menggunakan Bunga untuk perlarianmu dari masa lalu kan??" Dion
"Kau sudah gila?? Aku sudah melupakannya, yaa walau dari minggu pertama memang begitu tapi sekarang gak lagi," Vero
"Gak lagi?? Apa maksudmu dengan "gak lagi"??" Dion
"Sekarang aku sudah melupakan dia dan hatiku hanya dimiliki oleh Bunga saja. Aku akan mencari saat yang tepat untuk melamarnya. Sampai saat itu tiba, kau jangan memberitau siapapun, aku ingin Bunga melihatku sebagai pria dengan sendirinya," Vero
"Baiklah. Tapi jika kau berani menyakiti hati Bunga, aku gak akan menganggapmu pernah menjadi teman dari kecil," Dion
"Aku lebih takut kehilangan Bunga daripada dirimu teman masa kecil," Vero
Vero pergi,
"Aku harap kau menepati perkataanmu itu Vero," Dion
Dion pergi mengikuti Vero.
.
.
.
Sejak saat itu, Laras selalu bersama dengan ketiga prianya itu, Laras sempat khawatir jika dia melakukan kesalahan dalam pertemanan, namun Vero selalu membantunya dalam segala hal.
Walaupun demikian, di mata Laras dan ingatan Laras yang mulai membaik, Vero hanya sebagai teman berharganya yang hanya akan ada satu di dunia, yang membuat Vero kehilangan kepercayaan diri untuk melamar Laras.
Flashback End.
.
.
.
Back to Story,,
Di kamar Laras, Laras sudah tertidur dan Gilang mengelus lembut rambut Laras, Gilang yang telah mendengar cerita awal bertemu Vero merasa jengkel,
"Kenapa aku tak datang lebih awal?? Jika saja aku datang lebih awal, maka Laras pasti sudah menjadi milik diriku seutuhnya," bathin Gilang
Gilang melihat ponsel Laras yang berwallpaper foto ketiga pria itu bersama Laras di tengah, di foto itu, Laras terlihat tersenyum bahagia bersama pria berwajah ceria dan 2 pria berwajah dingin yang tersenyum,
"Laras terlihat bahagia di foto ini. Dan ini, namanya Vero kan, dia terus menatap tunanganku dengan tatapan penuh cinta itu. Aku jadi kesal. Hanya aku yang boleh memiliki Laras, Laras milikku," Gilang.