
"Undangan itu seharusnya undangan kita berdua, aku akan mewujudkan itu," Vero.
.
.
.
Kebesokan harinya, Laras pergi ke sekolah seperti biasa, Laras bertemu rekan sesama guru lainnya seperti biasa.
Namun saat jam terakhir, Laras jadwal kosong karena kelasnya sedang kelas Agama, Laras pun memilih memeriksa tugas anak murid kelasnya ditemani oleh Vero,
"Ahhhhh bosannya diriku," Laras menghela nafas
Vero hanya melirik Laras, Laras menatap Vero,
"Vero, kamu pasti enak ya ngajar olahraga hanya 2 kali seminggu karena kamu langsung ambil 3," Laras
Vero mendekat ke Laras dengan tumpukan buku, Vero menaruh tumpukan buku itu di meja Laras,
"Aku sengaja mengambil semua sekaligus supaya bisa membantumu mengerjakan tugasmu saat kamu di kelas, kamu kalau terlalu lelah kamu bisa sakit, dan aku gak mau kamu sakit," Vero
Laras menatap Vero sambil tersenyum manis,
"Hehehe, baiklah, maafkan aku, aku akan menjaga kesehatanku kok, tenang saja Vero. Tapi memang benar sih, kamu ambil semua kelas sekaligus buat bantuin aku, jadi terima kasih ya Ver," Laras
"Aku melakukan ini tidak gratis Bunga," Vero
"Huh?? Maksudmu??" Laras
"Manusia bekerja untuk mendapatkan bayaran bukan?" Vero
Laras menatap Vero lagi,
"Ya, kamu benar, jadi katakan apa yang kamu mau," Laras
"Aku menginginkanmu Larasati Bunga Sucitra," bisik Vero tepat ditelinga Laras
Laras tercengang hingga membeku saking terkejutnya, Laras menatap Vero yang duduk disebelahnya menggunakan bangku Ryu,
"Vero, kamu bercanda kan? Candaanmu gak lucu," Laras
"Aku tidak bercanda dan aku serius. Sejak kita bertemu pertama kali, aku sudah jatuh cinta padamu, aku memendam perasaan ini selama bertahun-tahun Nga, aku mencintaimu," Vero
Laras mencoba tenang, "Vero, aku sudah mempunyai calon suami, bagaimana bisa kamu mengatakan itu?" Laras
"Aku gak perduli dengan calon suamimu, aku mencintaimu dan aku ingin memiliki dirimu Bunga, aku akan melakukan segalanya untuke dapatkan kamu, walau aku harus membunuh pria itu," Vero
Laras kembali tersentak, "Vero, jangan lakukan hal aneh, aku mohon padamu, pernikahanku dan Gilang sudah beberapa bulan lagi, aku gak mungkin membatalkannya," Laras
Vero berdiri dan memojokkan Laras yang masih duduk dengan kedua tangannya,
"Aku tau kamu akan mengatakan itu, dan tetap saja aku akan merebutmu, aku akan menghabisi dia dan menjadi pengantin priamu," Vero
Laras terdiam karena takut dan syok, Vero melihat diamnya Laras, Vero menggunakan tangan kanannya untuk meraih dagu Laras dan dengan cepat merebut ciuman dari Laras.
Laras terkejut dan mencoba memberontak dari pangutan Vero, namun sia-sia karena tenaga Vero jauh lebih besar darinya.
Vero terus mencium Laras tanpa keduanya sadari jika ada yang memotret mereka.
.
.
.
"SIAL!!!!! VERO, beraninya kau menyentuh tunanganku, aku pasti akan menghabisimu Vero!!!!" marah Gilang
Gilang mengganti pakaiannya lalu pergi dari kantornya.
.
.
.
Jam pulang SD tiba, murid maupun guru pun pulang, Dion dan Ryu merasa aneh dengan Laras yang tiba-tiba ditarik pergi oleh Gilang tepat bel pulang sekolah berbunyi,
"Hm, jurnal Bunga ketinggalan," Dion
"Tumben banget Gilang kayak orang kesambet gitu, langsung dibawa pergi aja Bunga," Ryu
"Vero, kau juga terlihat aneh, apa yang sebenarnya terjadi??" Dion
"Kau gak usah ikut campur," Vero
Vero pergi,
"EHHHH??? APA-APAAN ITU??? Dion, kau gak ngerasa aneh sama atmosfer tadi?? Gilang maupun Vero sama-sama mengeluarkan aura pembunuh, seremmm banget kannn??" Ryu
"Entahlah, aku harus caritau apa yang terjadi," Dion
Ryu meraih tangan Dion tepat saat Ryu mendapat suatu pesan,
"Dion, tunggu, liat ini," Ryu
Ryu menunjukkan suatu foto,
"Aku menyadap ponsel Gilang sebelumnya, liat pesan terakhirnya, ada seseorang yang mengirim foto ini ke Gilang. Pantas Gilang serasa pengen habisin semuanya menggunakan lirik matanya," Ryu
Rahang Dion mengeras menahan amarah, saat dirinya ingin sekali membanting ponsel Ryu, Ryu menghentikannya,
"OI, OI, OI, JANGAN DIBANTING, HP SATU-SATUNYA NIH," Ryu
Ryu segera mengambil ponselnya dari Dion,
"Si Vero itu sudah berapa kali kubilang jangan lakukan hal bodoh, tapi dia tetap saja melakukannya, dasar bodoh," Dion
"Sabar Di, sabar, orang sabar disayang Tuhan Di, ya ampun kenapa semuanya jadi emosian? Tapi siapa juga yang memfoto mereka ini??" Ryu
"Sial!!!" Dion mengumpat
"Sudah-sudah, jangan mengumpat disekolah, kalau diliat anak sd kan gak baik. Kita pulang aja kuy, atau ke rumah Bunga ngembaliin jurnalnya sekalian menasehati Gilang," Ryu
"Ngak perlu, jurnal taruh aja di laci meja Bunga, dan Gilang, ini adalah cobaan untuk hubungan mereka, jika hanya karena ini mereka selesai, aku akan menghabisi Gilang. Si Vero itu memang benar-benar," Dion
"Ah baiklah, kau jangan murka sekarang. Kita pulang aja kuy, pulang-pulang," Ryu
Ryu pun memaksa Dion untuk pergi dari sekolah supaya tak membuat masalah disekolah.