
"Kalau gitu aku akan ambil nasi dulu," Ryu
Ryu pergi, Dion menatap Ryu yang pergi.
.
.
.
Tengah malamnya, di sebuah gudang tua, Vero sudah sampai disana, Vero melihat Gilang terduduk di atas kayu-kayu disana dengan santainya,
"Kau terlambat 1 menit, Vero," Gilang
"Aku sedang sibuk menyiapkan pernikahanku dengan Bunga. Kau akan mati malam ini, aku harus siap untuk menjadi suami Bunga," Vero
"Cih, jangan harap," Gilang
Gilang menembaki Vero namun Vero bisa mengelak, Vero juga mencoba menembaki Gilang namun perbedaan kemampuan membuat Vero kalah telak, Gilang mendekati Vero yang sudah tersungkur,
"Bagaimana?? Kau kalah kan??" Gilang
"Cih, siapa bilang," Vero
Gilang melirik belakang dan melihat Ryu menodongkan pistol ke kepalanya,
"Luka ini palsu karena aku sudah memperkirakan ini setelah tau kau akan benar-benar membunuhku, Riku yang memberitahukan itu. Kau yang sudah kalah Gilang," Vero
Vero menodongkan pistol ke Gilang, Gilang dalam posisi sulit karena depan maupun belakangnya ditodong pistol,
"Riku, jadi kau mendengar percakapan aku dan Dion? Kau berbohong tadi," Gilang ke Riku
"Aku memang berhubungan baik dengan Dion, aku bahkan bisa tidak hidup tanpa Dion, tapi aku tak bisa melupakan hubungan persahabatanku dan Vero, aku hanya ingin menjaga hubungan baik ini. Bunga hanya orang yang baru datang dalam kehidupanku, iarena itu aku lebih memilih sahabatku daripada kebahagiaan adik perempuan angkatku," Riku
Tangan Riku bergetar, Riku yang bahkan tidak pernah belajar bela diri sama sekali itu merasa takut karena pertama kali mengangkat senjata,
"A-Aku bukan Dion yang memilih adik angkat dari pada sahabatnya dari kecil, aku hanya ingin melindungi dan menjaga hubungan persahabatanku ini," Riku
"Kau memang setia kawan Riku, aku salut pada solidaritasmu. Tapi tetap saja, adik angkatmu itu adalah calon istriku, aku tak bisa membiarkan Laras direbut oleh orang lain," Gilang
"Kalau begitu, kau benar-benar harus mati bangs"t," Vero
Dorrrr!!!
Saat Vero akan menembak Gilang, seseorang menembak tangan Vero dan membuat pistol yang dipegangnya lepas dari tangannya, semuanya melihat ke arah tembakan dan melihat Dion, Dion berjalan mendekat,
"Sudah kuduga Riku, seperti yang dikatakan Gilang, rasa solidaritasmu sangat tinggi, itulah mengapa aku paling menyukaimu diantara yang lain, tapi ini sudah lain halnya Riku, jangan mengganggu urusan mereka," Dion
Ryu semakin mundur dengan badan bergetar, Gilang langsung berdiri tegak dan agak menjauh,
"Di-Dion, kau- kau jangan mendekat," Ryu
"Dion, apa yang kau lakukan!? Kita berteman kan?" Vero
"Aku tidak punya teman yang ingin menghancurkan hidup temannya yang lain, Gilang sudah termasuk bagian kehidupan Bunga, kau harusnya menghargai itu. Jika Gilang melukai atau menyakiti Bunga, maka aku sendiri yang akan membunuh Gilang dan mengantarmu dan Bunga ke altar pernikahan," Dion
Dorrrr!!!!
Tembakan tepat dibawah kaki Dion, Dion menatap Ryu yang mencoba menembaknya,
"Dion, se-sebaiknya kau pergi dari sini, atau- atau aku akan menghabisimu sebelum Gilang," Ryu
"Cobalah, aku tak pernah takut pada timah panas dari pistol yang kau beli secara mendadak saat pulang tadi," Dion
Ryu mengarahkan pistolnya ke kepalanya,
"Kalau begitu, aku akan mengwhabisi diriku sendiri dihadapanmu," Ryu
"Riku," Vero
Dion terhenti lalu menatap Ryu,
"Kalau begitu matilah," Dion
Dorrrr!!!
Ryu terjatuh ke tanah tak sadarkan diri,
"RIKU!!" Gilang dan Vero bersamaan
Vero berdiri,
"Dion, kau sudah gila!? Kau tega menembak Riku seperti itu!? Aku juga akan membunuhmu disini," Vero
Dorrrr!!!
Dorrrr!!!
Saat Vero menembak Dion, Dion tidak berubah posisi dan terkena tembakan tepat di perut kirinya, namun bersamaan dengan itu, Gilang menembak Vero tepat salah satu titik vitalnya, Vero tak sadarkan diri seketika, Gilang mendekati Dion,
"Dion, kau baik-baik saja??" Gilang
"Iya," Dion
"Bagaimana dengan Riku??" Gilang
"Riku, dia hanya tertidur, aku mengganti peluruku dengan peluru bius, tapi tetap saja, mental Riku pasti ikut tertembak," Dion
Dion mendekat ke Riku dan menggendong Riku ala bridal style, saat Dion akan membawa Riku pergi,
"Dion, terimakasih untuk hari ini," Gilang
"Aku hanya melakukan kewajibanku menjadi Kakak Bunga, dan sekarang giliran kau yang melakukan kewajibanmu untuk melindungi dan mencintai Bunga adikku," Dion
"Pasti akan kulakukan. Dan Dion, hubunganmu dan Riku bukan sekedar sahabat kan? Kau mencintai Riku kan?" Gilang
"Ya, aku mencintai Riku, tapi negara ini dilarang menyukai sesama jenis, karena itu rahasiakan ini sebagai balas budi padaku, kau mengerti??" Dion
"Tentu saja," Gilang.