Serendipity Affection

Serendipity Affection
Ayah



"Gilang, terima kasih," Laras


.


.


.


Gilang balik memeluk Laras,


"Laras," Gilang


Gilang mencium Laras, ciuman yang lembut namun penuh nafsu,


"Gil- hmmpp," Laras


Gilang memperdalam ciumannya, bahkan Laras bisa merasakan rasa masakannya yang masih tersisa di mulut Gilang,


"Aku mencintaimu Laras," Gilang.


.


.


.


Sore harinya, Laras terbangun dari tidurnya, di ranjangnya yang hanya berukuran 100×200 cm, Laras melihat Gilang juga tidur sambil memeluknya, Laras teringat dengan kejadian sebelumnya, Laras memunggungi Gilang,


"Ya Tuhan, aku dan Gilang berbuat "itu" tadi, bagaimana jika terjadi sesuatu??" bathin Laras


"Laras," Gilang


"Ka-Kamu sudah bangun??" Laras


"Aku akan segera menikahimu," Gilang


"Tentu saja, kau memang harus segera menikahiku," Laras


"Kamu tau, ini adalah kali pertama dalam hidupku aku menyentuh wanita," Gilang


"Benarkah??" Laras


"Iya, jika kamu merasa aku tidak memuaskanmu, aku akan berlatih lebih giat lagi bersamamu Laras," Gilang


"Apa?? Tidak, tidak, sebelum kita menikah, kita tak boleh berhubungan intim lagi," Laras


"Baiklah, sesuai keinginanmu Sayangku," Gilang


"Gilang, aku juga mau minta maaf, karena aku pernah mengalami kecelakaan dan pada saat itu, aku juga kehilangan virginku, aku tak bisa memberikannya padamu, maafkan aku," Laras


"Tidak apa, aku mengerti Laras," Gilang


Gilang memeluk Laras dengan erat,


"Aku mencintaimu," Gilang


.


.


.


Malam harinya, Papa Bimo baru saja datang,


"Papa, Papa darimana saja hah?? Jam segini baru pulang," marah Laras


"Ahhh Papa habis meceki*," Papa Bimo


*sejenis judi di Bali


"Ugh!!! Papa ini, menang atau kalah??" Laras


"Menang 500, lumayan buat beli beras," Papa Bimo


"Eh Gilang gak dapat kesini??" Papa Bimo


"Udah pulang dia, kan Gilang gak boleh sampai malam disini," Laras


"Ya setidaknya ajak makan malam dulu. Oh ya, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan," Papa Bimo


"Maunya sih secepatnya, Papa aja yang nyari hari baiknya," Laras


"Baiklah, Papa akan minta tolong ke temen Papa cariin hari baik," Papa Bimo


Papa Bimo pun pergi.


.


.


.


Seminggu kemudian, Gilang mendatangi suatu tempat, sebuah Mansion yang amat luas, Gilang pun memasuki Mansion itu,


"Kau datang juga bocah tengik,"


"Ayah," Gilang


"Ibumu dirumah sakit dan kau asyik berduaan dengan seorang wanita miskin," Rehant


"Maafkan aku Ayah, tapi aku benar-benar mencintai Laras dan ingin menikahinya," Gilang


"Ayah tidak pernah melarangmu mencintai siapapun, tapi wanita itu- dia sudah meracunimu sehingga kau menjadi bodoh dan memilih keluar dari Keluarga Tama," Rehant


"Ayah, jika Laras sudah menerimaku sepenuhnya, aku akan menceritakan segalanya dan akan kembali jika Laras menginginkannya," Gilang


"Ahhh, kenapa aku bisa memiliki anak sebodoh dirimu, apa aku harus menghancurkan wanita itu baru kau mengerti Gilang," Rehant


"Ayah," Gilang


Gilang berlutut,


"Ayah, aku mencintai Laras, kumohon jangan lakukan itu, jika terjadi apa apa pada Laras karena diriku, aku akan ikut hancur bersama Laras, aku mohon mengertilah Ayah," Gilang


"Gilang, apa kau sudah lupa dengan tunangan masa kecilmu?? Kalian dulu sangat dekat, kenapa tidak kau nikahi dia saja," Rehant


"Aku hanya mencintai Laras, aku dan Zara hanya teman masa kecil dan tidak lebih," Gilang


"Ahhhh beruntung kau lahir di Keluarga Tama yang tidak membunuh orang tanpa alasan, jika di Keluarga Ningrat mungkin wanita bernama Laras itu bisa mati dengan tragis," ujar Rehant sambil memijat pelipisnya


Gilang berdiri,


"Ayah, untuk Keluarga Ningrat, jika suatu hari salah satu dari mereka membuat masalah didalam hubunganku dengan Laras, maka aku tidak akan diam saja," Gilang


"Ada apa??" Rehant curiga


"Pewaris Tunggal mereka menyukai Laras, dia berniat membunuhku jika aku tidak melepaskan Laras, tapi mungkin dia tidak tau kalau aku adalah- Killer Keluarga Tama," Gilang serius


"Gilang-" Rehant


"Ayah, jika Ayah ingin tau soal Laras, Ayah bisa menanyakan langsung padaku, Ayah tidak perlu membaca laporan apapun," Gilang


Gilang menatap sebuah map,


"Dan lagi satu, aku keluar dari Keluarga Tama adalah keputusanku sendiri, Ayah jangan coba coba untuk menyentuh Laras atau aku tidak akan segan lagi," Gilang serius


Gilang pergi, Rian datang,


"Kakak, anakmu benar benar keras kepala seperti Kakak," Rian


"Bagaimanapun juga, Gilang pasti akan menjadi Pewaris," Rehant


"Aku juga berharap, karena aku tidak mau berada dalam persetanan Keluarga Tama," Rian.