Serendipity Affection

Serendipity Affection
Vero 2



"...aku gak mau tau, kau harus menghabiskan ini, anggap saja ini permintaan sebagai kating," Vero


"Kakak, jangan seperti itu dong, itu namanya pemaksaan,"


.


.


Vero memincing,


"Memangnya siapa kau??" Vero


"Aku? Aku yang jelas adalah teman sekelas Laras, dan namaku adalah Nio," ujar Nio


"Terserah. Bunga, ambil ini dan makanlah," Vero


"Baiklah, makasih Kak- ah maksudku Vero," Laras


Vero ber"hn" lalu pergi,


"Eh Laras, kau punya hubungan sama Kating itu??" Nio


"Tentu saja gak ada, gak mungkinkan aku punya hubungan sama kating," Laras


Laras memakan pizza itu dan berbagi dengan Nio, tiba tiba salah satu teman cewek Laras datang,


"Laras, kau punya hubungan apa sama Kak Vero??"


"Ngak ada, beneran deh," Laras


"Bener??"


"Iya," Laras


Cewek itu pergi,


"Laras, berhati-hatilah, mulai sekarang pasti kau akan ditanyakan oleh semua orang. Kak Vero itu, termasuk paling terkenal, walau hanya ikut ukm pramuka, tapi Kak Vero itu multifungsi, dia tampan dan dari keluarga ningrat yang kaya, pasti banyak cewek yang demen, sekarang kau diperhatiin, kau bisa dapet banyak masalah," Nio


"I don't care, yang pasti aku gak mau pacaran dulu, pokoknya aku akan lulus dulu dan bekerja biar dapat banyak uang, jadi pas nikah nanti, aku akan tinggal jadi Nyonya aja," Laras


"Ya terserahmu dah," Nio.


.


.


.


Kebesokannya, Laras baru datang dan langsung banyak sekali yang menanyainya, Laras pun merasa lelah dengan itu. Saat sampai di kelasnya, Laras ke tempat duduknya yang biasa ia tempati, semuanya tak merasa aneh karena Laras selalu begitu.


Hingga seseorang datang, Laras yang tertidur merasa terkejut karena pipinya tiba tiba ada yang mencubit,


"Akhhh," Laras


Laras melihat siapa yang mencubitnya, namun Laras terlihat tak mengenali Vero,


"Kamu gak mengenaliku lagi?? Aku Vero," Vero mengingatkan


"Ah, aku ingat, jadi apa yang kau inginkan??" Laras


"Kamu bangun, ini kampus tempat buat kuliah dan bukannya tempat tidur," Vero


"Ya maaf," Laras


"Jadi ini yang namanya Bunga?? Hmm biasa aja ternyata," Riku


"??" Laras


Laras kembali tidur,


"Hei Bunga, bangunlah," Vero


"Apalagi sih, aku ngantuk," Laras


"Kau gak penasaran sama mereka berdua?" Vero


"Ngak," jawab cepat Laras


"Kau memang seperti rumor ya, judes dan tak tau caranya berteman," Dion


Dion pergi dan Riku mengejarnya, Vero pun juga ikut pergi,


Laras mengubur kepalanya di dalam tas dan menangis dalam diam,


"Mereka tak akan tau apa yang kurasakan dan kualami," bathin Laras.


.


Di kelas yang kosong, Dion marah marah sendiri,


"Ver, kau liatkan apa yang dilakukan cewek itu, dia bahkan gak perduli," Dion


"Bunga dia bukan cewek yang kayak kau pikirkan, dia bukannya judes atau apa, dia hanya tak ingin membebani dirinya karena penyakitnya," Vero


"Penyakit??" Dion


"Penyakit apa?? Semoga gak nular," Riku


"Bukan penyakit berbahaya dan masih bisa diobati, aku akan membuatnya terbebas dari penyakitnya," Vero


"Penyakit apa??" Dion


"Prosopagnosia, dia hanya bisa disembuhkan jika dia ingin bersosialisasi tapi sayangnya, Bunga gak ingin dan terlalu takut, itu terlihat jelas dari wajah dan tingkahnya. Aku bahkan sudah bertanya pada Kakak yang memimpin ukm yang Bunga pilih, dan jawaban mereka itu sama," Vero


"Bukannya penyakit itu hanya penyakit biasa, dia hanya gak bisa mengenali wajah orang," Riku


"Kebutaan wajah. Dion, kau pernah buta kan sebelumnya, jadi pikirkan betapa takutnya Bunga yang mengalami itu sejak kecil, jika dia broken home, maka habis sudah cewek itu," Vero


"Kasihan juga yak, gak ada yang mau deketin dia juga karena badannya dan juga sifatnya," Riku


"Aku mengerti. Aku harus minta maaf pada cewek itu," Dion


Dion pergi,


"Aku juga jadi ngerasa bersalah," Riku


Riku pergi dan diikuti oleh Vero, sampai di kelas Laras, ternyata dosen sudah mulai mengajar, dan membuat rencana mereka gagal.


.


.


.


3 bulan kemudian, ketiga cowok itu hanya bisa menatap Laras dari jauh karena Laras terlihat selalu terburu buru dan menghiraukan mereka bertiga, jika dipagi hari, mereka tak bisa karena kuliah mereka adalah kuliah malam.


Hingga suatu subuh hari, Vero dan Riku dipaksa bangun oleh Dion untuk kekampus, dengan gerbang kampus yang masih tertutup, Riku mengomel terus karena Dion memaksanya untuk ke kampus bahkan dosen saja belum datang satupun termasuk satpam yang berjaga,


"Hei Dion, aku gak mau tau, nanti harus traktir, jam segini coba kita kekampus, udah tau aku baru aja tidur gara gara ngegame, udah nanti yang ngajar dosen killer, mampus aku kalau ketiduran di kelas, kau ini bagaimana sih Dion, membuatku kesal setengah mati aja, menyebalkan, kau sangat menyebalkan Dion," Riku


Dion melemparkan segepok uang senilai hampir 1 juta,


"Ambil itu, diam dan ikuti perkataanku, kau jaga disini, aku dan Vero akan berjaga di gerbang keluar, jika Bunga datang, telepon kami," Dion


"Wahhh lumayan buat mabar, gini dong, kan impas. Okelah, kalian jaga disana, aku tak akan membiarkan Bungamu itu kabur kok," Riku