Serendipity Affection

Serendipity Affection
Kehamilan



Disisi lain, Laras sedang berada di Korea, menikmati hidup sebagai pengangguran kaya raya, Laras melakukan sedot lemak dan bahkan melakukan perawatan lainnya yang membuat Laras jauh lebih cantik dari sebelumnya.


.


.


.


3 bulan kemudian...


Zara pun hamil setelah Gilang diberikan obat perangsang oleh Sang Ibunya sendiri, Gilang merasa khawatir karena pernikahannya dengan Laras pasti akan kandas.


Saat Laras harus kembali karena dipanggil oleh Para Tetua, Gilang terkejut karena Laras jauh lebih cantik karena tubuh Laras yang putih bersih dan langsing walau pipi Laras masih cabi,


"Kakek, aku sudah kembali," Laras


"Bagus. Laras, kamu pasti sudah tau jika Zara hamil anak Gilang, karena itu tepati janjimu dan bercerailah dengan Gilang," Tetua 1


"Baiklah, dimana suratnya?? Biar aku tandatangan," Laras


Pelayan pun membawa dokumen perceraian, Laras pun menandatangan surat-surat itu, saat pelayan membawa surat itu ke Gilang, Gilang menatap surat itu, Gilang mengambil surat itu dan merobek surat perceraian itu.


Namun semua tidak terlalu terkejut karena sudah tau Gilang pasti akan merobek surat itu,


"Aku gak mau, aku gak mau bercerai," Gilang


"Ahhhh, kau benar-benar keras kepala," Laras


"Kakek, aku gak mau bercerai dari Laras, selamanya Laras akan menjadi istriku," Gilang


Gilang bangkit, meraih tangan Laras lalu pergi,


"Gilang sangat mencintai Laras, apa yang harus kita lakukan Ayah??" Rian


"Kita harus memisahkan mereka, wanita yang tak bisa melahirkan anak seorangpun tak pantas menjadi Bagian Keluarga Tama," Tetua 1.


.


.


.


Di kamar Laras, Gilang mendudukkan Laras di ranjang,


"Kamu memang mudah bilang tinggal tandatangan, tapi apa kamu pernah memikirkan aku sekali saja, aku sungguh mencintaimu tapi kamu malah membuat aku menikah dengan wanita lain," Gilang


"Lalu kau? Kau bagaimana?? Pernahkah kau merasa kecewa karena aku belum mengandung juga sampai saat ini??" Laras


"I-Itu, aku-" Gilang tercengang


"Kan, kau pasti pernah merasa kecewa, sedih, dan cemas, kau tidak bisa selamanya terus berakting. Aku itu S1 PGSD, aku terbiasa dengan banyak perasaan, dan aku diajarkan jika menahan perasaan, maka suatu saat emosi perasaan itu akan meledak dan hanya akan ada rasa sakit, aku tidak mau aku ataupun kau mengalami itu, karena itu, kita akhiri saja. Dalam sastra di Bali, aku memang ditakdirkan menikah lebih dari 1 kali, jadi aku tidak merasa akan kecewa, sedih, ataupun marah," Laras


"Tapi aku tidak bisa, aku- aku tidak bisa, aku mencintaimu, aku hanya menginginkan kamu Laras," Gilang


Laras menggeleng, "Aku sudah bilang, aku tidak percaya akan cinta," Laras


Rahang Gilang mengeras, "Pokoknya aku tidak mau bercerai darimu, selamanya kamu akan tetap menjadi istriku," Gilang


Gilang mencium bibir Laras dengan nafsu membara, Gilang pun memulai "permainan" sangat panas dengan Laras, Laras hanya bisa terdiam kesakitan karena Gilang melakukannya dengan kasar.


.


.


.


2 bulan kemudian, Gilang tak kunjung menandatangani surat cerai, Gilang malah menyekap Laras di dalam kamar yang membuat Para Tetua kerepotan sendiri.


Hingga Para Tetua menggunakan Papa Bimo untuk mengancam Gilang dan Laras, supaya setidaknya Gilang lebih menenangkan diri dan membicarakan semua baik-baik.


Melihat ancaman itu, Laras memaksa Gilang untuk melepaskannya, Laras terus menangis dan membuat Gilang tak tega, Gilang pun membuat kesepakatan dengan Para Tetua jika dirinya ingin satu kesempatan selama beberapa lama untuk bersama Laras.


Melihat keteguhan Gilang, Para Tetua luluh meski Laras sendiri sudah bilang tidak mau.


Pada akhirnya, Laras pun harus kembali menjadi istri Gilang, namun seperti sinetron, Laras hanya dianggap sebagai istri pertama yang jahat pada istri keduanya.


.


.


.


Disisi lain, seorang pria baru saja selesai mandi, di tengah gelapnya malam dan kamar remang-remang, pria itu bisa melihat foto cinta lamanya,


"Citra, aku kembali untukmu, kali ini, aku pasti akan menjadikan kamu sebagai milikku. Apapun yang terjadi, aku menginginkan kamu Larasati Bunga Sucitra," Lirih Pria itu