Serendipity Affection

Serendipity Affection
Sepupu



"...kenapa kau selalu saja menggangguku??" Gilang


"Tuan Muda tenanglah, Tuan Kedua Rian hanya ingin berbicara dengan anda," Butler


.


.


.


"Diam kau, kau kira aku tak tau kalau kau sebenarnya mata mata Paman yang mengawasiku," Gilang


"Gilang, sudahlah, aku datang kesini karena permintaan Ayahmu saja," Rian


"Mau siapapun aku tidak perduli. Sekarang pergilah," Gilang


"Ibumu sampai sekarang masih dirumah sakit setelah kau memberitau jika kau akan keluar dari Keluarga Tama, apa kau tak kasihan pada Keluargamu?" Rian


"Apa perduliku? Bukannya Keluarga Tama itu sangat membenciku karena aku adalah Pewaris Terakhir saat Ayahku mati, kau sendiri akan kehilangan segalanya jika aku menjadi Kepala Keluarga Tama," Gilang


"Dasar keras kepala. Apa aku harus menghabisi wanita bernama Laras itu supaya kau kembali?" Rian


"Aku akan menghancurkanmu dan Keluarga Tama jika kau berani melakukan itu," Gilang


"Kenapa kau tak mengerti Gilang?? Dengan kau menyerah menjadi Pewaris, aku harus maju sebagai Pewaris dan harus terikat dengan budaya Tama, aku tidak bisa bebas menikmati perempuan sesukaku lagi. Jadi kembalilah ke Keluarga Tama oke?" Rian


"Ogah. Kapan kau akan berubah Paman? Bermain dengan wanita j*lang di luar itu menjijikkan tau. Aku sudah berjanji kepada Laras untuk bersama Keluarganya jika aku ingin menikahinya, aku tidak bisa bilang jika aku masih memiliki Keluarga yang ada konflik di dalamnya," Gilang


"Bagaimana jika kau nikahi dia dan bawa keluarganya ke Mansion?? Itu akan mempermudah, lagian sejak awal kau sudah menipunya," Rian


"Laras bisa mengajukan cerai jika aku melakukan hal itu. Aku sudah diperingatkan bahkan sebelum kami menikah," Gilang


"Aisshhh kenapa kau harus tiba tiba jatuh cinta sih? Apalagi sama wanita yang mementingkan dirinya sendiri itu," Rian


"Paman mencela wanitaku lagi, aku akan benar benar menjahit mulutmu Paman. Oh ya, Paman tau sesuatu tentang Vero Raditya Ningrat?" Gilang


"Tentu saja, dia sepupumu. Tapi jangan pernah mengungkit ini lagi dimanapun oke?" Rian


"Se-Sepupu? Bagaimana bisa?" Gilang


'"Ahhh ini rahasia sebenarnya tapi- aku akan ceritakan. 30 tahun lalu, sebenarnya kau mempunyai seorang bibi bernama Vera, dia Kakakku dan adik Ayahmu saat kau belum lahir bahkan aku masih umur 15 tahun, Kak Vera yang baru berumur 17 tahun tiba tiba hamil dan saat itu baru terungkap jika Kak Vera mempunyai hubungan bersama Ayahnya Vero, sayangnya, keluarga kita bermusuhan dan Kakek Vero sangat membenci keluarga kita, mereka berdua diusir dari keluarga masing masing, namun karena suatu masalah hingga akhirnya mereka berdua mati dan Vero menjadi Pewaris Tunggal, " Rian


"Ternyata ada hal seperti itu di keluarga kita. Sudahlah, aku mau istirahat, Paman pulanglah," Gilang


"Jika Ayahmu yang gerak sendiri, aku tidak mau bertanggung jawab ya," Rian


Rian pergi,


"Menyerah mendapatkan Laras, mimpi saja sana," gerutu Gilang.


.


.


.


"Hallo," Gilang


"Jauhi Bunga,"


"Vero?" Gilang


"Ya, aku Vero, aku peringatkan kau harus jauhi Bunga, Bunga adalah milikku, jika kau tetap menikah dengan Bunga, aku akan membunuhmu," Vero


"Coba saja Sepupu, yang pasti aku tidak akan melepaskan Laras, apapun yang kau lakukan, aku akan tetap menjadikan Laras sebagai milikku," Gilang


Gilang menutup teleponnya,


"Cih, kenapa banyak sekali rintangan supaya aku mendapatkan cintaku," Gilang


Gilang melihat foto Laras yang ia jadikan wallpaper ponselnya,


"Bunga hanya milikku, tidak ada yang boleh memiliki Laras kecuali diriku," Gilang.


.


.


.


Siang harinya, Laras baru pulang kerja, Laras berganti baju dan menyiapkan makan siang serta memberi makan peliharaannya, dan saat Laras sedang menilai pr siswa sd, Gilang datang dengan bungkusan ditangannya, Gilang mendatangi kedua anjing Laras dan memberikan masing-masing sebuah roti, lalu Gilang mendatangi Laras,


"Hai sayang," Gilang


"Gilang, tumben tadi gak jemput??" Laras


"Maaf ya, aku sedang ada masalah kecil di kantor, sekarang udah terselesaikan kok. Oh ya, mana Papa Bimo??" Gilang


"Sejak kapan Papaku jadi Papamu juga??" Laras


"Aku gak mau kalah dari teman temanmu, mereka aja manggil Papamu dengan Papa, kenapa aku yang calon menantu masih manggil Om," Gilang


"Kamu cemburukah?? Hahaha kamu lucu ternyata kalau lagi cembuyu cembuyu," Laras


"Ugh, aku memang cemburu jangan menambah api deh. Jadi dimana Papa??" Gilang


"Papa lagi keluar setelah menjemputku dari sekolah," Laras


Gilang memeluk Laras dari belakang,


"Aku mencintaimu Laras," Gilang


"Aku tau," Laras


"Laras," Gilang


"Ya??" Laras


"Ayo kita cepat menikah," Gilang