Serendipity Affection

Serendipity Affection
Bertengkar



Ryu dan Vero cukup terkejut dengan keputusan Dion,


"Itu sudah cukup untukku," Gilang


.


.


.


Saat ketiga pria itu memilih pulang setelah memakan permen buatan Laras cukup banyak, di parkiran, Vero menatap Dion dengan serius,


"Kenapa kau mengenal pria itu??" Vero


"Dia anak dari keluarga yang keluargaku kenal baik, aku gak mungkin gak mempercayai Gilang, jika aku tau dari awal kalau Si Gilang itu-" Dion


"Siapa Gilang??" Vero


"Ya pokoknya ada aja deh, yang pasti semasih hubungan mereka akan baik baik tanpa campur tangan orang lain," Dion


"Kau menyetujui hal itu hanya karena nama Keluarga pria itu, kau sudah gila??" Vero


"Dan kau sendiri? Keluargamu seperti tanah liat yang dibentuk oleh Kakekmu, kecuali dihancurkan, keluargamu akan tetap seperti itu. Setelah aku tau kebenaran ini, aku berpikir jika Gilang memang yang terbaik untuk Bunga, kau bahkan tak berani mengungkap perasaanmu walau sudah bertahun tahun," Dion


Vero kesal dan meraih kerah Dion,


"Dion!!!" teriak Vero


"Apa? Kau ingin memukulku, walau kau membunuhku sekarang juga, aku akan tetap mendukung Gilang dan Bunga," Dion


"Hei hei, tenang kawan, kenapa kalian jadi bertengkar?? Sudah jangan bertengkar disini, jika Bunga tau, apa yang akan kita buat alasannya, kita pulang aja dulu kuy," Ryu


Ryu menarik kecil jaket Dion dan Vero,


"Kalian mendengarkan aku gak sih? Nyebelin deh, ayo," paksa Ryu


Ryu memaksa Dion masuk ke mobil mereka, lalu Ryu mendatangi Vero lagi,


"Ver, ikhlasin napa Bunga sama Gilang, lagian kan kau juga gak mungkin selamanya membiarkan Bunga jomblo untuk seumur hidup hanya untuk menunggu kepastianmu yang tak tau kapan pastinya," Ryu


Vero terdiam,


"Kau tau sendiri kan, Dion terlalu posesif sama Bunga, dan-" Ryu


"Hentikan!!" bentak Vero


Dion yang didalam mobil juga mendengar bentakan Vero,


"Hentikan, dari dulu kau selalu saja ada dipihak Dion, kau tak perlu menasehati diriku, aku bisa mengurus diriku sendiri," Vero


Vero menaiki motornya lalu pergi,


"Ahhh si Vero tetap menyebalkan," Ryu


"Jangan mengurus Vero lagi Rik, dia gak akan mendengarkan siapapun," Dion


"Ahhh aku harap ini gak kayak di novel, cinta segitiga, yang pemeran utama pria kedua yang melakukan segala cara sampai cara terkotor sekalipun buat mendapatkan pemeran utama wanita pertamanya," Ryu


"Bangunlah Riku, ini kehidupan nyata bukan novel, lagian novel genre kayak gitu udah lama punah, siapa yang akan membaca novel kuno seperti itu jika tidak ada nama member BTS atau Korea lainnya disebelah judulnya," Dion


"Ughh benar juga yak, udahlah puyeng juga, kita pulang aja deh, rasanya kepalaku bisa meledak karena pertengkaran kalian dan bentakan Vero tadi. Lagipula kenapa kau tadi seperti itu pada Vero, kau sengaja memancing kemarahan Vero," Ryu


"Hei Rikukanha, aku tak akan memulai api jika Vero tidak menambahkan arang, dan memang benar setelah aku berpikir lagi, aku tau fakta itu benar, Vero tidak cocok untuk Bunga. Bunga akan menderita jika bersama Vero, terutama di keluarganya," Dion


"Lalu Gilang??" Ryu


"Kau lupa Keluarga Tama??" Dion


"Ya aku agak ingat sih, tapi bukannya-" Ryu


"Setidaknya Keluarga Gilang tidak akan membunuh atau menyiksa Bunga jika mereka menikah," Dion


"Kalau gitu kau saja yang menikahi Bunga?? Keluargamu kan biasa saja kehidupannya," Ryu


"Kau mau mati hah?? Aku hanya menyukai Bunga sebagai Kakak angkat dan mantan katingnya, kalau perasaan cewek dan cowok, aku tidak menyukainya," Dion


"Pemilihan bahasamu jelek sekali, jika Bunga dengar dia bisa mengira kau hanya mengasihaninya saja, kau tau sendiri Bunga paling membenci orang yang mengasihaninya," Ryu


"Kau berani memberitahu, aku akan membuatmu tak bisa keluar dari kamarmu," Dion


"Kau memang jahat, udahlah ayo pulang," Ryu


Dion menjalankan mobilnya lalu pergi.


.


.


.


Di rumah Laras, Laras sudah selesai mandi dan melihat Gilang sedang sibuk menelepon di pojok rumahnya dan cukup jauh darinya,


"Gilang teleponan sama siapa ya??" lirih Laras


Saat Laras menjemur handuknya,


"Sudah kubilang aku gak mau!! Jangan hubungi aku lagi!!!" Teriak Gilang


Laras cukup terkejut karena dirinya tak pernah melihat Gilang marah sampai berteriak seperti itu, Gilang melihat Laras dan mengetahui jika Laras terkejut saat dia berteriak, Gilang mematikan teleponnya lalu pergi ke Laras,


"Laras, maaf membuatmu terkejut," Gilang


"Kamu kenapa berteriak?? Ada apa??" Laras