
"Ah baiklah, kau jangan murka sekarang. Kita pulang aja kuy, pulang-pulang," Ryu
Ryu pun memaksa Dion untuk pergi dari sekolah supaya tak membuat masalah disekolah.
.
.
.
Di rumah Laras, Papa Bimo kebetulan sedang keluar dan hanya mereka berdua di rumah, Laras yang belum berganti pakaian hanya duduk di ranjangnya dan melirik Gilang disisinya yang nampak diselimuti emosi,
"Gi-Gilang," panggil Laras perlahan
Gilang hanya diam,
"Gilang, aku-" Laras
"Aku tau, Vero menciummu kan," Gilang
Laras tersentak, Gilang melihat kissmark di leher Laras yang memang cukup tidak terlihat.
Gilang menjadi gelap mata dan menjatuhkan Laras ke ranjang, Gilang menindih Laras dan memberi kissmark disekujur leher Laras untuk menggantikan bekas Vero,
"Gilang, jangan-" Laras berusaha untuk melawan namun sia-sia
Setelah puas dileher Laras, Gilang mencium bibir Laras dan memangutnya dengan penuh nafsu,
"Aku mencintaimu Laras, dan kamu tau itu," Gilang
Laras diam karena mulut kembali dijamah oleh Gilang, Gilang semakin gencar menyentuh Laras, hingga akhirnya Gilang memulai percintaan panas mereka.
.
.
.
Sore harinya, Gilang terbangun dan melihat Laras tertidur dipelukannya,
"Tak seorang pun bisa merebutmu dariku," bathin Gilang
Gilang bangkit dan menyelimuti Laras, Gilangp pergi ke kamar mandi dan mandi lalu bersiap, saat sedang bercermin, Laras terbangun dan melihat Gilang sudah rapih,
"Gilang," panggil Laras
"Laras, kamu udah bangun?" Gilang
Gilang duduk disisi Laras yang masih tiduran,
"Iya. Hm, Gilang, masalah tadi-" Laras
"Aku tau, tapi aku percaya jika kamu tak akan berkhianat, Vero pasti yang memaksamu," Gilang
Laras mengangguk,
"Aku tidak tau jika Vero benar-benar punya perasaan padaku dan melakukan itu," Laras
Gilang tersenyum dan mengelus rambut Laras,
"Laras, sudah kubilang aku selalu mempercayaimu," Gilang
Gilang pun memeluk Laras dan memeluknya cukup erat, dan walau Gilang tersenyum dihadapan Laras, Gilang menunjukan wajah pembunuhnya dibelakang Laras,
"Siapapun yang mencoba merebutmu dariku, aku akan menghabisinya," bathin Gilang.
.
.
.
Disisi lainnya, Vero menatap dirinya di cermin, Vero tersenyum,
Ponsel Vero mendapat sebuah pesan, Vero membacanya dan tersenyum miring,
"Si brengsek ini pasti berencana membunuhku, sayang sekali, aku sudah mempunyai rencana," Vero dingin.
.
.
.
Disisi lain, di suatu kamar hotel, Ryu sedang berselimut dan Dion sedang bermain laptop,
"Ah, kau sudah menjadi guru tapi kenapa tetap menjalankan pewaris tahta kerajaan perusahaanmu Dion??" Ryu
"Mau bagaimana lagi, kau kira gaya hidupku cukup di puaskan dengan gajih guru, aku menjadi guru hanya untuk menemani Bunga saja, jika Bunga tidak menjadi guru lagi, maka aku juga tidak akan menjadi guru," Dion
"Bener juga yak, lagipula kau tidak mempunyai saudara lagi, sedangkan aku malah kebanyakan saudara sampai bingung mau milih yang sebagai pewaris. Diliat dari kemampuanku sih kayaknya aku gak bakal dipilih sebagai pewaris. Jika itu terjadi apa yang akan kulakukan ya?? Semua saudaraku kan membenciku karenamu Dion," Ryu
"Apa susahnya, kau terbiasa menginap dirumahku, ya sekalian saja kan disana tinggal," Dion
"Jika terlalu lama aku di rumahmu, bisa mati muda aku," Ryu
Ryu bangun dari ranjang,
"Akh punggungku sakit sekali. Dion, aku akan mandi, kau bersiap pulang sana, aku punya firasat buruk pada Vero," Ryu
"Walau Gilang membunuhnya sekalipun, kita tidak bisa ikut campur Rikukanha, Vero aja yang tak bisa menahan diri. Aku malah lebih khawatir sama Bunga," Dion
"Hm, kita ke rumah Bunga kuy, sekalian minta makan, aku lapar," Ryu
"Baiklah, sana cepat mandi," Dion
Ryu pergi ke kamar mandi, sedangkan Dion berubah menjadi serius,
"Cih, ini salahku juga karena membiarkan orang-orang psikopat dekat-dekat dengan Bunga," bathin Dion.
.
.
.
Malam harinya, Dion dan Ryu sudah datang ke rumah Laras, mereka duduk dihadapan Gilang yang masih disana,
"Dion, Ryu, ada apa kalian kemari tiba-tiba??" Laras
"Laras, bukannya di bikinin minum dulu malah ditanya gitu," Papa Bimo
"Hm, baiklah. Dion sama Ryu mau minum apa??" Laras
"Bunga, aku lapar, buatkan sesuatu boleh??" Ryu
"Baiklah, tunggu bentar ya," Laras
"Aku ikut masak ya," Ryu
"Baiklah, ayo," Laras
Mereka pun pergi, di dapur, Ryu menghaluskan pisang dengan garpu sesuai arahan Laras setelah dirasa cukup halus, Laras pun menambahkan gula dan tepung beras,
"Bunga, buat pisang goreng bukannya pakai tepung terigu ataupun tepung bumbunya??" Ryu
"Tepungku habis, hanya sisa ini, hasilnya enak banget kok, tungguin aja pas udah matang," Laras
Laras menambah tepung beras lalu menguleninya agar tak terlalu cair, setelah agak padat, Laras menggoreng adonan itu dan menunggu hingga matang, Laras mengangkat yang sudah matang, meniriskannya, lalu menggoreng adonan lainnya dan berulang sampai adonan habis, Ryu mengambil satu yang sudah matang lalu memakannya,
"Hmmmm enakkkk sekaliiii,. Oh ya, kentang ini gimana??" Ryu
"Bentar," Laras