
Gilang menjadi kesal dan langsung menarik pergi Laras secara paksa,
"Pfft bisa-bisanya drama ini semakin menarik," Azka
.
.
.
Dikamar Laras, Gilang melempar kasar Laras ke ranjang, Laras meringis dan terduduk takut,
"Sepertinya kau mulai memberontak ya Laras. Aku tau banyak yang menginginkan kita bercerai, aku juga tau kalau kau kecewa padaku bahkan sampai melupakan ingatan tentang kita, tapi tetap saja aku masih suamimu, kita masih sepasang suami-istri, kau tidak bisa berdekatan dengan pria manapun tanpa ijinku," Gilang
"Ck! Kau gak punya kaca ya?? Bukannya kau yang dekat dengan wanita lain bahkan menikah siri sampai wanita itu hamil, anggap saja aku yang dulu memang menyetujuinya, tapi apa kau tak pernah memikirkan perasaan asliku?? Aku bukan ciri khas orang yang senang berbagi milikku. Seandainya aku tidak bodoh karena menikahimu yang sudah menipuku, aku juga tidak akan sudi menikah denganmu," Laras
Gilang mengepal tangannya kuat menahan marah karena perkataan Laras, "Jadi kau menyesal menikah denganku?? Kalau begitu, aku akan membuatmu lebih menyesal karena aku tidak akan melepaskanmu. Kau jangan berharap meninggalkan kamarmu sebelum kau menyadari kesalahanmu," Gilang
Gilang pergi dan mengunci pintu kamar Laras dari luar.
.
.
.
Dikamar Dion dan Riku, Riku sedang bercermin dan menyisir rambutnya, sedangkan Dion seperti biasa sedang mengerjakan tugas kantor di laptopnya,
"Dari tadi aku tak melihat Bunga, kau melihat Bunga hari ini Riku??" Dion
"Hei, aku bahkan tidak keluar kamar dari pagi karena kelakukan kau," Riku mendengus kesal
BRAKKK!!!
Riku terkejut saat mendengar suara pintu terbanting, Riku dan Dion melihat Gilang datang mendekat dengan wajah marah.
Gilang dengan cepat langsung membuat Riku berdiri dengan kasar menarik kerah kaosnya,
"Berani sekali kau menghasut Laras supaya menjauhiku!!! Laras adalah istriku dan selamanya istriku!!!" Gilang
Dion yang terkejut memisahkan paksa Riku dari Gilang, Dion membawa Riku ke belakang punggungnya,
"Jangan sentuh Riku," Dion
"Sebaiknya kau menyingkir Dion!! Aku tidak ada urusan denganmu," Gilang
"Menurutmu jika kau mencoba menyakiti Riku aku akan membiarkannya??" Dion
Dion melirik ke Riku sedikit dengan tetap melindunginya,
"Aku tau jika Riku menghasut Bunga untuk menjauhimu dan memanfaatkan amnesia Bunga, aku sengaja membiarkan Riku melakukan itu supaya saat waktunya kau dan Bunga bercerai, Bunga tidak akan merasakan sakit," Dion
"Aku tidak akan pernah menceraikan Laras-" Gilang
"Omong kosong bangs*t!!! Sampai kapan kau akan mengatakan itu?!! Sampai kapan pula kau bisa menahan Perintah Tetua Keluarga Tama?? Istri keduamu sudah hamil dan tak lama akan melahirkan, kau kira istri yang sudah menjadi Ibu ingin suaminya memiliki istri lain?? Tentu saja tidak bangs*t!!! Sebaiknya kau cepat ceraikan Bunga dan biarkan Bunga hidup dengan bahagia bersama pria lain," Dion
Saat Gilang akan pergi,
"Dan kalian, sebaiknya kalian pergi dari rumahku, Keluarga Tama tidak menyambut tamu lagi," Gilang
Gilang pergi, Dion menghela nafas berat dan berbalik menatap Riku,
"Kau baik-baik saja kan Riku??" Dion
Riku mengangguk, "Ya. Tapi Dion memang ada baiknya jika kita pergi dari Mansion ini, Bunga pasti menginginkan kita tidak berurusan dengan Keluarga Tama yang berbahaya ini. Kita bisa menunggu dari luar saat Bunga diusir nanti," Riku
"Ahhh baiklah, ayo kita tinggalkan Mansion ini," Dion.
.
.
.
Kebesokannya, Dion dan Riku pergi dari Mansion Keluarga Tama tanpa berpamitan dengan Laras karena Gilang mengurung Laras dikamarnya.
Laras merasa sedih karena kedua pendukungnya telah pergi meninggalkannya dirumah besar yang ia tidak kenali orang-orangnya.
.
.
.
Saat Laras sudah boleh bebas, Laras hanya duduk diam dikamarnya, bahkan pelayan pribadi Laras harus selalu mengantarkan makanan untuk Laras.
Reika(Pelayan Pribadi Laras) merasa kasihan dengan calon mantan Nyonya yang hidupnya terombang-ambing karena Keluarga Tama.
.
.
.
Suatu hari, Laras sedang duduk diayunan seperti biasa, namun tiba-tiba Arina datang,
"Cih orang luar beraninya berkeliaran di Mansion Keluarga Tama, benar-benar tak tau malu," Arina
Laras terdiam tak perduli,
"Kenapa diam?? Oho, aku sempat dengar dari informan jika Ayahmu menjual dirinya sendiri supaya bisa mendapatkan banyak uang dari seorang janda mandul, mungkin karena itu Ayahmu dikutuk dan kau yang kena kutukan itu, malang sekali kau jal*ng," Arina mengejek Laras habis-habisan
Ocehan Arina terus berlanjut dan Laras hanya diam,
"Hei apa kau bisu? Ayahmu pasti bisu juga kan makanya anaknya bisu juga," Arina
Laras berdiri dan menghela nafas berat, "Sudah selesai bicara?? Boleh aku bicara sekarang??" Laras tenang
"Ya, memang apa yang bisa dibicarakan oleh jal-"