
"Huh, lain dimulut lain dihati, dalam cerita, kau itu pasti pemeran yang paling tersiksa tau," Laras
"Yaaaa tentu saja aku tersiksa, asalkan bersamamu, siksaan apapun ya terserah," Ujar Gilang lalu tersenyum.
.
.
.
"Gombalan kamu itu sangat memang maut ya, ya udah sini aku suapi," Laras
Laras menyuapi Gilang, Gilang pun merasakan cita rasa makanan rakyat di dalam kuah topokki itu,
"Hmmmm, ini walau gak pakai bumbu asli untuk topokki, tapi rasanya tetap enak, kamu memang Koki terbaik," Gilang
Gilang pun meminta disuapi lagi, dan mereka pun makan berdua persis seperti suami-istri yang saling mencintai.
.
.
.
Kebesokannya, Laras terbangun dan melihat Gilang sudah rapih dengan jasnya seperti biasa namun hanya berbeda kemewahannya saja,
"Sayang, kamu sudah bangun," Gilang
"Ugh, punggungku sakit, kau melakukannya semalaman, kau berniat membuatku hamil kah?? Kau memang menyebalkan," Laras
"Hehehehe, mumpung masih masa suburmu, aku harus secepatnya membuatmu mengandung, tapi jika aku jawab jujur, daripada cepat membuatmu hamil, alasanku lebih ke arah nikmat, jika bukan karena Paman menelepon terus untuk kekantor, aku ingin sekali melakukannya lagi denganmu. Aku harus melaporkan Paman ke Ayah karena mengganggu pembuatan Cucu Ayah," Gerutu Gilang
"Jika kau tak bekerja maka siapa yang akan mencari uang??? Sudahlah, nanti malam lagi lanjutin, kau bekerja sana, hush, hush," Laras
"Ahhh baiklah, aku mau 10 ronde lebih ya," Gilang
"Kau mau berangkat sekarang atau kupukul kau," Laras
Gilang pun bergegas pergi dengan tertawa kecil,
"Menantu Papa itu makin lama makin mesum," Laras
Laras pun bangun dan bersiap.
.
.
.
Siang harinya, Laras tak sengaja melihat foto Keluarga Gilang yang sangat besar,
"Wahhhh pantas saja Gilang sangat ganteng, Ibu dan Ayahnya saja punya wajah bangsawan pas muda," Laras
Laras teringat jika Ibunya Gilang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, Laras pun bertanya pada Reika yang mengikutinya selalu,
"Reika, aku mau bertanya sesuatu," Laras
"Siapa nama Ibu mertuaku??" Laras
"Nyonya Besar bernama Arina," Reika
"Ohhh, kata Gilang, Ibu sedang sakit??" Laras
"Benar Nyonya, Nyonya Besar jatuh sakit dan koma dari Tuan Gilang pergi meninggalkan Mansion sampai saat ini. Tapi Tuan Gilang sudah kembali, maka mungkin kesehatan Nyonya Besar akan cepat pulih," Reika
"Reika, aku ingin menjenguk Ibu Mertua, bisakah kau menyiapkan mobil untuk mengantarkan aku ketempat Ibu Mertua??" Laras
"Baik Nyonya," Reika
Reika pergi.
.
.
.
Setelah sampai depan kamar rawat Arina(Ibunda Gilang), Laras masuk kesana setelah berpikir sejenak, didalam ruangan, Laras melihat seorang wanita paruh baya sedang tertidur dengan beberapa alat ditubuhnya,
"Ibu, aku datang menjenguk," Laras
Hening.....
Laras pun mulai merawat Arina dengan telaten.
.
.
.
Siang harinya, Laras kembali ke Mansion, Laras melihat jika Papa Bimo sedang asyik menikmati alat pijat,
"Wah Wah, Papa sedang bersenang-senang ya," Laras
"Hehehe, kamu habis kemana??? Pagi-pagi udah ilang," Papa Bimo
"Aku habis jenguk Ibu Mertuaku. Papa, bagaimana menurut Papa tentang tinggal disini selamanya??" Laras
"Ngak mau, Papa gak bisa ninggalin rumah terlalu lama, lagian Papa kan besannya Pak Rehant, bagaimana mungkin 2 besan tinggal satu rumah. Dan juga, jika ada keretakan dalam hubungan kamu dan Gilang, maka dimana kamu akan pergi jika Papa masih disini," Papa Bimo
Laras menunduk, "Ya, Papa bener juga. Kalau begitu, aku akan sering bermain ke Bali jika Papa merindukan aku," Laras
"Nah begitu baru bagus," Papa Bimo
Papa Bimo menghela nafas sejenak, "Kakakmu sudah tiada dan Kakak Iparmu tidak ada guna. Jadi Papa berharap banyak dengan hubungan kamu dan Gilang, kamu mengerti maksud Papa kan Laras??" Sambung Papa Bimo
Laras mengangguk, "Iya, aku juga gak punya rencana menghancurkan hubungan suami-istri aku dan Gilang, Papa," Laras
Laras melihat ponselnya, dan mengetik sesuatu pesan, Papa Bimo pun ikut bermain ponsel,
"Laras, jika kamu sudah terbiasa disini, kurang dari 3 bulan pun Papa akan kembali ke Bali, Para Anjingmu sebaiknya Papa yang urus di Bali. Tugasmu hanya perlu menjadi menantu yang baik," Papa Bimo