
...setelah semuanya, mereka pun pergi dengan membawa kedua anjing kesayangan Laras.
.
.
.
Sampai di Jakarta, Papa Bimo maupun Laras terkejut karena Rian bilang hanya rumah kecil, namun ternyata rumah kecil yang dimaksud adalah sebuah Mansion yang sangat megah bagai istana.
Saat sampai di depan pintu Mansion, mereka keluar dari mobil dan para pelayan berderet menyambut Nyonya Muda mereka,
"Wahhhh, ini sangat besar," Papa Bimo
"Ini adalah Mansion Utama Keluarga Tama di Jakarta aku harap Laras dan Papa Bimo suka tinggal disini," Gilang
"Nah, Laras menantuku, ini Reika, kepala pelayan khusus untukmu, kamu bisa bertanya banyak hal padanya. Dan Besan, ini Mayent, kepala pelayan khusus untukmu, Besan bisa menyuruhnya untuk banyak hal," Rehant
Keduanya pun menunduk hormat,
"Rumah di Bali sudah sedang tahap renovasi, tanah yang dijual juga sudah dibeli lagi atas nama Pak Bimo karena itu saat Pak Bimo memilih tinggal di Bali, Pak Bimo bisa mengolah semua tanah yang terbeli itu untuk apapun," Rian
"EHHH??? TANAH YANG ITU?? Kenapa kalian membelinya??" Papa Bimo
"Itu- Karena itu kan Tanah Leluhur, seharusnya tidak dijual ke orang luar, kami walau terlihat modern, tapi kami tetap mendukung kebudayaan yang beragam di negara ini," Rian
"Gilang, kasih tunjuk kamar mertuamu dan kamar kalian pada istrimu, Ayah harus siap-siap pergi ke Perancis, Ibumu pasti juga akan senang melihat menantunya sudah datang," Rehant
"Baiklah Ayah," Gilang
"Besan, Laras menantuku, maaf tak bisa menemani kalian lebih lama, kesibukan bisnis mungkin akan membuat kita jarang bertemu," Rehant
"Ah tidak apa besan, kau sudah mengantar kami sampai sini itu sudah cukup," Papa Bimo
"Aku akan sangat menantikan untuk bermain catur dengan besan, kalau begitu aku pergi," Rehant
Rehant dan Rian pun pergi,
"Laras, Gilang, Papa akan pergi sendiri, kalian kekamar kalian saja sekarang," Papa Bimo
"Baiklah, jika ada apa-apa tanyakan pada Mayent saja Pah, Mayent memiliki peringkat pertama dalam ujian maid," Gilang
"Ah baiklah," Papa Bimo
"Tuan Bimo, saya akan tunjukkan jalan," Mayent
Mereka pun pergi,
"Reika, kau siapkan mobil untuk Nyonya, kita akan pergi berbelanja," Gilang
"EH?? Gak istirahat dulu??" Laras
"Daritadi wajahmu sangat khawatir, jika bukan kamu sendiri yang melihat kebutuhan Papa, pasti kamu akan tetap khawatir kan??" Gilang
Laras mengangguk,
"Kalau begitu, ayo kita pergi," Gilang
Tak lama, mobil pun datang dan mereka pun pergi.
.
.
.
Sampai di mall, Gilang membawa Laras ke sebuah toko pakaian pria,
"Laras, pilih saja yang mana yang kamu mau, toko ini adalah toko yang pakaiannya terbaik, jadi jangan ragukan kualitasnya," Gilang
"Hm, tapi-" Laras
"Pilih saja," Gilang
Laras pun bertanya pada pelayan dan meminta mencarikan baju ukuran Papa Bimo, para pelayan pun langsung menunjukan berbagai pakaian dengan ukuran yang sama,
"Gilang, coba liat, yang mana yang bagus??" Laras
"Hm?? Semuanya aja bungkus, Papa akan lama di Mansion, gak mungkin pakai pakaian yang sama kan. Pelayan, bungkus semua yang ukuran sama seperti yang diminta istriku dan kirim semua ke Mansion Keluarga Tama," Gilang
"Baik Tuan," Pelayan
Pelayan pergi,
"Gilang, itu terlalu banyak," Laras
"Ssttt, tak masalah, sekarang ayo cari dress untukmu," Gilang
"Di online saja bagaimana?? Disini pasti susah cari ukuranku," Laras
"Kata siapa?? Disini ada banyak, aku sudah memesan tempatnya selama di pesawat, jadi kamu bisa memilih yang kamu mau," Gilang
"Apa?" Laras
Gilang menarik Laras pergi, saat sampai di toko lain, mereka kembali disambut oleh pelayan,
"Lihat, lengkapkan?? Kamu pilihlah sesuka hatimu," Gilang
"Sungguh??" Laras
"Iya, saat Ibu sehat nanti, Ibu pasti akan mengajakmu keliling hanya untuk belanja jika tau kamu hanya punya sedikit pakaian," Gilang
"Ta-Tapi-" Laras
"Pilihlah, aku akan menunggu disini," ujar Gilang sambil duduk disofa disana
Laras pun terpaksa memilih pakaian yang menurutnya pas.
.
Setelah banyak berbelanja, mereka memilih untuk berkeliling mencari bahan masakan atas permintaan Laras.