
"Aku berniat menceritakan semuanya setelah menikah, tapi aku tak menyangka kamu mengetahui ini sendiri, maafkan aku Laras, aku meninggalkan perusahaan bahkan orangtuaku hanya demi dirimu Laras, aku sungguh mencintaimu Laras," lirih Gilang.
.
.
.
"Aku tidak tau harus mempercayaimu atau gak, dan juga, aku tak bisa percaya langsung padamu, kau bilang kau mencintaiku, tapi kenyataannya kau mempunyai janji menikah dengan seseorang bernama Zara," Laras
Gilang lebih terkejut,
"Bagaimana kamu bisa tau Laras?? Siapa yang mengatakannya??" Gilang
"Calon Istrimu sendiri, dia menceritakan segalanya padaku," Laras
"Laras, janji itu hanya bercandaan waktu aku kecil, tapi sekarang itu sudah hal yang berbeda," Gilang
"Tidak ada yang berbeda, hanya ada 2 kebenaran, kau membohongiku tentang identitasmu dan kau ternyata mempunyai janji menikah dengan wanita lain," Laras
"Laras, dengarkan aku-" Gilang
"Tidak mau. Sekarang bisakah kau pergi, aku sedang tak ingin melihatmu," Laras
Gilang menunduk lalu pergi, Laras pun menangis tanpa suara.
.
.
.
Tengah malamnya, Gilang datang ke suatu apartemen, Gilang terlihat sangat marah disana,
*ZARALISA!!!" Gilang membentak
"Wah wah lihat siapa yang datang, Gilangku, aku sudah lamaaa sekali menunggumu, aku sudah menyiapkan ranjang istimewa kita," goda Zara
Zara mencoba menyentuh Gilang, namun Gilang menghempaskan tangannya, Gilang melihat ke ranjang yang sudah dihias sedemikian rupa, namun Gilang malah menghancurkan semua yang ada di ranjang itu,
"Beraninya kau mengatakan segalanya pada Laras!!! Kau sungguh keterlaluan Zara!!" Gilang
"Gilang, kenapa kamu meneriaki aku hanya untuk wanita ****** yang egois itu, dia hanya akan memanfaatkanmu saja," Zara
"JANGAN MENYEBUT LARASKU DENGAN SEBUTAN ITU," Gilang lebih menaikan suaranya
Gilang mencengkram kerah dress Zara,
"Jangan berani kau mengganggu Larasku, janji itu hanya candaan kita waktu kecil, aku tidak akan pernah mengampunimu jika kau mengganggu Larasku, mau itu kau, keluargamu, ataupun siapapun, aku akan menghancurkannya," Gilang
Gilang menghempaskan Zara ke lantai hingga kepala Zara terbentur dinding,
Gilang pergi, Zara menjadi marah, Zara menghancurkan apapun disana,
"SIAL!!! Gara-gara si wanita itu Gilang menjadi menjauhiku, dasar pelakor!! Lihat saja, aku akan mendapatkan Gilang dan menghancurkan Si wanita **"""" itu," Zara marah.
.
.
.
Kebesokan subuh harinya, Laras terbangun dan pergi keluar kamarnya langsung, Laras melihat Gilang sedang menyiapkan segalanya,
"Laras, aku sudah membersihkan kandang Div dan Devot, aku juga sudah menyiapkan untuk banten Papa, kamu mau aku siapkan sarapan??" Gilang
Laras hanya diam, dan itu membuat Papa Bimo bingung,
"Laras, Gilang bertanya padamu tuh, jangan kacangi suamimu seperti itu," Papa Bimo
"Hm tak apa Papa, mungkin Laras sedikit mengantuk," Gilang
"Ya baiklah. Oh ya, Papa akan pergi ke Yayasan, kamu mau ikut Gilang??' tawar Papa Bimo
"Ah hari ini aku gak bisa Pah, aku ada kerjaan dikantorku," Gilang
"Ya baiklah, pekerjaanmu lebih penting, kalau gitu Papa pergi dulu, Laras kamu jangan terlalu merepotkan suamimu, bantu-bantu Gilang juga," Papa Bimo
Laras tetap diam, dan Papa Bimo pun pergi, Gilang mendekat ke Laras,
"Laras," Gilang
"Aku sudah memutuskan apa yang harus kau lakukan Gilang," Laras
"Apa- Apa maksudmu Laras??" Gilang
"Aku sudah tak menjadi seorang guru lagi, dan keuangan kita bisa menjadi buruk jika kau tetap bersembunyi didalam kepalsuanmu, karena itu, aku mau kau kembali ke keluargamu," Laras
"Apa?! Itu sama saja kita bercerai Laras, aku gak mau berpisah denganmu," Gilang
"Aku belum selesai bicara. Aku mau kau kembali ke Keluargamu, aku dan Papa juga akan ikut pergi ke rumahmu, dengan seperti itu Papa bisa mendapatkan pelayanan 24 jam dari pelayan di rumahmu kan," Laras
"Iya, itu benar, tapi apa yang harus kukatakan pada Papa, ngak mungkin aku bilang selama ini aku berbohong," Gilang
"Itu urusanmu untuk menyakinkan Papa," Laras
"Ah baiklah. Jika aku berhasil, kita akan ke Jakarta dan menjadi keluarga besar yang bahagia, Keluargaku tidak seperti kolongmerat biasanya, Keluargaku selalu menerima jodoh yang dipilih oleh keturunannya, Ayah dan Ibuku pasti senang menantunya datang," Gilang
"Aku harap mereka seperti itu, aku tidak pernah berharap mempunyai mertua karena tak bisa berkomunikasi," Laras
"Aku akan selalu ada disisimu Laras, walau aku berbohong tentang latar belakangku, aku tak akan pernah berbohong akan perasaanku," Gilang