Serendipity Affection

Serendipity Affection
Incar



"Bunga, kamu hanya milikku, hanya milikku," Vero.


.


.


.


Sore harinya, saat Laras baru selesai mandi dan melihat Gilang masih tidur di ranjangnya, tiba tiba ponsel Laras berdering, Laras pun mengangkat teleponnya,


"Hallo Vero," Laras


Gilang membuka matanya saat Laras menyebut nama Vero,


"Bunga, aku sudah mendapatkan pekerjaan untuknya di sekolah, dia akan bekerja sebagai Kepala Staff, aku sudah mengirim filenya ke kamu, nanti kamu kirim saja ke temanmu itu, dan mulai besok sudah bisa masuk kerja," Vero


"Benarkah?? Wah makasih Vero, kamu benar-benar yang terbaik," Laras


"Aku kan memang pria yang paling terbaik. Sudahlah, aku ada urusan lain, sampai jumpa besok," Vero


"Hm iya," Laras


Laras menutup ponselnya, Laras terkejut melihat Gilang yang sudah terbangun,


"Gilang, kamu kapan bangun??" Laras


"Sejak kamu menelepon, siapa itu? Vero?" Gilang


"Iya, dia udah dapat pekerjaan untuk Daisy, padahal cari kerja dijaman sekarang susah banget ya kan?" Laras


"Kalau punya skill bisa aja mudah. Sudahlah, sekarang aku lapar, Laras, berikan aku makan," rengek Gilang


"Kamu bukan anak kecil Gilang," Laras


"Ayolah, beri aku makan," Gilang


"Baiklah, aku memasak nasi goreng untukmu," Laras


Laras pergi dan raut wajah Gilang berubah bengis,


"Vero, beraninya kau masih berhubungan dengan Larasku," bathin Gilang.


.


.


.


Kebesokannya, Gilang sedang berada di sebuah ruangan di salah satu, bangunan tertinggi di Bali,


"Ahhh jika Laras tau apa pekerjaanku sebenarnya dia pasti akan marah, aku mengaku adalah pegawai biasa disini, tapi yang sebenarnya adalah Direktur Utama disini," Gilang


Pintu terbuka dengan tiba-tiba,


"Paman, bisakah Paman mengetuk pintu dulu saat masuk," Gilang


Rian duduk di sofa tanpa memperdulikan perkataan Gilang,


"Gilang," Rian


"Apa??" Gilang dingin


"Kau gak mau jadi CEO disini??" Rian


"Gak," Gilang ketus


"Ugh, jawabanmu cepat sekali. Hm, kau mau menikah dengan Laras??" Rian


"Iya," Gilang riang


"Ya ampun, kau bahkan tersenyum," Rian


"Paman, kau tak pernah jatuh cinta karena itu kau gak tau," Gilang


"Gilang, jika suatu hari, Laras yang menyelingkuhimu gimana??" Rian


"Tidak mungkin, Laras, dia sangat setia, jika suatu hari aku kedapatan Laras sedang tidur dengan pria lain, itu terjadi pasti karena jebakan," Gilang


"Kau tak perduli walau sudah membuat Ayahmu marah, yahhh mau digimanakan lagi," Rian


"Aku harus jemput Larasku dulu, aku akan kembali nanti sore," Gilang


"Ya terserahlah," Rian


Gilang pergi.


.


.


.


Sampai sekolah Laras, Gilang melihat Laras sedang mengobrol ria bersama Dion, Riku, dan Vero, Gilang pun mendekat ke mereka,


"Laras," Gilang


"Gilang," Laras


"Kau tepat waktu Gilang, kami akan mengajak Bunga makan, kau mau ikut??' Riku


"Gak, thanks, aku dan Laras masih ada urusan lain," Gilang


"Huh?? Urusan lain??" Laras


"Kamu lupa? Kita harus memilih dekorasi pernikahan kita, kamu juga belum memilih undangan," Gilang


"Oh iya, aku hampir lupa. Dion, Ryu, Vero, aku gak jadi pergi ya, aku masih ada kesibukan, gak apa kan??" Laras


"Ahhh baiklah, Bunga, jika kamu perlu sesuatu, jangan ragu meminta pada kami ya," Dion


Laras mengangguk,


"Iya, makasih Dion, kalau gitu aku pergi duluan yaa, bye," Laras


"Baiklah, sampai besok Bunga, kalau udah siap semuanya jangan lupa undangan untuk kami,"


"Baiklah Ryu. Dion, Vero, bye," Laras


"Hm bye Nga," Dion


Laras dan Gilang pergi, namun saat Vero akan pergi, Dion menahannya,


"Jangan ganggu mereka Ver," Dion


"Aku hanya ingin pulang," Vero


"Kau kira aku akan percaya?? Sebaiknya kita ke Dps dan pergi ke bar, kita sudah lama gak minum kan?" Dion


"Ah aku setuju," Riku


"Aku gak ikut," Vero


Vero melepaskan tahanan Dion lalu pergi,


"Dion, kau harus melakukan sesuatu kalau gak Vero akan gelap mata, bentar lagi Bunga menikah dan pastinya Vero akan lebih mengincar Gilang untuk membunuhnya," Riku


"Rikukanha, kau tidak mengenal Gilang sama sekali, dia sebenarnya bukanlah orang biasa," Dion


"Lah?? Dia superhiro?? Takahiro kah??" Riku


"Ck bukan itu Rikukanha, Gilang, dia banyak menyimpan rahasia, satu terbongkar maka semua akan selesai," Dion


"Eh?? Kalau gitu kenapa kau mendukung Bunga dengan Gilang??" Riku


"Itu karena walau terbongkar jika Bunga menginginkan Gilang maka semua akan baik-baik saja, tapi jika Bunga tidak ingin, maka- Gilang akan selesai," ujar Dion dengan menekan di akhir kalimatnya


Riku bergidik ngeri,


"Kau menakutkan Dion," Riku


"Sudahlah, ayo pulang, aku lelah sekali," Dion


"Baiklah, aku yang akan menyupir kali ini," Riku


Mereka pun pergi.