
"...dia sangat tampan, aku jadi tak bisa menolak lamarannya itu," Laras
"Ahhh jika kamu sudah terpikat sama wajah, maka kamu tak akan bisa diubah," Vero.
.
.
.
Saat sekolah selesai, Laras ketiduran di ruang guru karena jam terakhir tidak mengajar, 3 pria tampan yang masih menemani Laras,
"Hoammmmm aku ngantuk. Oi Dion, jam berapa sekarang?" Ryu
"Hmmm, sekarang jam 3 lebih 1 menit," Dion
"Udah hampir 2 jam kita disini. Kita bangunin Bunga aja kuy," Ryu
"Biarkan Bunga tidur, sepertinya dia sangat lelah," Dion
"Dion, bangunkan Bunga, aku akan mengantarnya pulang," Vero
"Kenapa gak kau saja sendiri yang bangunin Bunga??" Dion
"Ver, kau cemburu ya??" Ryu
"??" Vero bingung, "Cemburu??" sambung Vero
"Iya, terlihat jelas njirrr, kau kan pindah kampus waktu itu untuk mencari perlarian, tapi malah jadi kepicut sama Bunga," Ryu
"Diam kau Riku," Vero
"Rik, jangan ganggu Vero, dia ngamuk bahaya nanti," Dion
"Ya ya, kau benar Di. Vero, kau harus cepat ngelamar Bunga, nanti keburu diambil orang," Ryu
"Rikukanha, kau juga jangan mengubur perasaanmu saja," Vero
"Vero Raditya, aku sudah melakukannya sejak lama, aku sudah puas dengan itu, nah kau gak puas puas membohongi perasaan dirimu sendiri, kau itu guru Vero, kau harus bisa memberikan contoh yang baik untuk para pecinta yang bertepuk sebelah tangan," Ryu
"Kurang aja kau Rik. Dion cepat bangunkan Bunga," Vero kesal
Telepon Laras berbunyi, Vero mengangkat telepon dari kontak bernama ๐ฅฐGilang๐ฅฐ,
"Hallo," Vero
"Kau siapa?? Mana Laras??" Gilang
"Kau yang menelepon kau yang harusnya memperkenalkan diri. Bunga sedang tidur dan tidak bisa diganggu," Vero
"Ini nomor Larasku kan?? Kenapa kau bilang Bunga??" Gilang
"Nama Bunga itu adalah Larasati Bunga Sucitra, dan aku memanggilnya Bunga, memang kau siapa sebenarnya??" Vero
"Aku adalah calon suaminya Laras, namaku Gilang," Gilang
"Khe, kau mengaku sebagai calon suaminya Bunga tapi kau bahkan tak tau nama panjang Bunga," Vero
"Apa itu sebuah masalah besar?? Cepat bangunkan Laras dan bilang aku menunggunya di luar untuk menjemputnya," Gilang
"Kalau aku gak mau, kau mau apa hah?? Kau orang baru belum pantas untuk Bungaku," Vero
"Hoammmmm,"
Gilang mendengar suara Laras menguap,
"Eh itu Laras, berikan ponselnya ke Laras," Gilang
Vero memberikan ponselnya ke Laras,
"Bunga, ini ada telepon, dari Gila katanya," Vero
"!!!" sontak Gilang yang mendengarnya
"Huh?? Namanya Gilang, kamu jangan ubah-ubah nama," Laras
Laras mendekatkan teleponnya ke telinga
"Hallo Gilang," suara Laras khas baru bangun tidur
"Hallo Laras, kamu udah pulang kerja??" Gilang
"Iya, udah daritadi, tapi aku ketiduran di ruang guru," Laras
"Berarti kamu masih di sekolah??" Gilang
"Hm iya," Laras
"Kebetulan aku lagi di depan sekolahmu, aku ingin menjemputmu," Gilang
"Benarkah???" sontak Laras
"Iya," Gilang
"Baiklah, aku akan segera keluar," Laras
Laras mematikan teleponnya,
"Kalian gak pulang??" tanya Laras ke ketiga teman prianya
"Aku mau nyari wifi dulu," Ryu
"Aku masih meriksa tugas anak anak," Dion
"Aku akan pulang sekarang," Vero
"Baiklah, kita jalan barang aja keluar," Laras
"Udah lama nunggu??" Laras
"Yaaa ngak terlalu sih," Gilang
Gilang melihat seorang pria yang mendekat,
"Bunga, ini daftar nilai yang kamu minta, aku hampir kelupaan," Vero
"Oh iya, makasih Ver," Laras
"Jadi ini tunanganmu??" Vero
"Iya, kenalkan ini tunanganku namanya Gilang. Gilang, ini Kakak Kelasku waktu kuliah, namanya Vero," Laras
Keduanya terdiam,
"??" Laras bingung, "Kalian gak mau salaman??" Laras
"Aku harus pergi sekarang," Vero
Vero pergi,
"Kalian berapa semester bedanya??" Gilang
"Hmmm, mungkin 4 semester, kamu tau, Vero juga yang menyarankan di SD ini untuk praktek dan aku bisa bekerja disini, bisa dibilang Vero itu malaikat tak bersayap untukku," Laras
"Kenapa kamu gak manggil dia Kakak?" Gilang
"Dia ogah banget di panggil Kakak, jadi aku manggil Vero aja," Laras
"Lalu kenapa dia memanggilmu dengan Bunga??" Gilang
"Ahhh, kamu sudah seperti wartawan, banyak sekali pertanyaanmu itu, namaku kan Larasati Bunga Sucitra, nama Laras itu untuk sifatku yang antagonis dan Bunga untuk sifatku yang protagonis," Laras
"Maksudnya??" Gilang
"Dulu, waktu kuliah ngejar S1 PGSD, baru semester 1 aku sudah dibilang jahat karena gak pernah respon grup kelas, tapi bukannya gak sengaja gak direspon, aku harus ngurus Papa, rumah, dan para hewani di rumahku, ditambah kuliah dan Kakak perempuanku yang taunya mintaaa aja, gimana lagi aku menghadapi itu semua, aku main hp 5 menit sambil rebahan aja aku udah dibilang males sama Papa, makanya aku dibilang antagonis yang bernama Laras," jelas Laras
"Lalu Bunga??" Gilang
"Itu nama protagonisku, setelah lamban laun, setelah semester 1,2,3 keatas, semua orang baru mengenalku baik, ya termasuk Vero, ada juga kedua temannya namanya Rikukanha dan Dion, mereka bertiga memanggilku dengan Bunga," Laras
"Kenapa??" Gilang
"Entahlah, tapi ada rumor kalau Vero menyukaiku, bukannya aku ge'er, aku sih gak percaya, aku hanya menyukai Vero sebagai teman kerja dan mantan Kakak tingkatku," Laras
"Benarkah??" Gilang
"Kalau gak percaya ya terserahmu," Laras
Gilang sempat berpikir,
"Hei, kita jadi pulang gak??" Laras
"Ah baiklah," Gilang
Laras naik ke motor Gilang dan mereka pun pergi.
.
.
.
Sampai rumah Laras, rumah sedang kosong karena Papa Bimo pergi entah kemana, Laras pun berganti baju dan langsung pergi ke dapur, Gilang pun mengikuti Laras ke dapur,
"Ras, kayaknya, Vero yang menyukaimu itu benar apa adanya," Gilang
"Itu gak mungkin, aku gak percaya hal itu, aku lebih percaya jika aku menikah tua daripada Vero yang menyukaiku," Laras
"Tapi jika benar?" Gilang
Laras menatap Gilang,
"Yaaa aku tinggal pilih, aku akan menikahimu atau menikahi Vero," Laras
"๐๐๐, aku sedang tak bercanda," Gilang
Gilang memeluk Laras dari belakang dan menciumi telinga belakang Laras,
"Aku yang pertama melamar dirimu Laras, jadi aku yang harus memilikimu," Gilang
"Yahh aku tau itu, jadi lepaskan aku, aku sedang akan memasak nih," Laras
"Baiklah," Gilang.
.
.
.
Di sebuah rumah yang cukup mewah, tepatnya di suatu kamar yang benar benar mewah, Vero sedang meminum alkohol sampai dirinya mabuk berat,
"Ahhh, 3 tahun Ras, 3 tahun aku mengejarmu, tapi kenapa kamu tak pernah melihatku sebagai pria, kenapa kamu selalu melihatku sebagai Kakak Kelasmu," racau Vero
Vero membanting salah satu botol alkoholnya sampai hancur lebur sebagai rasa kekesalannya,
"Kamu sudah mempunyai tunangan hah, sayangnya aku yang akan menikahimu, tunanganmu itu tak berarti apa-apa bagiku," Vero
Vero menelepon seseorang,
"Hallo. Aku mempunyai sebuah tugas untukmu," Vero.