
"...,tapi dia akan menikah dengan penerus terakhir Keluarga Tama. Aku tidak akan membiarkan," Vero
.
.
.
Kakek Azhant menatap cucu semata wayangnya,
"Siapa gadis itu??" Kakek Azhant
"Kakek gak perlu tau, Kakek setuju atau gak setuju, aku akan tetap menikahinya dan memilikinya," Vero
Saat Vero akan pergi,
"Kau akan kemana lagi??" Kakek Azhant
"Aku akan merebut wanitaku lagi," Vero
"Apa wanita bernama Laras itu, kalau tidak salah kau memanggil wanita itu dengan Bunga kan? Ahhh apa yang spesial dari wanita miskin itu, dia bahkan menjual semua perhiasan ibu kandungnya-" Kakek Azhant
"Dan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari," potong Vero
"Kau benar-benar gila karena cinta ya. Kakek akan membantumu tapi dengan 1 syarat," Kakek Azhant
"Apa??" Vero
"Kau harus mau kembali dan menjadi pewaris, Kakek tidak mau kau terus selamanya menjadi pengangguran kaya yang hanya seorang guru sd," Kakek Azhant
"Kakek akan melakukan itu?? Kakek akan membantuku??" Vero
"Iya," Kakek Azhant
Vero tersenyum, "Sayangnya aku gak akan membiarkan Kakek membunuh Bungaku seperti Kakek membunuh Ibuku setelah memberikanku harapan palsu dan bantuan menyedihkan," Vero
Kakek Azhant tercengang,
"Khe, aku tidak sebodoh Papaku yang mempercayai pembunuh istrinya dan yang juga membunuh dirinya," Vero
Vero pergi,
"Anak kurang ajar," Azhant.
.
.
.
Hari minggu kemudian, Laras dan Gilang pun pergi ke pantai pada pagi hari, saat sampai pantai kuta,
"Wahhh udah lama banget gak ke pantai," Laras
"Laras," Gilang
"Hm?" Laras
"Kamu sudah mengatakan itu ribuan kali, kau tak bosan kah?" Laras
"Tidak," Gilang
"Oh ya Gilang, Papa sudah menyetujui dengan serius pernikahan kita," Laras
"Benarkah?? Berarti kita harus cepat bertunangan dan menikah, aku tak sabar untuk bersamamu," Gilang
"Tapi- Gilang, kamu serius menikahiku??" Laras
"Saat ujian masuk UI pun aku tak pernah seserius ini, sungguh," Gilang
"Kamu anak yatim-piatu, itu setengah alasan aku mau menerimamu," Laras
"Aku mau tau kenapa kamu tidak menginginkan memiliki mertua? Dan kamu juga menginginkan seorang suami yang tinggal bersamamu? Kamu kenapa menginginkan hal itu??" Gilang
"Aku tidak suka jika suamiku nanti menanyakan rencanaku karena tak mempercayaiku," Laras
"Aku- Aku tidak bermaksud-" Gilang
"Sudahlah, kamu juga belum menjadi suamiku, aku akan memberitau. Aku takut jika aku salah menikahi pria, jika yang akan aku nikahi itu miskin dan memiliki orang tua, aku akan menderita kemiskinan lagi. Jika yang aku nikahi seorang pria dari keluarga besar yang kaya raya dengan keluarga lengkap, aku dan Papa bisa bahaya dan bisa saja ditindas, karena itu, aku mencari pria yatim-piatu yang tak mempunyai keluarga maupun kerabat dan dia harus seseorang yang setidaknya bisa menghidupiku dan Papa," Laras
Gilang terdiam,
"Gilang, kau terlihat seperti anak keluarga kaya, kau tak membohongiku kan dengan mengatakan kau yatim-piatu supaya aku menikahmu? Jika kau membohongiku saat kita udah menikah sekalipun, aku akan menjauh darimu dan menganggapmu tak pernah menjadi suamiku, dalam kata lain, aku akan membencimu," Laras
Gilang nampak terkejut dan menatap Laras,
"Aku tidak membohongimu, sungguh," Gilang
"Aku hanya memperingatkanmu saja. Jikalau Vero benar menyukaiku, aku akan menolaknya karena keluarga Vero sangat keji pada orang miskin sepertiku, jika Vero yatim-piatu, mungkin Vero kandidat terkuat untukmu," Laras
"Untungnya dia masih memiliki keluarga, aku pemenangnya secara tak langsung, aku memang ditakdirkan untuk memilikimu Laras," Gilang
Gilang mencium Laras dengan lembut, pangutan yang lembut membuat Laras terbuai, tanpa disadari Vero melihat mereka berciuman dari kejauhan,
"Aku akan membunuhmu Gilang," Vero.
.
.
.
Malam harinya, Gilang sampai di sebuah mansion yang sangat besar, Gilang memarkir motornya dan masuk ke dalam mansion, didalam, Gilang melihat ada seseorang duduk di ruang tamu,
"Kau benar benar menyebalkan," Gilang
"Tuan Muda-" Butler
Gilang mendekat ke seorang pria yang agak lebih tua darinya,
"Paman, aku gak pernah mengganggumu, aku bahkan melepas warisanku untukmu, tapi kenapa kau selalu saja menggangguku??" Gilang
"Tuan Muda tenanglah, Tuan Kedua Rian hanya ingin berbicara dengan anda," Butler