Serendipity Affection

Serendipity Affection
Tolakan Camer



"Yahhh gosong," gerutu Laras


"Gak papa, kayaknya sayur buatanmu lezat, ini kayaknya pakai gula merah ya?" Gilang


.


.


.


"Kok tau??" Laras


"Hehehe, aku liat ada banyak gula merah di luar, aku hanya asal nebak😁," Gilang


"Oh, tapi aku gak yakin sama rasanya," Laras


Gilang mengambil sendok dan mencicipinya, Gilang memakan buncis dan dagingnya,


"Enak, tapi kalau dimakan pakai nasi dan saat panas, pasti tambah enak. Laras, aku mau itu," Gilang


"Baiklah," Laras


Laras memanaskan lagi masakannya yang mulai mendingin, namun Gilang tiba tiba mencium pipi Laras, Laras sontak menghadap Gilang yang dibelakangnya,


"Gilangggggg!!!!" Laras


"Siapa suruh pipimu cabi begitu, aku kan gemas," ujar Gilang sambil mencubit kedua pipi Laras dengan gemas


Gilang mencium bibir Laras beberapa kali dan juga mencoba memakan pipi bulat Laras,


"Gilangggggg hentikan," Laras


Laras menjauhkan Gilang,


"Dari kemarin kamu udah menciumku berapa kali hah, menyebalkan sekali," Laras


"Kalau dihitung mungkin sudah 10 kali aku menciummu dari sejak kita bertemu," Gilang


"Dan kau bangga dengan itu?? Pipiku juga jadi penuh air liur. Ahhh sudahlah ini sudah hangat, ayo makan," Laras


Laras pun mengambil sayur secukupnya lalu pergi ke dalam rumah dan mengambilkan nasi untuk Gilang, Gilang sendiri mengikuti Laras seperti anak ayam, saat Gilang sudah duduk di meja makan dan bersiap makan,


"Laras, tanganku sakit sekali nih, bisakah kamu menyuapiku??" Gilang


"Apa? Tidak mau, kamu saja sendiri," Laras


"Tanganku kan sakit digigit kedua anjingmu tadi, ayolah suapi aku, a," Gilang


"Dasar bayi," Laras


Laras pun menyuapi Gilang, Gilang tersenyum manis,


"Aku sangat gak suka manis sih, tapi Laras suka manis, aku harus menghabiskannya," Gilang membathin


Setelah selesai makan, Laras menaruh piring di meja samping tempat tidurnya,


"Sekarang kamu pergi ya," Laras


"Kenapa?? Aku gak mau ah," Gilang


"Papaku akan pulang nanti, aku gak-"


"Wahhh Papa Mertua akan pulang?? Hebat, aku akan langsung meminta restu Papa supaya kita bisa cepat menikah," potong Gilang dengan girang


"Aku masih waras kok, karena itu aku ingin meminta restu Papa mertua," Gilang


"Tapi aku belum menerima lamaranmu, aku belum ingin menikah," Laras


"Kenapa lagi?? Aku kan sudah berteman dengan Div Depot," Gilang


"Aku belum punya tabungan, bahkan aku baru diangkat menjadi guru tetap beberapa minggu lalu, dan aku ingin saat sudah menikah, aku fokus dengan keluarga dan anakku saja," Laras


Gilang nampak murung, tiba tiba ada yang menepuk pundak Laras,


"Jangan seperti itu,"


"Engh- Papa," Laras terkejut


Gilang menatap Papa Laras yang bernama Bimo yang memiliki kumis tebal dan jenggot panjang dan juga rambut panjang yang grimbal, Gilang cukup gemetar melihat Papanya Laras itu,


"Papa mertua- eh maksudku Om, Om udah pulang ternyata, selamat datang Om," Gilang


"Laras, ini temanmu??" Papa Bimo


"Bu-" Laras


"Bukan Om, kenalkan nama saya Gilang Pranata Tama, saya pacarnya Laras," potong Gilang dengan cepat


"Pacar?? Laras, kamu gak pernah cerita punya pacar. Sejak kapan kalian pacar??" Papa Bimo


"Sejak kemarin Om," Gilang


"Ooo, pantas Om gak pernah liat kamu, padahal Om hampir kenal semua temen cowok Laras, oh ya tadi namamu siapa??" Papa Bimo


"Nama saya Gilang Pranata Tama Om," Gilang


"Usia??" Papa Bimo


"Saya tahun ini 27 Om," Gilang


"Tamatan mana?? Sekarang kau juga kerja apa??" Papa Bimo


"Kebetulan saya tamatan S1 di UI dan S2 di UGM," Gilang


"Berarti kamu bukan orang asli Bali dong," Papa Bimo


"Ya Om, saya dari Jakarta, setelah orang tua saya meninggal, saya pindah ke Bali dan menetap disini," Gilang


"UI dan UGM?? Jurusan apa??" Papa Bimo


"Jurusan Arsitektur dan Bisnis Om," Gilang


"Apa??" Laras terkejut


"Pekerjaan?" Papa Bimo


"Saat ini saya belum punya pekerjaan tetap Om, saya selalu kerja dari satu tempat ke tempat yang lain," Gilang


"Ooo. Tadi Om dengar kamu mau menikahi Laras?? Tapi mendengar kamu belum punya pekerjaan tetap, itu akan jelek kedepannya, jadi sebaiknya kamu pikirkan dulu sebaik mungkin dan berusahalah mencari pekerjaan tetap," Papa Bimo


"Ta-Tapi Om-" Gilang


"Om tidak menolak lamaranmu itu, Om hanya ingin anak bungsu Om ini hidup dengan baik tak seperti kedua Kakaknya yang sudah menikah, apalagi Laras baru beberapa lama diangkat menjadi guru tetap. Om bukannya mau merendahkanmu atau apa, tapi Om hanya ingin Laras mendapat suami yang baik, mengertilah," Papa Bimo menasehati.