Serendipity Affection

Serendipity Affection
Kakak Gilang



"Jangan memanggilku dengan itu ya, nama itu hanya khusus satu orang," Laras


"Oho, siapakah itu hm?? Mantan pacarmu??" Azka


"Bu-Bukan, itu- hmm, rahasia," Ujar Laras.


.


.


.


"Ya ampun aku baru saja sampai Mansion setelah 20 tahun terkurung di Swiss, tapi sudah ada rahasia-rahasiaan," Azka


"Ehhh??? 20 tahun?? Di Swiss?? Kok lama sekali??" Tanya Laras bertubi-tubi


"Yaaa, rahasia," Azka


"💢💢💢, Kau jangan mengikutiku huh," Laras kesal


Azka tertawa kecil,


"Kamu lucu juga ya. Tapi ya yang terpenting adalah kamu akan menjadi mantan menantu Keluarga Tama, kamu tidak perlu tau rahasia Keluarga Tama lainnya," Azka


"Ahhhh daritadi kau menyebut Keluarga Tama-Keluarga Tama, sebenarnya Keluarga Tama itu apa sih?? Saat aku bangun aku sudah disini dan katanya aku sudah menikah dengan Pewaris Keluarga ini," Laras


"Wahh ternyata kamu lupa ingatan itu benar ya. Kamu memang menantu Keluarga ini, kamu sudah menikah dengan adikku Gilang," Azka


"Eh?? Kalau kau Kakaknya Gilang, kenapa kamu yang gak jadi Pewaris??" Laras


"Aku hanya anak dari Pelayan yang tidak sengaja bermalam dengan Ayah, aku bisa saja menjadi Pewaris, tapi satu jam setelah aku lahir, kabar Nyonya Arina mengandung Gilang tersebar, anak Nyonya Utama disini yang selalu diutamakan. Yaa mau digimain lagi?? Untungnya aku masih Pangeran di Kerajaan Perusahaan Tama, aku masih bisa hidup santai tanpa beban. Seperti Paman Rian yang hanya ingin have fun aja," Jelas Azka


"Hmmm jahat juga Keluarga ini," Laras


"Keluarga ini hanya memikirkan keturunan, bagaimanapun caranya, jika tidak bisa maka akan dihancurkan,", Azka


"Ugh, jahat sekali ya, aku gak suka Keluarga ini," Laras


"Hm untungnya kamu sudah akan bercerai secara baik-baik, jika tidak kamu pasti akan mati tersiksa disini," Azka


"Apa yang kau katakan, Kakak,"


Laras dan Azka menatap Gilang yang mendekat, Gilang pun menengahi Laras dan Ezra,


"Yo adik, udah lama gak ketemu yak," Azka


"Kakak, aku tanya apa yang kau katakan pada Laras?? Kakak menghasut Laras untuk lebih cepat bercerai dariku??" Gilang


"Antara ya dan tidak sih, lagipula sudah sejak lama hubungan kau dan Laras kandas, apa salahku disini??" Azka


"Kakak tanya apa salah Kakak?? Tentu saja Kakak salah!! Aku tidak akan pernah menceraikan Laras, dengan adanya anak atau tidak, Laras akan tetap menjadi milikku, Laras adalah istriku satu-satunya," Gilang marah


"Oh ayolah adik, perjanjian telah ada dan istrimu yang lain sudah hamil, kau harus menceraikan Laras setidaknya demi menghormati janji Laras sebelum dia lupa ingatan," Azka


Laras menghela nafas,


"Ahhh aku mengerti sekarang. Kau- hm..." Laras lupa nama Gilang


"Namaku Gilang," Gilang


"Ah iya, Gilang, aku mendengar sedikit banyaknya dari Ryu kalau kau menikahiku dengan cara menipu, lalu kau membawaku ke rumah besar ini dan ingin aku jadi penghasil anak," Laras


"Bu-Bukan begitu Laras, aku menikahi kamu karena aku sungguh mencintaimu, aku tidak bermaksud menipumu," Gilang


"Ahhhh hentikanlah, kebohongan kau membuatku sakit kepala, untungnya aku lupa ingatan sesudah ada perjanjian perceraian, tinggal menunggu waktu aku diusir keluar saja kan," Laras


Laras pergi,


"Hmmm wanita yang menarik. Hei Gilang, bolehkah aku menikah dengan Laras setelah kalian benar-benar bercerai??" Azka


"Tentu saja, tapi aku akan membunuhmu sebelum kau sampai di altar pernikahan," Gilang


Gilang pergi mengejar Laras.


.


Saat terkejar, Gilang berjalan di belakang Laras, berjalan dengan tenang, namun tiba-tiba Gilang harus pergi sejenak karena telepon.


Laras melirik sebentar dan meninggalkan Gilang.


.


.


.


Hari berlalu, hubungan Gilang dan Laras semakin retak, Dion yang tak bisa menghentikan Riku untuk menghasut Laras pun membuat Laras mempunyai perasaan benci ditambah dengan keadaan yang mendukung karena Gilang yang selalu dipihak Zara yang sedang hamil.


Suatu ketika, Laras sedang mengobrol dengan Azka, mereka terlihat sangat dekat dan ceria.


Namun tiba-tiba Gilang datang dan melihat kedekatan Kakak Tirinya dengan Istrinya,


"Laras, aku ingin mengatakan sesuatu, bisakah kita bicara sebentar berdua??" Gilang


"Ah tapi aku sedang mengobrol dengan Azka, bisakah kita bicara nanti, lagipula setiap bicara denganmu hanya ada omong kosong yang tidak berarti," Laras


"Omong kosong?? Kamu menganggap semua yang kukatakan adalah omong kosong??" Gilang


"Iya, Ryu bilang kalau mendengarkanmu hasilnya tetap sama, dan aku harus menjauhimu," Laras


"Pfft," Azka menahan tawa


Gilang menjadi kesal dan langsung menarik pergi Laras secara paksa,


"Pfft bisa-bisanya drama ini semakin menarik," Azka