Serendipity Affection

Serendipity Affection
Permintaan



"Aku akan selalu ada disisimu Laras, walau aku berbohong tentang latar belakangku, aku tak akan pernah berbohong akan perasaanku," Gilang.


.


.


.


Gilang memeluk Laras dengan erat,


"Aku sungguh mencintaimu Laras, aku bisa membuang apapun untuk mendapatkanmu," Gilang


Laras hanya terdiam tanpa niat memeluk balik Gilang.


.


.


.


Siangnya dikantor Gilang, Gilang meminta Ayahnya datang,


"Ada apa kau memanggil Ayahmu ini bocah tengik?? Sekarang kau ingin meminta Ayahmu ini menjadi siapa lagi??" Rehant


"Ayah, aku akan kembali ke Keluarga Tama," Gilang


"Jadi kau akan kembali ke Keluarga Tama- eh?? Kau akan kembali ke Keluarga Tama?? Ke Mansion?? Sungguh??" Rehant


"Ya, tapi aku akan membawa Papa mertua ke Mansion juga. Zaralisa sudah membongkar semuanya, tapi Laras memaafkan aku dan meminta aku membawa Laras dan Papa Mertua ke tempat aku berasal sebenarnya," Gilang


"Bagus, Ayah bisa punya teman main golf maupun catur, bawa mereka secepatnya, Mamamu akan senang dan kembali sehat lebih cepat jika anak dan menantunya datang," Rehant


"Tapi aku harus membujuk Papa mertua, hanya ada 2 kemungkinan, Papa mertua akan merasa dibohongi dan malah menyuruh Laras meninggalkanku atau Papa mertua akan menyuruh Laras aja yang ikut ke Jakarta bersamaku, Papa mertua pasti gak akan mau meninggalkan Bali," Gilang


"Ayah pernah bicara dengan mertuamu itu, Ayah rasa mertuamu itu orang yang kolot dan suka bicara, pasti akan susah membujuknya," Rehant berpikir


"Itulah masalahnya Ayah. Papa mertua terlalu menjiwai ritual-ritual Bali," Gilang


"Tapi coba saja kau bicara dengan mertuamu, kali aja dengan sedikit paksaan, mertuamu mau ikut," Rehant


"Baiklah, akan kucoba nanti malam," Gilang.


.


.


.


"Gilang, jangan halangi jalan, aku mau lewat," Laras


"Ah baiklah," Gilang


Saat Laras akan lewat, Laras membisikan sesuatu ke Gilang,


"Jika kau tak bicara sekarang, maka jika Papa marah kemarahan Papa akan bertambah," bisik Laras


Laras pun pergi,


"Laras benar, aku harus jujur sekarang juga," bathin Gilang


Gilang mendekat ke Papa Bimo yang sedang berada di kamarnya,


"Papa, bisa minta waktu sebentar??" Gilang


"Ah tentu saja, ada apa Gilang??" Papa Bimo


Gilang masuk dengan ragu,


"Itu- aku tidak akan basa-basi. Papa, jika aku sebenarnya bukan anak yatim piatu, dan identitasku bukan pekerja magang, Papa akan marah??" Gilang


"Kamu adalah suami Laras, marah atau gaknya itu ada ditangan Laras, jika orang tuamu masih hidup kan itu bagus, apalagi jika kamu bukan pekerja magang, kamu jadi bisa memberikan apapun yang Laras mau," Papa Bimo


"Ehhh??? Papa gak marah?? Aku bahkan belum menjelaskan alasanku," Gilang


"Kamu bukan kuanggap menantu tapi sudah seperti anak sendiri, Papa percaya kamu mempunyai alasan tersendiri melakukan itu. Asalkan kamu tak melakukan kekerasan fisik dan mental, serta tak mendua, Papa gak terlalu perduli dengan yang lain," Papa Bimo


"Papa, Papa sangat baik padaku. Aku akan memberitahu siapa diriku sebenarnya. Namaku, Gilang Pranata Tama, aku dari Keluarga Tama, aku anak Tunggal dan Pewaris Tunggal Keluarga Tama, jika Papa Bimo mengenal 100 Keluarga Terkaya maka Keluarga Tama ada dipaling tengah, aku menyembunyikan identitasku karena aku tau jika Laras tidak ingin mempunyai suami yang memiliki Keluarga kandung, aku menyembunyikan identitasku karena aku sangat mencintai Laras. Papa, percayalah, aku tak bermaksud menyembunyikan identitas ataupun membohong dalam pernikahan ini, aku sungguh sangat mencintai Laras," jelas Gilang


"Hm, jadi begitu, Papa tau hal yang membuat Laras gak mau punya mertua dan mau mempunyai suami yatim piatu, dari kecil Laras tidak suka disuruh ini-itu, karena itu Laras gak mau mempunyai mertua. Laras sudah tau ini??" Papa Bimo


"Sudah Papa, karena itu, aku punya permintaan, Papa, ikutlah aku ke Jakarta, Laras tidak mau ke Jakarta denganku tanpa Papa," Gilang


"Tidak, kalian sudah menikah, sudah seharusnya tinggal bersama Keluarga Sang Suami, tugas Papa menikahkan semua anak Papa sudah selesai, sekarang Papa ingin hidup bebas dan lebih memperdalami agama dan budaya Bali. Papa akan memaksa Laras pergi sendiri, kamu jangan khawatir," Papa Bimo


"Papa, terima kasih banyak," Gilang.