Serendipity Affection

Serendipity Affection
Pilihan



"Kau menakutkan Dion," Riku


"Sudahlah, ayo pulang, aku lelah sekali," Dion


"Baiklah, aku yang akan menyupir kali ini," Riku


Mereka pun pergi.


.


.


.


Malam hari di rumah Laras, Laras dan Gilang sedang memilih undangan bersama Papa Bimo,


"Papa Bimo, Papa mau pilih yang mana??" Gilang


"Ah yang ini, ada ciri khas Balinya," Papa Bimo


"Aduh Papa, ini tuh kuno sekali, yang ini aja," Laras


Mereka mencari dan mencari, namun tak ada yang pas,


"Ahhh, susah amat yak," Laras


Laras tiduran di lantai dengan pose berpikir,


"Hmmm, Laras, kamu suka warna biru kan?? Papa Bimo juga ingin motif yang lebih ke Bali kan??" Gilang


Papa Bimo mengangguk,


"Aku memang suka warna biru, karena itu aku memilih yang ada warna birunya," Laras


Gilang mengambil satu contoh yang menurutnya cocok dan mendesain sendiri, tak lama, desain undangan itu jadi,


"Laras, Papa, coba lihat ini," Gilang


Mereka pun melihat,


"Wahhh ini baru pas," Papa Bimo


"Gilang, kamu bisa desain juga ternyata, hebat banget," Laras


"Tentu saja, calon suamimu ini adalah pria yang multifungsi," Gilang


"Undangan sudah selesai, sekarang tinggal milih ya mau pakai pernikahan adat Bali atau luar?" Laras


"Tentu saja adat Bali asli. Gilang, adat Bali agak mahal jadi pakai payasan alit* aja," Papa Bimo


*Payasan Alit/Payas Alit : Riasan dan ritual yang tidak terlalu mewah


"Tidak Papa, gajihku cukup kok, ini pertama dan terakhir kalinya aku maupun Laras menikah, pernikahan ini harus mewah, untuk upacara pernikahan sudah kusiapkan dan juga resepsi, aku sudah memesan satu hotel, kan sekalian sambut ulangtahun Laras ke 24," Gilang


Laras bangun dari tidurnya,


"Eh?? Aku gak pernah tau kamu pesan kamar hotel," Laras


"Bukan kamar hotel Laras, tapi satu lantai hotelnya," Gilang


"Apa??? Satu lantai hotel?? Semua kamarnya??" Laras dan Papa Bimo


"Iya," ujar santay Gilang sambil memakan permen buahnya


"Hei Gilang, ini melebihi budget," Laras


"Laras, aku adalah calon suamimu, sudah semestinya aku yang menanggung biaya pernikahan kita. Kamu hanya cukup menikah denganku, dan Papa juga jangan khawatir, Papa hanya perlu merestui kami saja," Gilang


"Ahhh, kamu benar-benar keras kepala, tapi itu benar-benar tidak membuat masalah keuangan dalam keluarga kalian di masa depan kan??" Papa Bimo


"Ah Gilang," Papa Bimo


"Ya??" Gilang


"Kamu yakin akan tinggal di rumah ini?? Kamu benar benar tidak memiliki Keluarga??" Papa Bimo


"Papa, Gilang kan sudah bilang kalau dia gak punya siapapun," Laras


"Ya baiklah, ini pernikahan kalian, kalian yang harus menyelesaikan jika ada masalah," Papa Bimo


"Ya Pa," Gilang


Papa Bimo pun pergi,


"Laras," Gilang


"Ya??" Laras


"Aku mencintaimu," bisik Gilang


"Ck, kamu bisa mengatakan itu ribuan kali tau," Laras


Gilang tersenyum jahil, sedangkan Laras melihat desain kartu undangan,


"Jadi kita cetak berapa kartunya, aku palingan hanya sekitar 100 orangan," Laras


"Hmmm, aku masih gak tau, coba besok aku cek-cek lagi temen-temenku,* Gilang


"Baiklah," Laras


Gilang menatap Laras yang terlihat murung,


"Kenapa sayang??" Gilang


"Aku masih bingung," Laras


"Bingung kenapa??" Gilang


"Aku tak menyangka akan menikah secepatnya ini," Laras


Gilang tersenyum, lalu menyentuh lembut pipi cabi Laras dengan telapak tangannya,


"Saat menikah nanti, aku tidak akan mengekangmu Laras, kita akan melakukan segalanya bersama, walau pasti ada sedikit pertengkaran dan perbedaan pendapat, aku tidak akan membiarkan hal itu lebih lama, aku akan mengalah untukmu, bagiku memilikimu saja sudah lebih dari cukup, aku ingin selalu bersamamu," Gilang


"Waktu masih kuliah, aku dikenal manja dan dingin, jika aku melakukan yang sama dan merusak hubungan kita," Laras


"Sudah kubilang, aku akan mengalah, aku tidak akan membiarkan pernikahan kita hancur bagaimanapun juga, kita akan tinggal dirumah ini bersama Papa dan juga anak-anak kita nanti," Gilang


Gilang mengecup bibir Laras,


"Tenanglah Laras, semua akan baik-baik saja dimasa kini ataupun masa depan," Gilang


Laras tersenyum dan mengangguk.


.


.


.


Di sisi lain, Vero sedang bermain gitar di rooftop villanya, namun Vero terhenti dan menjadi murung,


"Ahhhh, Bunga, aku hanya ingin memilikimu, andai kamu sekali saja melihatku sebagai pria dan bukannya hanya teman," Vero


Vero mendapatkan suatu pesan, Vero melihatnya dan ternyata dari Laras yang mengirimi foto desain undangan, Vero menjadi lebih murung


"Undangan itu seharusnya undangan kita berdua, aku akan mewujudkan itu," Vero.