Serendipity Affection

Serendipity Affection
Merenung



".... Tugasmu hanya perlu menjadi menantu yang baik," Papa Bimo


.


.


.


"Walau berat, aku akan mencoba, Pah," Laras


"Nah itu baru benar. Kamu cobalah bertanya pada Kepala Pelayan apa aja tugas Nyonya disini, walaupun Gilang tidak memintamu bekerja atau mengurus rumah, sebaiknya kamu jangan malas dan berinisiatif sedikit, belajarlah jadi Menantu Orang Kaya yang baik," Papa Bimo


"Ahhh baiklah Papa, kalau gitu aku akan pergi sekarang," Laras.


Laras pun pergi meninggalkan Papa Bimo yang kembali menikmati waktu bersantainya.


.


.


.


Waktu berlalu dengan cepatnya...


Laras pun menjadi mulai belajar terbiasa dengan kehidupan sosialita dan rumah tangganya, Laras juga mulai mencari keberadaan Ketiga Kakak Tingkatnya(Vero, Dion, dan Riku), namun tak kujung ketemu.


Hingga 2 tahun berlalu, Laras bingung kenapa Gilang makin gencar menidurinya selama masa suburnya dengan alasan supaya cepat memiliki keturunan.


Hingga tiba-tiba, Laras mendengar jika Arina Ibu Mertuanya telah siuman dan akan kembali ke Mansion, Laras berusaha membersihkan Mansion supaya Ibu Mertuanya nyaman tinggal bersamanya.


Namun saat Arina baru saja datang, Arina melihat Laras yang tidak pernah mengubah penampilannya masih sedikit seperti gadis Desa yang miskin, Arina mendekati Laras,


"Kamu sudah punya anak??" Arina


Pertanyaan Arina membuat Laras terkejut, "Hah??" Laras spontan


"Ibu, kami baru menikah, kami masih menginginkan kebebasan kami dulu," Jelas Gilang.


"Aihh, dalam hubungan suami-istri jika tidak ada anak maka apa gunanya, apakah cinta kalian yang akan melanjutkan keturunan? Tentu saja tidak. Kamu, Laras, cepatlah bisa mengandung, dari kecil, Gilang itu normal, jangan sampai Gilang salah pilih pasangan," Arina


"Arina, jangan seperti itu, selama 2 tahun terakhir, Laras yang selalu merawatmu di rumah sakit, mungkin karena memikirkan Ibu Mertuanya yang sedang sakit yang membuatnya belum kepikiran punya momongan. Sudah-sudah, jangan berdebat, kamu juga masih baru sadar dari koma Arina," Rehant


Arina pergi dengan sombongnya, Laras hanya menunduk, Gilang menatap Laras dan meraih tangan Laras,


"Tenang saja Laras, kita pasti akan memiliki seorang anak nanti- ah tidak, kita akan memiliki banyak anak nanti, kamu jangan dengarkan omongan Ibu, Ibu memang suka bicara pedas. Ayo masuk," Gilang


.


.


.


Malamnya, Gilang harus lembur di kantor karena kerjaan yang menumpuk, disisi lain, di Mansion, Laras sedang merenung di balkon ditemani Reika,


"Reika," Laras


"Iya Nyonya," Reika


"Kenap Ibu Mertua sangat marah padaku ya?? Aku hanya belum memiliki anak, lagipula anak itu adalah titipan Tuhan, tidak ada yang tau kapan akan diberikan," Laras


"Nyonya, yang saya tahu di Keluarga Tama memang mementingkan keturunan Nyonya, tidak perlu mau dari Keluarga semiskin apapun, selama bisa melahirkan keturunan untuk Keluarga Tama maka pernikahan itu akan tetap ada. Contohnya seperti istri pertama Tuan Besar Rehant, Nyonya Pertama dipaksa minum racun oleh Nyonya Besar Arina karena Nyonya Arina telah berhasil mengandung Tuan Gilang saat itu. Itu cerita yang saya dengar dari beberapa Pelayan dan ada dalam buku pelajaran Kepala Maid Keluarga Tama," Jelas Reika


Laras menghela nafas, "Ahhhh, sepertinya aku harus cepat menceraikan Gilang, aku tidak mau mati sia-sia disini, Ibu Mertuaku sepertinya sudah membenciku," Laras


"Nyonya, anda tidak boleh menyerah, pernikahan anda dan Tuan sudah 2 tahun, jangan menyerah karena itu, Tuan Gilang pasti akan selalu disisi Nyonya," Reika


"Jika Gilang berpaling sisi?? Hanya aku yang akan dirugikan. Gilang juga pasti sebenarnya menginginkan setidaknya seorang putri, tapi aku bahkan" Laras


Reika terdiam karena tak tau harus bicara apa.


.


Tengah malamnya...


Di kantor Gilang, Reika melaporkan pembicaraannya dengan Nyonya Mudanya kepada Tuan Mudanya.


Gilang pun menunjukkan ekspresi gelisah,


"Tuan?" Reika


"Ahhh, pernikahanku dan Laras padahal masih 2 tahun, tapi kenapa karena masalah anak, Laras sampai merencanakan perceraian, aku tidak menyangka ini akan terjadi," Lirih Gilang


"Tuan, Nyonya Muda sepertinya sangat tertekan sekarang, disaat seperti ini biasanya emosi Nyonya cukup tak stabil," Reika


"Aku tau, aku mengenal Laras dengan baik. Aku harus memberitau Ibu jika aku dan Laras tidak mau terburu-buru memiliki momongan," Gilang


"Tapi Tuan, Nyonya Besar pasti akan murka dan lebih merendahkan Nyonya Muda," Reika


"Aku tau, tapi aku tidak ingin kehilangan Laras, sampai kapan pun aku tidak rela bercerai dengan Laras," Gilang.