Serendipity Affection

Serendipity Affection
Tamparan



"Ya, memang apa yang bisa dibicarakan oleh jal-"


PLAKKK!!!


PLAKKK!!!


PLAKKK!!!


PLAKKK!!!


Tamparan keras demi tamparan keras Laras berikan, saat Arina terjatuh pun Laras tetap memukuli Arina tepat di mulutnya hingga berdarah-darah.


Orang-orang disana pun mencoba menghentikan Laras, hingga Para Tetua dan Rehant datang bersama juga Gilang dan Zara,


"Kyaaa Ibu Mertua dilukai Laras begitu kejam," Zara teriak histeris


"Memalukan!!! Laras!!! Hentikan!!!" Kakek 1


Rehant menarik Laras menjauh dan menampar Laras dengan keras, Laras tercengang karena bahkan Papa Bimo tidak pernah main fisik padanya.


Sementara yang lain membawa Arina ke rumah sakit.


"Apa kau sudah gila!!? Kau mau membunuh Ibu Mertuamu sendiri hah??!! Jawab Ayah, Laras!!!" Rehant marah


Gilang mencoba menengahi,


"Ayah, kumohon tenanglah, ini- ini mungkin ada kesalahpahaman, Ayah tau sendiri, Laras tidak mungkin melukai orang tanpa alasan," Gilang membela Laras


"Kau juga sudah gila karena cinta Gilang, yang dilukai adalah Ibu Kandungmu sendiri, apa menunggu dia membuat Zara keguguran baru kau bisa melihat sisi lain dari dirinya," Rehant


"Cukup Ayah!! Aku tidak mau mendengar!! Laras- Laras tak mungkin melakukan hal yang jahat," Gilang


Gilang meraih tangan Laras,


"Aku akan mengurus istriku sendiri," Gilang


Gilang pergi dengan membawa Laras bersamanya.


Dikamar Laras, Gilang menjatuhkan Laras ke ranjangnya,


"Kenapa kau melukai Ibu??" Gilang


Laras terdiam,


"KENAPA KAU DIAM SAJA!!? Jika kau tetap diam maka aku tidak akan bisa membantumu Laras, bagaimanapun Ibu juga adalah seseorang yang tak tergantikan di hidupku, aku tidak akan membiarkan orang lain melukai Ibu seenaknya," Gilang


Laras terdiam,


"LARAS!!!" Teriak Gilang


Laras tak bergeming, Gilang mengepalkan tangannya erat, dan entah mengapa Gilang memilih mengunci pintu dan memulai "permainan" panas nan kasar bersama Laras.


Tengah malamnya....


Laras mencoba menahan tangisannya, luka lebam dan sakit yang menjulur ke seluruh tubuhnya terasa sakit saat air mata menetes derasnya,


"Papa hiks, aku mau pulang hiks, aku gak mau disini lagi hiks," Laras menangis


Laras melihat ponselnya,


"Vero- Vero, aku butuh kamu Vero," Lirih Laras.


Hari berlalu...


Laras semakin kurus karena sedikit makan bahkan terkadang tidak makan karena tidak ada yang menyediakannya.


Gilang pun tak terlihat karena menemani Zara yang mengalami sedikit "gangguan" di janinnya.


Suatu tengah malam, Laras sedang bermain ayunan sendiri ditaman karena di dalam sedang ada perayaan kedatangan Arina yang telah sembuh.


Tiba-tiba Azka datang dan duduk di ayunan sebelah Laras,


"Hai, lama gak berjumpa Laras," Azka


Laras hanya ber"hn",


"Aku sudah dengar semua yang terjadi. Ahhhh nasibmu buruk sekali Laras, sudah tertipu, tersakiti pula," Azka


Azka menatap Laras,


"Bagaimana jika kita pergi bersama ke suatu tempat dimana Keluarga Tama tidak bisa menjangkaunya?? Kita bisa hidup bahagia berdua disana walau dalam kemiskinan sekalipun," Azka


Laras menggeleng,


"Ahhh, sudah kuduga. Baiklah, aku tidak akan memaksamu, tapi ingatlah, aku akan selalu ada setiap kamu membutuhkan aku," Azka


Azka berdiri dan mengecup bibir Laras sekejap, Laras dengan tatapan kosong hanya terdiam, Azka pun pergi.


Namun tak disangka, Gilang mengetahui itu dari foto yang dikirim oleh seseorang tak dikenal, Gilang menjadi marah dan meninggalkan pesta untuk mencari Laras ke taman.


Gilang melihat Laras sendirian ditaman, namun kemarahan menggelapkan matanya, Gilang kembali menarik pergi Laras dan melakukan "permainan" kasarnya.


Kebesokannya....


Laras terbangun duluan dan melihat Gilang disampingnya, Laras turun ranjang dengan diam dan pergi ke kamar mandi,


"Aku harus pergi dari tempat terkutuk ini hari ini juga, apa yang harus kulakukan supaya bisa terusir dengan sendirinya??" Bathin Laras.


Siangnya...


Laras berada di ruang tamu dan sedang membaca suatu pesan di ponselnya.


Dan tiba-tiba, Reika datang dengan satu bungkus roti croissant,


"Nyonya Laras, saya mendapatkan roti croissant, ini untuk Nyonya, Nyonya belum makan apapun belakangan ini," Reika


Laras menggeleng, "Aku tidak minat makan," Laras datar


"Ayolah Nyonya, ini roti terakhir dari saya. Tuan Rehant menyuruh saya ke LA untuk bekerja disana, jadi tolong terima ini," Reika


Laras mengambil roti itu, "Terimakasih Reika, maaf selama ini aku sudah menyusahkanmu, aku bukan Nyonya yang baik," Laras