
Laras mengambil roti itu, "Terimakasih Reika, maaf selama ini aku sudah menyusahkanmu, aku bukan Nyonya yang baik," Laras
.
.
.
Reika menggeleng cepat, "Tidak, Nyonya adalah yang terbaik, Nyonya memasak cemilan yang enak untuk saya bahkan mengajari saya beberapa masakan baru, Nyonya bahkan tidak pernah memarahi saya seperti Nyonya Zara maupun Nyonya Arina, pokoknya Nyonya itu yang terbaik," Reika
"Tetap saja aku harus berterimakasih," Laras
"Hm, kalau begitu saya permisi pergi Nyonya," Reika
Reika pergi,
"Melepas Reika memang yang terbaik, tidak boleh melibatkan siapapun lagi di dalam masalah ini," Bathin Laras
Saat Laras akan memakan sepotong roti croissant yang ia sukai.
Tiba-tiba, Zara datang, Zara membuang roti milik Laras,
"Beraninya orang yang sudah membuat Ibu Mertua terluka makan makanan enak, matipun kau harusnya beruntung tau," Zara
"Kembalikan rotiku," Ujar Laras
"Apa?? Kau ingin aku kembalikan rotimu?? Baiklah," Zara
Zara menginjak-injak roti milik Laras lalu mengambilnya kembali dan memaksa Laras untuk memakannya.
Laras menepisnya dan membuat roti croissant itu terjatuh,
"Dasar Jal*ng tidak tau malu!! Udah merebut suami orang, melukai Ibunya, dan sekarang malah sok-sok. Anak gak punya Ibu gini dah gak pernah tau sopan santun," Zara
"Maling memang selalu teriak maling, kasta Bangsawan jaman sekarang begitu rendah. Seorang selir berani bicara dihadapan Ratu, sungguh bernyali," Laras santai
"Kau!! Tch, wanita mandul sepertimu mana tau rasanya menjadi Ibu," Zara
"Dan wanita yang tidur dengan banyak pria mana tau rasa dicintai," Balas Laras
PLAKKK!!!
Zara menampar keras Laras, Laras terdiam,
"Kenapa?? Kau takut membalasku seperti kau melukai Ibu Mertua kan?? Jika aku dan bayiku sampai kenapa-kenapa, kau pasti akan mati ditangan Gilang, seberapun besar cinta Gilang padamu, jika Gilang kehilangan anaknya maka Gilang akan menggila dan membunuhmu dengan kejam," Zara
"Aku- tidak pernah takut mati," Laras
PLAKKK!!!
Laras membalas tamparan Zara dan melemparnya ke lantai, otomatis darah keluar dari ************ Zara karena terjatuh cukup keras,
"HENTIKAN!!! GILANG!!! GILANG!!" Zara menjerit memanggil Gilang
Gilang mendekat ke Zara,
"Zara apa yang terjadi???" Gilang khawatir
"Gilang, Laras mencoba membunuh bayi kita, sakit sekali, aku rasa kita akan kehilangan bayi kita," Zara terisak
"Tidak boleh. Semua, cepat bawa Zara ke rumah sakit, Keturunan Keluarga Tama harus baik-baik saja," Kakek 1
Semuanya pun membawa Zara ke rumah sakit, namun Gilang dan Para Orang Tua tetap disana,
"Wanita tidak tau diri, sudah mandul juga tidak membiarkan Keluarga Tama kami memiliki keturunan," Arina
Laras terdiam,
"Kenapa kau melakukan ini Laras??? HAH?? KATAKAN KENAPA KAU MELAKUKAN INI??!!!" Gilang teriak keras
Laras masih terdiam,
"Jika terjadi sesuatu pada anakku, aku akan membuat seluruh Keluargamu menderita," Gilang
"Jangan mengancam Keluargaku, aku yang salah, jangan menyentuh Papaku," Laras
"KAU KIRA AKU PEDULI!!!??" Gilang
"Tentu saja kau harus perduli, mereka Keluargaku, karena aku egois, aku selalu mentingkan diri sendiri, apa itu cukup? Lagipula wanitamu itu memang sudah selayaknya mati, dan apa kau yakin didalam kandungnya itu adalah anakmu?? Dia adalah wanita murahan yang menjual tubuhnya sendiri, kau harus tau itu," Laras
PLAKKK!!!
"Omong kosong apa yang kau bicarakan, kau dari dulu ingin kita bercerai kan hari ini aku akan menceraikanmu Laras," Gilang
Laras tercengang karena Gilang menamparnya dan juga menceraikan dirinya.
Gilang menandatangani surat cerainya yang ada diatas meja,
"Ini yang kau inginkan kan, SEKARANG PERGI DARI SINI, AKU MUAK MELIHATMU," Teriak Gilang
Gilang melemparkan surat cerai itu tepat diwajah Laras.
Laras tersenyum kecil, "Bagus Gilang, aku sekarang bisa pergi, aku tidak akan kembali," Laras
Laras pergi hanya dengan pakaian yang ia kenakan tanpa membawa barang satupun.
Gilang terengah-engah dan terduduk di sofa yang Laras duduki sebelumnya.
Gilang melihat suatu pesan masuk di ponsel Laras, Gilang melihat pesannya dan tercengang.
.
Aku sudah kembali Bunga.
Vero.