Serendipity Affection

Serendipity Affection
Kecewa



Laras pun pergi bersama Dion dan Riku .


.


.


.


Tengah malam... Di rooftop Mansion...


Bugh!!!!


Gilang jatuh tersungkur setelah mendapat bogem mentah dari Dion yang sedang dilanda kemarahan,


"Tch, kau sengaja memukulku di perut karena tidak ingin siapapun tau kau memukulku??" Gilang


"Apa itu alasan?? Tentu saja tidak bangs*t!! Jika aku tau jika kau akan mengkhianati Bunga, aku tidak akan membiarkan kau menikahi Bunga. Aku bahkan membunuh Vero yang sahabatku sejak kecil demi hubungan kalian!!! Tapi apa yang kau lakukan bangs*t!!! Kau menikah dengan wanita lain saat kau dan Bunga masih status menikah!! Apa kau gak mikirin perasaan Bunga dan Papa Bimo??!! Papa Bimo hampir terkena serangan jantung karena itu bangs*t," Dion


"Apa? Papa Bimo hampir serangan jantung??" Gilang


"Iya. Aku sudah muak melihat sifat aslimu ini, sebelum aku memisahkan kalian dengan paksa, cepatlah ceraikan Bunga. Walaupun kau Killer Keluarga Tama sekalipun, aku gak pernah takut denganmu. Jika sekali saja Bunga ingin menghancurkan Keluarga Tama, maka saat itu juga Keluarga Tama akan hancur, jangan pernah meremehkan orang-orang yang ada dibelakang Bunga," Dion


"Aku tau, tapi- bagaimanapun Laras belum bisa mengandung, bagaimanapun aku juga menginginkan seorang anak, seperti yang kau tau, aku seorang killer, nyawaku hanya 1, kapanpun aku bisa tiada, karena itu aku sangat menginginkan seorang keturunan, Laras tidak bisa melahirkan, dan aku ingin sekali memiliki anak, aku bisa membuang yang lain dan tidak mungkin membuang kesempatan saat bisa memiliki seorang anak," Gilang


Tanpa disadari, Riku yang terhubung dengan Laras lewat telepon membuat Laras mengetahui percakapan mereka,


"Gilang, karena kau Vero mati, aku akan membalasnya dengan membuat Bunga membencimu," Riku membathin


.


.


.


Dikamar Laras, Laras memutuskan hubungan telepon dan tangisannya yang selama ini ia tahan pun tumpah,


"Hiks hiks, selama ini aku terlalu protagonis ya, aku sampai tertipu lagi. Gilang, aku kira dia pria yang berbeda, aku bisa menerima kebohongan jika dia dari Keluarga Kaya, tapi darah lebih kental dari air. Aku tidak ingin disini, aku ingin melupakan Gilang, aku tidak ingin Gilang dalam ingatanku lagi," Laras


Laras menangis keras.


.


.


.


"Brengsek!!!"


Dion meraih kerah kemeja Gilang dan memukuli Gilang berulang kali, Dion benar-benar marah,


"Kau sadarlah Bangs*t, saat di gudang dulu kau berjanji apa padaku, kau berjanji akan melindungi dan mencintai Bunga!!! Tapi bisa-bisanya kau mengatakan hal itu bangs*t. Jika Bunga mendengar itu, Bunga pasti akan membencimu," Dion


Gilang terdiam sesaat, Dion berhenti memukuli Gilang dan berdiri tegak,


"Kau tau, Bunga itu Protagonis dan Antagonis, jika dia ingin baik maka malaikat pun akan kalah, tapi jika Bunga menjadi Antagonis, dia tak akan segan melupakanmu dan membencimu sedemikian rupa," Dion


"Seperti Bunga yang membenci Kakak Kandung Pertamanya yang kau bunuh," Tambah Riku


"Dion, ayo kita pergi, tidak ada gunanya berbicara pada orang berhati mayat," Riku


Mereka pun pergi,


Gilang menyadari perkataannya barusan dan berharap Laras tidak mengetahuinya,


"Aku tidak mau kehilangan Laras, tidak," Lirih Gilang.


.


.


.


Keesokan harinya, Dion dan Riku datang ke kamar Laras dan melihat Laras tertidur seperti biasa tanpa terselimut,


"Kota Jakarta pasti terlalu panas untukmu ya Bunga," Riku


Dion duduk disisi Laras,


"Hei Dion, liat, ada butiran-butiran kristal garam di tengkuk dan pakaian Bunga," Riku


"Butiran kristal garam," Dion


"Itu bukannya ada setelah seseorang menangis dan mengeluarkan banyak air mata," Riku


"Bunga menangis," Dion


Dion mencoba membangunkan Laras namun Laras tak kunjung bangun, Dion bahkan merasakan tubuh Laras dingin, Dion mengecek detak jantung Laras dan memastikan Laras masih bernafas.


Dion mengambil kaos kaki dan memakaikan ke Laras dan menyelimuti Laras,


"Di, Bunga kenapa??" Riku


"Bunga sepertinya demam, sehabis menangis mendalam, Bunga pasti akan demam. Riku, suruh seseorang membuatkan bubur dan teh jahe hangat," Dion


"Baiklah," Riku


Riku pun pergi dengan senyuman iblis setelah berbalik.


.


.


.


Siangnya, Gilang datang ke kamar Laras setelah mendengar Laras sakit, namun Dion menghalangi jalan Gilang,


"Kau dilarang masuk," Dion


"Laras masih berstatus istriku, kenapa seorang suami gak boleh melihat istrinya?" Gilang


"Kau lupa dengan perkataan kau semalam hah bangs*t," Dion