
"...Aku mempunyai sebuah tugas untukmu," Vero.
.
.
.
Flashback On,,
Vero p.o.v
Kenalkan namaku Vero Raditya Ningrat, usia sekarang baru 27 tahun dan bisa terbilang aku multifungsi ditambah wajahku yang tampan dan keluarga yang kaya raya.
Saat aku sedang kuliah mengejar S1 PGSD atas paksaan Kakekku dan sekarang aku baru semester 5, aku dipindah ke kampus yang ada di Bali dan meneruskan kuliah disana, saat yang bersamaan aku memang sedang mencari perlarian karena hubunganku dengan "dia" kandas.
Hingga hampir seminggu, ada seorang gadis yang sama sekali bukan tipeku yang menarik perhatianku, dia memiliki sifat sangat dingin dan juteknya minta ampun.
Suatu hari, aku ada kuliah pagi padahal aku mencari kuliah malam, saat sampai di lantai 4 yang dimana semua PGSD berkumpul, aku melihat gadis itu bermain ponsel sendirian di luar, aku pun mencoba untuk mendekatinya,
"Kamu baru semester 1 ya," sapa aku
Yaaa aku tau kalau aku bukan ciri khas orang yang akan menyapa duluan, tapi entahlah, aku pengen sekali ngobrol sama gadis ini,
"Hah?? Ah iya," gadis itu terlihat terkejut
"Kalau begitu kita beda 4 semester ya, aku udah semester 5, dan namaku Vero, kalau kamu??" tanya aku
"Namaku Laras," Laras
"Hanya Laras??" Tanya aku lagi
"Larasati Bunga Sucitra," Laras
"Oh, bolehkah aku memanggilmu dengan Bunga??"
"Terserah Kakak," Laras
"Panggil Vero aja, aku gak mau di panggil Kakak, aku belum setua itu untuk dipanggil Kakak," Vero
"Hmm, baiklah," Laras
"Kamu kenapa gak di kelas??" Vero
"Aku sedang mencari sinyal tapi gak ada juga," Laras
"Ooo, tapi jangan lama lama nanti kamu dimarahin Dosen lain karena diluar," Vero
"Hm baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu ya, thaaa Vero," Laras
Bunga pun pergi secepat kilat karena suruhan konyolku, ahhh aku jadi merasa menyesal karena sudah ngusir harus Bunga, tiba tiba 2 orang cowok duduk disebelahku,
"Lahhh siapa dia?? Mainan barumu??"
"Rikukanha sebaiknya jangan ngomong yang gak guna banget, aku gak mungkin kepicut sama cewek kayak dia," Vero
"Hmm? Kalau gitu bolehkah aku mengambilnya," Riku
"Kau mau mati hah!?" entahlah setelah mendengar Riku berkata seperti itu aku sangat marah
"Woles mas bro, aku bercanda ae bosskyuuu. Tapi beneran deh kau harus cepat lamar deh kalau gak mau kecurian sama nyesel setengah amor," bacot Rikukanha itu
"Mulutmu mau kuplester ya," ancam aku
"Tapi Ver, sebaiknya kau memang jangan dekati cewek itu, kau sedang sakit hati dan jika kau bersamanya kau hanya akan menyakiti hati cewek sepolos dia," Si Dion mulai berceramah
"Ya ya, aku hanya menasehati dirimu saja," Dion
Ahhh aku sudah muak dengan ini, sebaiknya aku pergi, setelah aku pergi tanpa berkata-kata kedua orang itu mengikuti aku kekelas yang ternyata didepan kelas cewek bernama Bunga itu.
.
Saat waktunya istirahat, aku dan kedua curut itu pergi ke kantin, aku tak menemukan Bunga dikantin padahal hampir semua teman wanitanya sedang jajan dikantin, aku pun membeli cukup banyak roti dan susu coklat, dan aku menyadari tatapan bingung dari Riku maupun Dion, tapi i don't care about that.
Saat naik tangga menuju lantai paling atas dimana ruang kelas Bunga dan aku berada, selama dijalan,
"Hei Vero, kau bisa gemuk nanti kalau makan sebanyak itu," Riku
"Ini bukan buatku," jawabku sekenan
"Lahhh, terus buat siapa?? Gak mungkin kan seorang Vero Raditya mentraktir aku dan Dion, apalagi dengan makanan kantin yang buruk itu,," Riku
"Ya, akan sangat buruk jika aku sampai mentraktir kalian," jawab aku
Namun aku tersadar hingga langkahku terhenti,
"Kenapa??" Riku
"Ada berapa lama sampai istirahat selesai??" tanyaku
"Hmm mungkin 30menit lagi," jawab Dion
"Rik, motormu kan di luar kampus?" tanyaku lagi
"Iya, emang kenapa??" Riku
Aku langsung memberikan plastik isi roti itu ke Dion dan mengambil paksa kunci yang ada dikantong kemeja Riku, aku langsung kembali ke bawah,
"Oiii inget beliin bensin!! teriak Riku dari lantai 3 padahal aku sudah dilantai 1
Aku tak perduli itu.
.
Author p.o.v
Kurang 15 menit, Vero kembali dan membawa bungkusan dan kembali naik ke atas, saat Vero sampai di depan kelas Bunga, Vero melihat kalau Bunga duduk paling belakang dan mengobrol dengan seorang cowok yang mungkin teman kelasnya, Vero pun masuk tanpa ragu,
"Bunga, ini untukmu," Vero
"Hah??" Bunga bingung
Yaa siapapun akan bingung juga jika ada seseorang yang memberikan pizza apalagi jika orang yang seperti Bunga,
"Ta-Tapi kenapa?" Bunga
"Yaaa anggap sebagai hadia pertemanan, kita kan sudah berteman tadi," alasan Vero yang benar-benar tidak hakiki
"Oooo, Kakak yang tadi, Vero kan??" Bunga
"Iya," jawabku
Vero yang sudah tau jika Bunga memiliki penyakit tak bisa mengenali wajah orang, tetapi Vero lebih terkejut Bunga menghafal namanya dan mengenali wajahnya,
"Ini untukmu, aku melihatmu daritadi gak keluar kelas, jadi aku membelikanmu pizza, aku tak tau apa seleramu jadi aku belikan saja pizza yang banyak daging dan mayonaise," Vero
"Ahhh, Kakak seharusnya jangan melakukan ini," Bunga
"Panggil aku Vero aja, aku gak mau tau, kau harus menghabiskan ini, anggap saja ini permintaan sebagai kating," Vero
"Kakak, jangan seperti itu dong, itu namanya pemaksaan,"