Serendipity Affection

Serendipity Affection
Lupa Ingatan



"Laras masih berstatus istriku, kenapa seorang suami gak boleh melihat istrinya?" Gilang


"Kau lupa dengan perkataan kau semalam hah bangs*t," Dion


.


.


.


Dion mendorong Gilang menjauh,


"Jangan dekati Bunga," Dion


"Gilang, aku minta kau menjauh sejenak, Dion kalau ngamuk bisa bahaya. Jika kau gak mau Bunga dibawa paksa maka ikuti perkataan kami," Riku


Gilang menunduk dengan tangan terkepal kuat, saat Gilang akan pergi, ketiga pria itu mendengar lenguhan Laras, mereka pun terburu-buru masuk ke kamar Laras dan melihat Laras sudah sadar,


"Bunga, kamu sudah sadar?? Ahhh syukurlah," Dion


"Dion, aku ada dimana??" Laras


"Kamu tidak ingat?? Ini rumah suamimu- bukan ini rumah mantan suamimu, Gilang," Dion


"Laras, aku suamimu, kamu tidak mengingat aku??" Gilang


Laras menggeleng, "Tidak, aku hanya ingat, aku tidur lebih awal karena ingin ke pantai bersama Ros dan Rohan," Laras


"Ini- Bunga melupakan semua yang terjadi sehari sebelum bertemu denganmu Gilang. Bunga bervideo call bersama kami sebelumnya," Dion berbisik ke Gilang


"Ya ampun, selama ini Bunga selalu belajar melawan Prosopagnosia nya karena ingin selalu mengingat Keluargamu Gilang," Riku


"Prosopagnosia??" Gilang


"Eh??? Kau baru tau??? 5 tahun kau menikah dengan Bunga lhoo," Riku


"Bentar Dion, Ryu. Itu- Siapa dia??" Ujar Laras sambil menunjuk Gilang


"La-Laras, aku- aku suamimu, aku Gilang," Gilang


"Hah??? Usiaku masih 24 tahun, bagaimana aku bisa menikah?? Dion, Ryu, katakan dengan jelas," Laras


"Bagaimana kami bisa menjelaskannya Bunga?? Kamu memang sudah menikah dan akan bercerai. Pria ini termasuk masih status suamimu dan akan kandas sebentar lagi," Riku


"Ryu, aku sama sekali tidak mengenal pria ini ataupun tempat ini," Laras


Laras memeluk tangan Dion, Dion tersenyum hangat dan mengelus rambut Laras,


"Bunga tenanglah ya, daijoubu," Ujar Dion dengan kata-kata yang selalu dikatakan Vero saat Laras sedih


Laras mengangguk,


"Gilang, sebaiknya kau pergi dulu, jangan membuat Bunga stress," Dion


Gilang menatap Laras, "Baiklah, aku akan pergi," Gilang


Gilang pergi, dan Dion menidurkan Laras kembali,


"Bunga, kamu istrahat saja dulu ya," Dion


Laras mengangguk,


"Riku, ikut aku," Dion dingin


Dion berjalan pergi duluan setelah menyelimuti Laras.


.


"Kenapa kau menghubungi Bunga?? Kau membuat Bunga mendengar percakapan kita dan Gilang kan??" Dion


"Memangnya kenapa?? Dengan seperti ini Om Rehant pasti akan menggunakan kesempatan untuk mengusir Bunga, dengan seperti itu Bunga bisa pergi tanpa kesedihan. Syukurlah, Bunga amnesia dan hanya mengingat satu hari sebelum bertemu Gilang," Riku


"Apa kau tidak memikirkan jika itu bisa membuat Bunga terluka??? Entah mengapa semua berjalan rumit seperti ini," Dion


"Aku tidak mau membuat Bunga terluka, aku tidak akan pernah membuat orang yang pernah kusuka terluka, aku hanya ingin membuat Bunga berpisah dengan tenang, apa aku salah, Dion?" Riku


Riku meraih tangan Dion,


"Tenanglah, Bunga masih mengingat kita, itu saja sudah cukup," Riku


Dion diam menunduk,


"Waktunya merencanakan hal lain," Bathin Riku.


.


.


.


Sorenya, Laras berjalan-jalan di sekitar Mansion sendirian, Laras yang buta arah semakin lama semakin nyasar,


"Ya Tuhan, kenapa aku bisa nyasar kesini?? Tempat apalagi ini," Laras bertanya-tanya


Tiba-tiba....


Bruk....


Laras terjatuh lalu merintih sakit,


"Ukh, sakit sekali," Laras


"Kamu gak apa??"


Laras melihat seorang pria yang ia tak kenali sama sekali,


"Kau- Kau siapa??" Laras


"Aku harus membantumu berdiri dulu dong sebelum memperkenalkan diri,"


Pria itu menjulurkan tangannya, namun Laras menolak dan bangun sendiri, Pria itu tersenyum miring saat Laras menolak uluran tangannya.


Sementara Laras mengusap-usap kaki serta dress nya karena terkena tanah, Pria itu tersenyum ke Laras, Pria itu kembali menjulurkan tangannya,


"Namaku Azka Ra Tama, aku adalah anak siri Keluarga Tama," Ujar Azka memperkenalkan diri


"Ah namaku Larasati Bunga Sucitra, panggil aja Laras," Laras


"Citra," Panggil Azka


"!!!!" Laras nampak tercengang


Laras menatap Azka,


"Jangan memanggilku dengan itu ya, nama itu hanya khusus satu orang," Laras


"Oho, siapakah itu hm?? Mantan pacarmu??" Azka


"Bu-Bukan, itu- hmm, rahasia," Ujar Laras