
"...mau merendahkanmu atau apa, tapi Om hanya ingin Laras mendapat suami yang baik, mengertilah," Papa Bimo menasehati.
.
.
.
Gilang sempat termurung tapi tak lama Gilang tersenyum,
"Baiklah, saya mengerti Om, saya akan mencari kerja tetap segera mungkin dan saya akan langsung melamar Laras lagi," Gilang serius
"Baguslah," Papa Bimo
"Tapi bolehkah saya main disini dulu Om, saya baru saja sampai di sini," Gilang
"Baiklah. Laras, ajak temanmu ini dulu," Papa Bimo
"Baiklah Papa," Laras.
.
.
.
1 minggu kemudian, saat liburan sudah berakhir, Laras kembali ke sekolah dasar untuk mengajar, di hari pertama, Laras yang walaupun tak bisa naik motor menjadi yang pertama sampai di sekolah, saat teman teman gurunya datang,
"Pagi Nga," sapa 3 orang pria
"Ah pagi Vero, pagi Ryu, pagi Dion," sapa balik Laras
"Kenapa kamu selalu memanggilku dengan Ryu, namaku kan Rikukanha," ujar Ryu sambil duduk di tempatnya yang disampingnya Laras
"Terserah aku dong, kalian aja memanggil aku dengan Bunga," Laras
"Bunga, aku dengar anak kelas 4 yang namanya Roan itu buat masalah lagi ya," Dion
"Ya, kamu kan dulunya guru disana, tapi karena dia anaknya Pak kepsek, kamu jadi harus ngajar kelas 3 kan," Laras
"Hm, iya juga sih ya," Dion
"Tapi dia pandai dalam olahraga kok, nilainya hampir sempurna," timbal Vero yang notabene guru olahraga favorit
"Aku tau itu," Laras
Hening sejenak...
"Eh temen temen, aku mau minta pendapat," Laras
"Tentang??" Ryu
"Sebenarnya waktu tahun baru, ada seorang pria yang melamarku," Laras
Ke-3 pria itu terkejut namun mencoba tak memperlihatkannya,
"Siapa??" Dion
"Entah, aku gak tau. Waktu malam tahun baru, aku diajak sama Kakak ke pantai, aku berenang sendiri dan hampir tenggelam, tapi karena aku hebat berenang, aku masih bisa bertahan beberapa lama diair, saat aku bisa membuka mata aku melihat pria asing itu memeluk dan menciumku," Laras
"Di??" Ryu
"Dimana dia menciummu??" Ryu
Dion memukul pelan kepala Ryu dengan buku notenya yang cukup tebal,
"Akh!! Hei itu sakit tau!!" Ryu
"Kau sudah gila menanyakan itu??" Dion
"Lahhhh, aku kan hanya nanya," Ryu
"Guru agama macam apa kau ini," gerutu Dion
"Sudahlah, kamu gak boleh tau Ryu, itu privasi," Laras
"Bibir," ujar Vero
Laras tersentak, begitupun dengan yang lain,
"Bagaimana bisa kamu tau??" Laras
"Bibirmu masih membengkak dan kamu bilang itu privasi, salah satu privasi kamu kan di bibir," Vero
Laras terkesiap dan sontak membuka kamera ponselnya,
"Pantas kayak ada yang lain darimu Nga," Dion
"Vero, kau mengerti banyak tentang wanita ya, kukira kau seorang yaoi," Ryu
"Kurang ajar kau Rik," Vero
"Tidak, bagaimana bisa aku mengajar sekarang," Laras
"Anak anak ngak akan mengerti masalah dengan bibirmu, kamu bilang aja lagi sariawan," Vero
"Bener juga kata Vero, gak papa Nga," Ryu
"Dan, kamu meminta agar kami berpendapat kan? Aku akan berpendapat, aku tak menyukai priamu itu, mana ada pria yang memang akan setia, tiba tiba datang tanpa diundang dan menciummu tanpa ijin dan langsung mengajakmu untuk menikah. Apakah pria itu sudah gila," Vero
"Wah Vero, itu kalimat terpanjang yang pernah kudengar darimu kecuali di dalam keadaan serius, padahal sudah bertahun tahun kita berteman," Ryu
"Tapi Vero, dia kelihatan sangat baik, dia juga sangat tampan," Laras
Tiba tiba Vero bangkit dan pergi ke belakang Laras, Vero mencubit pipi Laras,
"Akh!!! Vero!!! Sakit!!!" keluh Laras
"Hei Ver, hentikan, kasihan Bunga," Dion
Vero menghentikan cubitannya dan mendekatkan bibirnya di telinga Laras,
"Bagaimana? Apa aku terlihat jahat sekali?" Vero
"Tidak, kita kan sudah berteman sejak kuliah, ya setidaknya aku sudah sangat mengenalmu, jika kamu orang baru maka kamu memang jahat," Laras
"Itulah yang kumaksud, kamu harus mengenal pria itu lebih dalam baru kau tau bagaimana orang itu sebenarnya, apa dia benar benar baik atau hanya pura pura disetiap perbuatannya," Vero
"Tapi dia sangat tampan, aku jadi tak bisa menolak lamarannya itu," Laras
"Ahhh jika kamu sudah terpikat sama wajah, maka kamu tak akan bisa diubah," Vero