Serendipity Affection

Serendipity Affection
Teman Lama



"Bagaimanapun juga, Gilang pasti akan menjadi Pewaris," Rehant


"Aku juga berharap, karena aku tidak mau berada dalam persetanan Keluarga Tama," Rian.


.


.


.


Saat hari minggu, Laras mengajak Gilang ke sebuah restoran ayam cepat saji untuk menemui teman lamanya, saat sudah bertemu,


"Daisy, apa kabar?? Udah lama gak ketemu," Laras


"Kabarku baik, kalau kamu?? Sepertinya kamu sudah memiliki seseorang yaa," ujar Daisy sambil menatap Laras


"Kabarku baik. Oh ya, kenalkan ini Gilang, calon suamiku. Dan Daisy, ini putramu?? Wah lucunya. Anak manis, siapa namamu??" Laras


"Namaku Diaz, aku baru berumur 4 tahun Tante," Diaz


"Wah manisnyaa," Laras


Gilang mengeluarkan coklat,


"Diaz, kamu mau coklat??" Gilang


"Iya aku mau Paman," Diaz


Gilang memberikan coklat itu pada Diaz,


"Diaz, bilang terimakasih pada Paman Gilang," Daisy


"Terimakasih Paman," Diaz


Gilang tersenyum,


"Sama sama anak manis," Gilang


Laras menatap Daisy,


"Daisy, ada apa?? Oh ya, dimana suamimu?? Kenapa gak ajak kesini," Laras


"Laras, sebenarnya aku hamil di luar nikah, pria itu bahkan menghilang saat aku bilang sedang hamil, sekarang aku dibuang oleh Keluargaku, aku dengar sekolahmu bekerja ada lowongan staff, aku ingin meminta bantuanmu Laras," Daisy


"Ah baiklah, aku akan bicara dengan Kepala Sekolah, jika ada dukungan dari Dion dan Vero, mungkin kamu bisa jadi guru tetap secepatnya," Laras


"Benarkah?? Makasih banyak Laras, jika tidak ada kamu mungkin aku akan tetap mencari kerja entah kemana," Daisy


"Ayahnya Diaz benar benar kurang ajar, dia lari dan tidak mau bertanggung jawab, apa dia pria kaya??" Laras


Daisy mengangguk,


"Terus sekarang tinggal dimana??" Laras


"Aku ngekost di dekat sini, untungnya Diaz bukan anak yang rewel," Daisy


"Ah syukurlah. Saat kamu memilih selesai kuliah, aku pikir kamu sudah bahagia, tapi ternyata tidak," Laras


Daisy tersenyum,


"Yang terpenting sekarang aku baik baik saja, jika aku mendapat pekerjaan, aku akan mentraktirmu Laras," Daisy


"Tidak perlu, Bulan Mei adalah bulan pernikahanku dengan Gilang, kamu datang ke pernikahanku saja sudah cukup. Dan ingat, kamu harus membawa Pangeran Kecil ini atau aku akan melarangmu masuk," Laras


"Baiklah, aku akan membawa Diaz saat pernikahan kalian nanti, jadi tanggal berapa kalian akan menikah??" Daisy


"Saat ulang tahunku, ingat ya, rumahku kamu masih ingat kan??" Laras


"Tentu saja," Daisy


.


.


.


Saat sampai rumah Laras, Laras melihat Ayahnya sedang merebus telur asin,


"Papa, kami pulang," Laras


"Laras, Gilang, darimana saja kalian??" Papa Bimo


"Papa kepo banget deh," Laras


Laras duduk di sofa, sedangkan Gilang mendekat ke Papa Bimo dengan bungkusan, disofa, Laras merogoh tas untuk mengambil ponselnya, Laras pun menghubungi Dion namun tak diangkat, Laras pun menelepon Vero, dan Laras yang kebiasaan meloudspeaker saat menelepon.


Di kamar Vero, Vero baru bangun dan mengangkat teleponnya,


"Hallo," Laras


"Kenapa Nga??" Vero bersuara parau khas baru bangun


"Kamu baru bangun??" Laras


"Hn iya," Vero


Di rumah Laras, Gilang kembali dan melihat Laras menelepon,


"Vero, kamu sibuk gak?? Dion gak jawab teleponku soalnya," Laras


"Hm ngak, aku baru bangun, kenapa??" Vero


"Aku mau minta bantuan. Kamu ingat temanku Daisy??" Laras


"Aku ngak ingat, memang ada apa??" Vero


"Itu- dia lagi butuh pekerjaan, bolehkah kamu membantunya dapat pekerjaan di sekolah kita, jadi staff biasa juga gak apa," Laras


"Baiklah, aku akan infokan lagi nanti," Vero


"Baiklah, tolong ya Vero, kasihan temenku itu soalnya," Laras


Di kamar Vero, Vero sudah berdiri dan menatap keluar jendela kamarnya,


"Iya baiklah, tapi biasanya kamu menelepon Dion," Vero


"Sudah kubilang, Dion gak angkat teleponku, ini sangat genting, lagipula ujung-ujungnya ke kamu juga kan,"


"Laras, aku tau kamu lelah setelah tadi, tapi istirahat setelah kamu ganti bajumu dulu lah,"


Vero mendengar suara Gilang dari ujung telepon dan Vero salah paham dan menjadi jengkel,


"Iya Gilang, kamu saja bantuin Papa aja gih," Laras


"Bunga," Vero


"Ah iya Ver, maaf tadi ada Gilang. Vero kalau sudah dapat pekerjaan itu infoin aku ya, biar aku bisa kasih tau Daisy," Laras


"Hn baiklah," Vero


"Baiklah, makasih ya Vero, aku tutup ya, bye Vero," Laras


Laras mematikan teleponnya, Vero yang merasa kesal membanting ponselnya dan beberapa barang di dekatnya, Vero meninju cermin hingga pecah dan tangannya berdarah,


"Bunga, kamu hanya milikku, hanya milikku," Vero.