Sacred Love

Sacred Love
Bab 46



Kini Claudia makin terpuruk dengan ke adaan nya hari hari berlalu senyum claudia mulai hilang dari wajah cantik nya, bahkan teman teman nya juga tak mampu menghibur nya,


Satu Minggu lagi berlalu mereka tetap sama seperti biasa nya mencoba untuk mengibur Claudia, Bahakan Miranda sengaja mengajak cowok kacamata untuk mengibur Claudia, namun Claudia sama sekali tidak mengharukan nya


"Claudia sudah lah, jika kamu begini terus kami juga ikut sedih melihat mu"Ucap Lilia


"Haaa, aku harus apa Lilia aku merasa hilang harapan dari dari diriku, dan ya tak ada lagi yang aku inginkan aku juga tidak mengerti, namun selera hidupku mulai hilang sekarang"Jawab Claudia


"Ya kamu jangan begitu dong Claudia, kan masih ada kami yang akan selalu ada untuk mu, dan kabar baik nya satu Minggu lagi kamu akan mendapatkan pendonor, walau aku tidak tau sih siapa orang yang sangat baik ini, dan kamu akan dapat melihat lagi "Lolita yang mencoba mengibur Claudia


"Wah benarkah Lolita?"Tanya mereka yang penasaran


"Iya aku baru saja dapat, kabar dari seorang dokter di salah satu rumah sakit, namun operasi nya akan di lakukan di rumah sakit milik nya"


"hehe, Claudia apakah kamu tidak senang mendengar itu, kamu akan bisa melihat kembali loh Claudia"tanya Lilia lagi pada Lolita


"Hmm, terimakasih banyak ya kalian semua, aku semangkok mendengar nya, hehe"Jawab Claudia yang teman teman nya tau bahwa Claudia tidak terlalu senang dengan hal itu, Ya terkadang cinta membuat dapat membuat seseorang mati rasa, Bahakan cinta juga dapat membunuh ke jiwaan manusia dan sepertinya itu lah yang di alami Claudia


Sedangkan Ahamad kini datang ke rumah Claudia, wajah Ahamad yang tampan kini mulai pucat, dan rambut nya mulai hilang dari kepala nya, ayah Claudia sangat kaget melihat kondisi Ahamad yang seperti itu, Ramos menyambut Ahamad dengan baik walau tau bahwa Ahamad telah menyakiti hati anak nya, Mereka pun duduk di sofa ruangan tamu, Bibi pun menyiapkan teh untuk mereka, namun bibi tidak mengetahui siapa pemuda yang kini bicara pada Ramos, karna bibi baru pertama kali melihat ahamad


"Nak, ada apa dengan mu, bukan kah kamu kembali Turki nak?"Tanya Ramos pada Ahamad dengan penasaran


"Hmmm, Om sebenarnya aku tidak kembali ke Turki om melainkan kembali kerumah lama ku, aku juga terpaksa melakukan nya, Bukan kah Om telah melihat kondisi ku saat ini"Jawab Ahamad


"Nak apa yang sebenarnya yang terjadi kepadamu, apa yang telah kamu alami, atau kamu sedang sakit sekarang, nak semua nya menghawatirkan mu karna kamu tiba tiba saja menghilang, dan setelah mendengar kepergian mu Claudia dia … Dia sangat terpukul nak hingga kini Om tak pernah lagi melihat senyumnya, apa lagi sekarang dia hanyalah seorang gadis yang buta"


Mendengar ucapan Ramos Ahamad makin merasakan kesedihan, dan kini Ahmad mulai mimisan kembali, Ramos yang melihat pun menjadi panik


"Nak, mari om antar kamu kerumah sakit sekarang"Ajak Ramos


"Tak perlu om, Aku datang kemari Utuk memberi tau Om bahwa satu Minggu lagi aku akan mendonorkan mata ku untuk Claudia"


"Apa ! apa yang kamu bicarakan nak, kamu tau mendonorkan mata bukan lah hal yang mudah untuk di lakukan, kamu bisa saja kehilangan hidup mu nak"Ramos yang kaget mendengar pernyataannya Ahamad


"Hmmm, ini sudah ke putusan ku om, dan ini juga dari pihak rumah sakit tempat aku di rawat, bawah aku telah bersedia mendonorkan mata ku"Ucap Ahamad sambil menguarkan selembar kertas, dan di berikan ke pada Ramos


"Om, hidup ku juga tak lama lagi karna kangker ku sudah mencapai tahap akhir, jadi karna itu aku ingin mata ku menjadi milik Claudia, aku sangat menyesal karna baru mengetahui perasaan ku yang sebenar nya kepada Claudia di saat saat terakhir ku, aku tau dia akan sedih saat ini, namun aku yakin seiring berjalan nya waktu dia akan melupakan ku, dan satu lagi Om aku ingin Om berjanji, ini akan menjadi rahasia kita berdua Jangan pernah om bicarakan hal ini ke pada siapa pun termasuk claudia"Jelas Ahamad


"Astaghfirullah, nak jadi selama ini kamu kesakitan nak, dan nak kamu sungguh orang yang sangat baik sehingga Allah sangat menyayangi mu nak, baik lah jika itu sudah menjadi pilihan mu, om mengerti dan om berjanji Takan memberitahu siapa pun tentang ini, nak aku adalah malaikat nak"Ucap ramos sambil memeluk Ahamad, Ramos sangat perihatin dengan Ahamad namun Ramos juga tidak bisa berbuat apa apa, Ramos hanya bisa merasakan kesedihan terhadap Ahamad


"Om, sudah lah tak perlu menangis, bukan kah semua orang juga akan kembali ke tempat dia seharusnya kembali Om, ini bukan lah akhir dari semuanya melain kan Awal dari hidup yang abadi Om"Ucap Ahamad yang tersenyum ke pada Ramos


"Nak, Om tidak tidak dapat berkata apa apa lagi, kamu sungguh malaikat yang hidup sebagai manusia"


"Hmm, ya baik lah nak jika begitu, Terimakasih nak, terimakasih"Ramos yang hanya mampu memberikan terimakasih


"Baik lah om, aku pergi dahulu dan Ingan lah janji om, karna sesungguhnya janji adalah hutang"


"Iya nak kamu tenang saja Om akan menjaga janji ini dengan baik, karna Om tau kamu tidak ingin semuanya sedih dengan ke adaan mu yang seperti ini"


"Allahamdulillah kalau om mengerti, terimakasih "


Ahamad pun meninggalkan kediaman Claudia, saat ini Claudia dan Lilia pun masuk, namun mereka tidak mengenali bawah yang berselewatan dengan mereka itu adalah Ahamad, karna Ahamad menekan jaket hitam untuk menutupi tubuh serta wajahnya


"Assalamualaikum ayah"


"Wa'alaikumusalam, eeeh anak ayah sudah pulang"Sambut Ramos pada Claudia dan Lilia


"Om"Ucap Lilia sambil menyalami Ramos begitu pun dengan Claudia, mereka pun duduk di sofa bersama


"Ayah apakah ayah Baru saja menangis"Tanya Claudia yang curiga mendengar suara ayah nya yang agak berbeda


"Hehe, tidak nak tidak"Ramos yang ngles


"Om, Om kenapa Lilia tau kok om barusan habis nangis, dan tadi siapa om yang baru keluar dari rumah ini"Tanya Lilia, yang membuat Ramos terdiam Ramos pun mulia berpikir untuk memberi alasan


"Ohh, itu tadi dari pihak rumah sakit tempat Claudia akan di Operasi, dia hanya mengatakan surat jadwal untuk Claudia"Jawab Ramos yang memberikan alasan ke pada mereka


"Ohhh, tapi aku sepertinya tidak asing dengan orang itu, tapi siapa yaa???"


"Hmm, sudah itu hanya perasaan kamu saja,tidak penting"Timpal Ramos


"Oiya bagaimana kuliah kalian hari ini, oiya nak apakah kamu tidak senang mendengar kamu akan segera melihat lagi?"


"Hm ,kuliah hari ini seperti biasanya, ya ayah aku senang, namun kini sepertinya aku lebih menyukai ke buatan ini, dan hidup dalam kegelapan ku"Ucap Claudia, yang membuat Ramos menjadi sedih, Claudia begitu putus asah sehingga buta lebih baik baginya dari pada melihat


"Nak jika Ahamad tau kamu begini dia pasti akan sangat sedih nak"Ucap Ramos


Seketika Claudia melemparkan tas dan tongkat nya


"Jangan pernah ayah sebut nama itu lagi, jika tidak aku, aku aku haaaaaaa brengsek"Teriakan Claudia


Lilia yang melihat Caludia pun langsung memeluk Claudia untuk menenangkannya nya, Lilia langsung membawa Claudia ke kamarnya dan meninggalkan Ramos di bawah sendirian


"Nak andai saja kamu tau bahwa Ahamad sangat ingin sekali membahagiakanmu dan sangat ingin bersama mu, namun takdir berkata lain, entah Kisa macam apa ini, kalian berdua sungguh sangat…haa"Ramos yang menangis