
"Keluarga Rosverd?"
"Iya, perusahaan mereka akan meluncurkan produk baru dan nanti malam acara resminya. Kita akan berangkat jam enam sore, jadi sebentar lagi kau dan ibumu akan pergi ke toko pakaian untuk membeli jas serta gaun baru."
Gavin terdiam mendengar kalimat itu. Ini semua menjelaskan keanehan yang ia rasakan saat mendengar keberadaan ayahnya di rumah, pria tersebut tidak bekerja karena ada acara lain menunggunya. Setelah mencerna informasi itu, si anak mengangguk paham.
"Apakah ada yang mau dibicarakan lagi? Jika tidak ada, aku pergi." Melihat keterdiaman Harris, Gavin pun membalikkan badan, siap untuk melangkah pergi. Namun kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir sang ayah membuat Gavin kembali memutar badan dengan dramatis.
"Nanti kau juga akan memainkan satu piece di acara, keluarga Rosverd memintanya."
"Aku tidak mau," balas Gavin dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Harris sambil menutup buku yang ada di tangannya, lalu meletakkan kepalanya di atas kedua lengan yang sikunya bertumpu di meja.
"Waktunya terlalu mepet. Sekarang sudah jam dua belas siang dan kita akan berangkat enam jam lagi. Sebentar lagi aku dan Rebecca pergi ke toko pakaian yang paling tidak akan memakan waktu empat jam. Lalu—" seru Gavin berusaha memberikan alasan. Namun perkataannya dipotong oleh Harris.
"Panggil dia ibu, Gavin, dan kenapa bisa memakan waktu empat jam di toko pakaian?" peringat serta tanya Harris bingung.
"Dia itu selalu lama kalau membeli baju baru. Satu jam ia habiskan memikirkan untuk memilih baju, kemudian satu jam lagi untuk memikirkan sandalnya, lalu satu jam lagi bingung memilih tas apa yang cocok, dan satu jam lagi bingung harus membeli perhiasan yang mana. Kalau aku 30 menit pasti selesai, tapi dia akan menahanku untuk menanyakan mana yang bagus," keluh Gavin dengan wajah lelah. Ini selalu terjadi setiap dirinya bersama Rebecca pergi membeli baju baru untuk suatu acara.
Melihat wajah kesal yang sebenarnya cukup lucu di mata Harris, membuatnya tersenyum kecil. Entah kapan terakhir kali ia melihat anaknya ini mengeluh dengan wajah ogah-ogahan. Memang sejak sepeninggalan istri pertamanya, Gavin mulai menjauh dari semua anggota keluarga Kanagara. Dan jarak itu makin menjauh ketika dirinya menikahi Rebecca.
"Dan ayah tahu kalau setidaknya aku butuh satu jam untuk menghafal satu piece." Lanjut Gavin dengan mengembuskan napas pelan.
"Kalau begitu kau bisa membawa buku pieces-mu dan berlatih di sela waktu menunggumu. Gavin, ini merupakan permintaan langsung dari mereka dan sulit untuk menolaknya karena keluarga kita sudah bekerja sama dengan mereka sejak lama. Dan jika para tetua mendengar penolakanmu, kau bisa dimarahi. Jadi, bisakah kau menuruti permintaan itu?" Harris berusaha meminta pengertian Gavin dengan kalimat selembut mungkin. Gavin menatap dalam netra Harris yang warnanya tak beda jauh darinya, beberapa detik kemudian ia mengangguk lemah.
"Baiklah, aku akan bermain."
Harris tersenyum, "terima kasih."
...⁕⁕⁕ ...
Jarum pendek telah mengarah pada angka enam dan jarum panjangnya menunjuk angka dua belas, membuat Harris—dan Gavin—menatap lantai dua rumahnya dan berteriak, "sweetie, kita harus berangkat sekarang!"
Tak lama terdengar teriakan balasan yang suaranya cukup menggema, "I'm coming!" Beberapa detik setelah mengatakan kalimat itu, Rebecca muncul dari tangga dengan gaun panjang biru dongkernya. Terlihat sangat anggun, namun juga seksi karena tipe bajunya yang off-shoulder serta di bagian kakinya terdapat belahan setinggi paha. Harris yang melihat itu terdiam dan tersenyum penuh cinta.
"Beautiful," puji Harris sambil mengecup pipi Rebecca. Sang istri hanya terkekeh dan memuji ketampanan Harris dengan bisikan.
Gavin yang sejak tadi melihat kemesraan pasangan itu berdeham, membuat keduanya sedikit tersentak dan tertawa canggung.
"Erlan sudah bersama pengasuh?" tanya Harris yang dijawabi anggukan oleh Rebecca.
"Kalau begitu, ayo, berangkat," ajak Harris sambil berjalan keluar rumah dengan tangan menggandeng Rebecca. Gavin hanya diam dan mengikuti dari belakang.
Di pekarangan rumahnya sudah terparkir dua mobil sedan putih, siap untuk mengantar ketiga orang itu ke tempat acara. Harris dan Rebecca memasuki mobil pertama, sedangkan Gavin sendirian memasuki mobil yang kedua. Tak lama, kedua mobil itu berjalan meninggalkan rumah untuk sementara waktu.
Selama perjalanan, Gavin sibuk memandangi pemandangan jalanan kota yang cukup ramai. Kepalanya sejak tadi hanya memikirkan dua hal, yaitu kemesraan pasangan yang berada di mobil depannya dan piece yang akan ia mainkan nanti. Melihat pasangan yang penuh cinta itu membuat Gavin teringat kembali akan kehidupan keluarganya ketika ibunya masih bersama ayahnya, entah kenapa Gavin merasa ayahnya lebih mencintai Rebecca daripada ibunya. Ketika sadar akan pikiran itu Gavin langsung tertawa dalam hati. Tentu saja seperti itu, ibunya telah meninggal sepuluh tahun lalu, Gavin bahkan tidak yakin apakah masih ada rasa cinta dari ayahnya untuk ibunya atau apakah hatinya telah berubah dan tak lagi mencintai ibunya.
Di tahun kedua kematian ibunya, ayahnya tiba-tiba datang pada Gavin dengan membawa seorang wanita, yang tak lain merupakan Rebecca. Gavin yang masih berumur delapan tahun pun kebingungan. Gavin ingat sekali, ayahnya berusaha untuk menjelaskan dengan perlahan siapa wanita itu dan bagaimana hatinya untuknya. Ia pun tidaklah bodoh untuk menyadari maksud ayahnya untuk menikahi Rebecca sehingga muncul satu kata di hatinya, pembohong.
Tak lama setelah pertemuan itu, ayahnya menikahi Rebecca dengan acara yang sangat meriah dan penuh kesukacitaan dari seluruh anggota keluarga Kanagara. Sangat berbeda dengan pernikahan ayah dan ibunya yang hanya diadakan di gereja dan hanya satu anggota keluarga Kanagara yang datang.
"Tuan, kita sudah sampai." Perkataan sang sopir menarik kesadaran Gavin. Ia pun menatap luar jendela dan benar saja, sebuah bangunan nuansa Eropa dengan dekorasi mewah berada di depannya. Tak lama pintu sebelah Gavin duduk terbuka dan setelah mengembuskan napas pelan, Gavin memindahkan kakinya ke tanah dan keluar secara perlahan dari mobil. Dan ketika ia menoleh ke kanan, Harris dan Rebecca juga telah turun.
Kedatangan keluarga Kanagara tentu menarik perhatian seluruh orang di sana karena ini menjadi kemunculan perdana mereka di sebuah acara kelas atas. Tak butuh waktu lama satu keluarga itu dikerubungi oleh tamu-tamu yang datang, berbagai kalimat penuh pujian dilontarkan dengan wajah penuh senyuman. Gavin yang sadar kalau keberadaannya kurang diperhatikan—karena seluruh atensi diberikan pada pasangan di depannya—pun secara perlahan menyingkir dari kerumunan dan berhasil. Gavin telah menjauh dari sana dan berjalan tanpa arah. Ketika matanya mengedar ke seluruh sudut ruangan, tanpa sengaja kedua netra biru kehijauannya menangkap satu sosok yang terasa familier. Setelah memastikan, Gavin tersenyum dan berjalan mendekati sosok itu.
Meskipun sosok itu berdiri di tempat yang cukup gelap, entah kenapa Gavin yakin akan identitas sosok itu. Semakin mendekat, semakin yakin dirinya. Berbeda dengan sosok itu yang masih memberikan wajah bingung. Ketika jarak antara Gavin dan sosok itu hanya sekitar tiga langkah, raut wajah sosok itu berubah menjadi terkejut.
"Halo, Arunika," sapa Gavin dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantong celana.
"Kenapa kelihatannya senang banget?" tanya Gavin sambil mengubah posisi berdirinya menjadi di samping Arunika.
"Karena akhirnya punya teman di sini, sejak tadi aku sudah kebosanan karena tidak ada yang bisa diajak bicara," balas Arunika sambil mengambil satu kue kecil dan memberikannya pada lelaki di sebelahnya.
"Rasanya seperti lemon cake, atau mungkin ini memang lemon cake dengan bite-size. Dari semua kue, menurutku ini yang paling enak." Gavin dengan senang hati menerima kue itu dan memakannya dalam satu suap. Beberapa saat kemudian ia mengangguk, membenarkan perkataan Arunika.
"Benaran kau sudah mencoba semua kue di sini?" tanya Gavin sambil menatap meja panjang di sebelah Arunika.
"Iya, aku sudah di sini sekitar tiga puluh menit lalu," balas Arunika dengan nada yakin, lalu mencomot kembali satu kue lemon dari sana.
Gavin yang melihat itu terkekeh, "sangat terlihat kebosananmu," komentarnya bercanda.
"Sudah kubilang, 'kan? Satu-satunya yang menyelamatkanku adalah kue-kue di sini." Arunika dengan pipinya yang sedikit mengembung karena sedang mengunyah, Gavin sedikit gemas dibuatnya.
"Dan karena kau terus makan, kau jadi tidak menyadari noda di sini?" Jari Gavin bergerak secara lembut di sudut bibir Arunika yang terdapat noda kue, entah kue yang mana perempuan itu makan. Arunika yang menyadari tindakan Gavin sedikit terkejut dan mengusap kembali sudut bibir yang Gavin usap.
"Apakah sudah hilang?" Gavin mengangguk sambil tersenyum.
"Terima kasih, teman," ujar Arunika yang membuat sebuah sudut di hati Gavin sedikit berdenyut.
"Perasaan ini lagi," batin Gavin. Denyutan itu sebelumnya ia rasakan dua hari lalu, ketika ia meminta pada Arunika untuk tidak mencampuri keputusannya, dan sekarang muncul kembali. Apa penyebabnya? Namun pikiran itu dengan cepat tersingkirkan karena ia kembali mengingat kejadian dua hari lalu.
"Maaf." Arunika menoleh untuk menatap Gavin dan memberikan wajah bingung.
"Kenapa kau meminta maaf?"
"Dua hari lalu, aku terlalu kasar padamu." Arunika terdiam dan berusaha mengingat kembali kejadian yang disinggung oleh Gavin.
"Oh ... kejadian di lapangan indoor? Dengan gengnya Archie?" Gavin mengangguk sebanyak dua kali, membenarkan kedua pertanyaan si perempuan. Arunika pun tersenyum dan menggoyangkan pelan keempat jarinya.
"Tidak apa, aku paham maksudmu. Lagi pula aku juga sudah melewati batas, aku tidak bisa memaksakan pendirianku pada orang lain. Jadi, maafkan aku juga, ya," balas Arunika dengan nada lembut dan tatapan lurus pada Gavin. Pria yang mendapatkan tatapan itu tersenyum, membalas senyuman Arunika.
"Oh ya, terus handphone-mu bagaimana?"
"Beli baru lah, mau bagaimana lagi? Handphone-nya benar-benar rusak, untung aku masih ingat ID dan password-nya, jadi semua isinya masih aman." Gavin mengangguk paham.
Beberapa detik kemudian lampu-lampu panggung menyala dan mengarah pada satu orang di sana. Gavin dan Arunika mengenalnya sebagai kepala keluarga Rosverd, alias orang yang memimpin acara ini. Sekitar tiga puluh menit pria tersebut mempresentasikan segala hal yang berhubungan dengan produk barunya yang terpampang di samping panggung. Setelah itu, acara berjalan seperti sebelumnya—minum dan berbicara dengan orang lain—namun dengan topik yang berbeda, yaitu, tentang produk baru keluarga Rosverd.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Arunika pada Gavin setelah sang kepala keluarga turun dari panggung.
"Cukup berguna untuk kehidupan sehari-hari, apalagi daya pakainya juga tidak terlalu besar," komentar Gavin yang dibalas anggukan setuju oleh Arunika.
"Kalau begitu kau akan membelinya?" Dahi Gavin mengernyit, sedangkan Arunika tertawa.
"Aku sudah memiliki barang yang fungsinya serupa dan masih baik-baik saja, jadi kenapa aku harus membeli yang baru?" balas Gavin dengan santai. Arunika mengangguk paham.
"Berarti apakah kau begitu juga dalam menjalin hubungan?" Sungguh, pertanyaan ini tak pernah Gavin duga keluar dari mulut Arunika. Karena sedikit terkejut dengannya, pria itu terdiam sebentar, sedangkan Arunika menaikkan satu alisnya menunggu jawaban dari Gavin.
"Aku tidak tahu, karena aku belum pernah berpacaran." Jawaban yang cukup membuat Arunika terkejut karena perempuan itu awalnya memiliki dua dugaan tentang jawaban Gavin, Gavin akan menjawab iya dengan sikap percaya diri atau tidak dengan sikap malu. Namun Arunika memahami jawaban mengambang itu.
"Memang lebih baik menjawabnya seperti itu." Kalimat itu Arunika akhiri dengan kekehan, tanpa menyadari wajah sendu yang Gavin tunjukkan.
"Halo, maaf mengganggu percakapan kalian, boleh aku interupsi sebentar?"
...⁕⁕⁕...