RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 27: JATUH CINTA



Terhitung tiga hari lagi sampai akhirnya hari kasih sayang datang. Arunika dan pengurus OSIS lainnya juga menjadi makin sibuk untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan, mulai dari packing hampers sampai mendekorasi hall kecil-kecilan untuk acara live music. Mereka yang biasanya pulang jam empat sore, menjadi pulang di jam lima atau enam sore. Ini semua terjadi sejak sembilan hari lalu.


Berbeda dengan Arunika yang penuh kesibukan, Gavin dipenuhi oleh kefrustrasian dan kebingungan mengenai perasaan menjanggal yang dirasakannya sejak berhari-hari lalu. Memang ia sudah menemukan satu piece yang sesuai dengan sebagian dari perasaan hatinya, namun sampai sekarang ia kembali mengalami stuck dan tak tahu harus bagaimana lagi.


"Run, kalau aku main dua piece di acara nanti, boleh?" tanya Gavin pada Arunika yang duduk di lantai memperhatikan anggotanya yang sedang memasang judul acara di tembok. Ia menanyakan hal itu untuk berjaga-jaga jika pada akhirnya ia berkeinginan untuk memainkan dua piece, setelah mendapatkan piece lain yang diinginkan.


Arunika pun menolehkan kepalanya sebentar pada Gavin yang duduk di sampingnya membantu pekerjaan OSIS dengan menggunting hiasan-hiasan kecil di sekitar judul acaranya, "tentu saja boleh, acaranya akan menjadi lebih meriah," jawabnya santai.


Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana Gavin bisa membantu pekerjaan OSIS. Hal ini merupakan dampak dari hubungan keduanya yang semakin hari semakin dekat. Sejak OSIS mulai lembur, Gavin hampir setiap hari menemani Arunika. Awalnya hanya diam saja, tak melakukan apa pun, namun secara perlahan Gavin menawarkan bantuan pada pengurus lainnya ketika dirasa perlu bantuan. Pengurus lain pun merasa senang dengan kehadiran Gavin dan membiarkannya di sana, karena itulah akhirnya Gavin sekarang bisa duduk bersama pengurus-pengurus lainnya dan memulai hubungan pertemanan.


Kedekatan Arunika dan Gavin pun lambat laun menimbulkan kecurigaan di dalam diri para pengurus. Banyak yang merasa kedekatannya sudah tidak terlihat seperti teman lagi dan lebih terlihat seperti sepasang kekasih. Namun keduanya selalu mengelak ketika ditanyai hal tersebut. Karena hampir setiap hari melihat interaksi adam dan hawa itu, mulailah para pengurus menyadari ketertarikan Gavin pada Arunika. Itu semua bisa terlihat di kedua matanya ataupun tindakan-tindakan kecil yang pria itu lakukan. Contohnya, tatapan Gavin selalu melembut ketika menatap Arunika, Gavin yang selalu menertawakan seluruh perkataan Arunika, Gavin yang tidak membiarkan Arunika untuk melakukan pekerjaan berat—seperti mengangkat barang—dan Gavin yang selalu mengingatkan Arunika untuk minum.


Menyadari semua tindakan penuh perhatian itu, tak ada satu pun yang tidak setuju kalau Gavin memiliki perasaan pada Arunika. Meski begitu, tidak ada yang mau memberitahu Gavin karena hal tersebut bukanlah ranah mereka untuk ikut campur. Lagi pula, enak juga melihat konten manis tiap hari dari sejoli itu. Kadang mereka tak sengaja melihat Gavin yang tanpa sadar merangkul pundak ataupun pinggul Arunika, atau saat Arunika lagi fokus-fokusnya dengan tugas, Gavin akan menyuapkan makanan pada Arunika dengan alasan tak mau Arunika tumbang lagi. Dan anehnya lagi, Arunika sudah terbiasa dengan semua tindakan tersebut dan membiarkannya. Awalnya pun pengurus OSIS lain agak terkejut—ada juga yang baper—tapi sekarang sudah terbiasa saking seringnya.


"Okay, kita istirahat dulu, ya, lima belas menit. Setelah itu kembali lagi ke sini buat melanjutkan dekorasinya," ucap Arunika dengan suara yang keras agar bisa terdengar di seluruh penjuru ruang hall. Kalimat itu pun diiakan oleh semuanya dan secara perlahan mereka berhambur keluar ruangan, entah untuk membeli makanan atau sekadar mencari udara segar.


Gavin mengeluarkan jajanan ringan yang ia beli saat istirahat kedua sekolah tadi, lalu memberikannya pada Arunika. Sekarang keduanya sedang duduk di pinggir panggung dengan kaki yang dibiarkan menjuntai ke bawah. Arunika pun menerima pemberian itu dan memakannya dengan senang hati.


"Enak banget, serasa punya manajer," komentar Arunika sambil tertawa. Tentu Arunika membicarakan Gavin yang selalu menyediakan makanan untuknya, Arunika menjadi merasa ada yang melayani. Gavin hanya bisa mendengus mendengar itu.


"Kenapa kau akhir-akhir ini menemaniku? Keluargamu tidak marah kau pulang larut?" tanya Arunika sambil mengunyah makanannya.


Gavin mengembuskan napas lalu menundukkan kepalanya menghadap lantai sambil mengayun-ayunkan kakinya, "karena setiap sampai rumah aku akan selalu masuk studio dan berdiam diri di sana memikirkan piece mana yang harus kupilih." Arunika mengernyitkan dahinya.


"Kau ada masalah?" Arunika memang selama ini belum mengetahui masalah batin yang Gavin alami akhir-akhir ini. Si pria pun juga tidak ada niatan untuk bercerita karena melihat Arunika yang sangat sibuk, ia tak ingin mengganggu perempuan itu dengan masalahnya. Namun akhirnya Gavin memilih untuk bercerita, ia hanya ingin berkeluh kesah.


Gavin pun menceritakan dengan jelas dan mendetail mengenai masalah yang dialaminya. Mulai dari dirinya yang pusing karena tidak menemukan piece sesuai dengan keinginannya sampai ke kefrustrasiannya akibat perasaan menjanggal yang masih ada meski telah menemukan satu piece yang sesuai dengan perasaan sayangnya pada sang ibu. Arunika mendengarkannya dengan saksama dari awal hingga akhir, meski beberapa kali cerita itu harus terhenti karena Arunika yang menyuapkan makanan untuk Gavin. Bercerita itu juga butuh tenaga, 'kan?


Arunika menepuk-nepuk tangan Gavin dengan semangat, membuat Gavin menaikkan satu alisnya. Arunika mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya pada grand piano tersebut. Awalnya Gavin berpikir telunjuk itu untuk dirinya, namun setelah diamati, telunjuk itu tidak tertuju lurus padanya, melainkan pada hal lain di belakangnya sehingga Gavin menolehkan kepalanya dan akhirnya memahami ke mana Arunika menunjuk.


"Bisakah kau mainkan satu lagu? Terserah mau lagu apa, aku hanya ingin melihatmu bermain," pinta Arunika dengan tatapan penuh permohonan, sedangkan Gavin mengerutkan dahinya bingung. Ia tak paham mengapa Arunika tiba-tiba memintanya untuk bermain, tapi karena perempuan itu meminta, Gavin pun merasa tidak ada salahnya menuruti permintaan itu sehingga ia berdiri dari duduknya—diikuti oleh Arunika—dan berjalan mendekati benda besar berwarna hitam legam itu.


Gavin mendudukkan dirinya dan bergerak menyamankan posisi duduknya, kemudian ia meletakkan kesepuluh jarinya di atas puluhan tuts itu. Sebenarnya ia tak tahu harus memainkan apa sehingga ia terdiam dengan pandangan lurus ke Arunika yang berdiri di samping piano dengan wajah berbinarnya. Sekitar lima detik keduanya berada dalam posisi tersebut sampai akhirnya terlintas beberapa nada di kepala Gavin.


Muncul keraguan dalam diri Gavin setelah menyadari piece asal dari nada tersebut. Piece tersebut terkenal cukup sulit untuk dimainkan karena harus melibatkan perasaan yang cukup kompleks. Singkatnya, piece ini menceritakan bagaimana seorang pria menyukai seorang perempuan namun tak pernah menyadarinya sampai akhirnya mereka nyaman dalam status pertemanan. Ketika ia sadar, semuanya sudah terlambat. Namun pesan dari piece ini bukanlah tentang penyesalan pria tersebut, melainkan lebih kepada si pria yang lega karena terlambat menyadari perasannya. Si pria tidak pernah merasa pantas untuk perempuan tersebut sehingga ia tidak pernah sekali pun berpikir bisa bersanding dengannya. Meskipun begitu, si pria akan selalu merasa jatuh cinta padanya dan bertekad untuk mempertahankan perasaan itu dalam waktu lama.


Setelah mempertimbangkan, akhirnya Gavin memutuskan untuk mencobanya. Jari-jarinya menekan tuts-tuts di sana dan mulai terdengar alunan indah dari piano itu, bahkan suaranya mampu mengisi keheningan di ruangan itu. Arunika menelengkan kepalanya ke kanan dan kiri, menikmati melodi lembut dan halus yang keluar dari sana. Ia pun bisa menangkap perasaan yang sulit dijelaskan olehnya. Jatuh cinta yang bercampur dengan kelegaan? Arunika menjadi bertanya-tanya dalam hati, apakah jatuh cinta memang bisa membuat kita selega itu?


Kekhawatiran Gavin secara perlahan memudar dan malah merasa nyaman memainkannya, entah kenapa Gavin merasa bisa memahami perasaan pria itu. Padahal selama ini Gavin kurang menyukai piece tersebut karena selalu terkendala dalam memahami perasaan pria tersebut. Namun sekarang ia malah bisa memainkannya dengan lancar.


Adam dan hawa itu pun akhirnya menikmati permainan musik itu sampai akhir. Mereka tak menyadari kalau tidak hanya ada mereka berdua saja di sana, seluruh pengurus telah kembali ke hall dan menyaksikan penampilan singkat Gavin. Ruangan yang awalnya diisi oleh alunan musik itu sekarang dipenuhi oleh suara tepuk tangan dan kalimat-kalimat penuh pujian.


Akan tetapi, lelaki yang ditepuk tangani malah menatap piano yang ada di depannya dan menyadari, sejak awal memainkan piece tersebut, tidak muncul perasaan janggal ataupun kurang puas dalam dirinya. Ia pun menoleh menatap Arunika yang baru saja menyuruh anggotanya untuk melanjutkan pekerjaan. Ia memberikan tatapan yang seakan mengatakan, aku menemukannya. Arunika menangkap pesan itu dan tersenyum lembut.


"Ada kalanya kita harus membiarkan perasaan mengambil alih dan mengatakan keinginannya. Tidak selamanya masalah selesai dengan logika karena di dalam dirimu tidak hanya ada otak, tapi juga ada hati," tutur Arunika dengan suara lembutnya, lalu menepuk pelan badan piano tersebut dan berjalan meninggalkan Gavin yang masih terdiam.


Beberapa saat kemudian, Gavin beranjak dari dirinya dan berjalan menyusul Arunika yang sedang berbicara singkat dengan Della, ketua sekbid enam OSIS. Sebelum Della berjalan pergi, ia berbicara dengan nada jahil.


"Gavin lagi jatuh cinta, ya? Kesan jatuh cintanya kuat banget di permainan tadi."


...⁕⁕⁕...