
"Kenapa kau menghindariku tiga hari terakhir ini?" tanya Arunika dengan tatapan tajam sembari mengikis jarak wajahnya dengan Gavin secara perlahan, sedangkan Gavin menahan masing-masing bahu Arunika dengan kedua tangannya.
"Ada hal ... yang harus aku pertimbangkan secara mendalam," jawab Gavin setelah beberapa saat terdiam. Ia sungguh tak menduga Arunika akan mengambil tindakan seperti ini. Namun jika gadis itu sudah melakukan hal tak terduga, maka artinya Gavin telah melewati batas.
"Baiklah, aku memahaminya, tapi apakah harus sejauh ini kau melakukannya? Setiap kita berada di satu tempat yang sama, kau langsung pergi dengan berbagai macam alasan. Kau bahkan langsung kabur setelah melihatku," ujar Arunika dengan penuh kekesalan di setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia bahkan sampai menjeda sedikit di tiap kalimatnya untuk menarik napas.
"Kau tahu? Aku merasa ... sedih," lanjut gadis itu dengan suara yang memelan di akhir kalimat, sedangkan sejak tadi Gavin hanya diam mendengarkan seluruh keluh kesah Arunika. Ia menjadi merasa tidak enak pada perempuan itu dan benar, meski dirinya membutuhkan waktu untuk mengatur perasaannya, namun ia tidak bisa meninggalkan perempuan itu dalam tanda tanya besar. Bagaimana pun juga Arunika tidak tahu apa yang terjadi dalam dirinya.
Di sisi lain, Arunika merasakan sebuah "kesadaran" yang menurutnya cukup aneh, kenapa dirinya merasa sedih? Padahal sepertinya perasaan yang menyelimuti selama Gavin menghindar adalah kebingungan dan kekesalan.
Gavin mengembuskan napas kecil sambil tersenyum tipis, lalu dengan lembut mengambil kedua tangan Arunika yang berada di kedua samping tubuhnya dan menggenggamnya. Ia sedikit menundukkan kepalanya agar bisa sejajar dengan wajah mungil Arunika.
"Kau benar, seharusnya aku tidak bertindak sejauh ini. Maaf, ya, sudah membuatmu merasakan hal ini." Kalimat penuh kelembutan serta ketulusan itu membuat Arunika terdiam sejenak. Netra coklat terangnya menatap lurus pada netra biru kehijauan di depannya, entah apa yang dicarinya melalui tatapan itu. Satu hal yang Arunika sadari tentang situasi mereka saat ini. Gavin adalah pria yang tulus dan perhatian pada orang di sekitarnya—meski awalnya selalu dianggap cuek dan dingin—namun saat ini, ketulusan serta perhatian pada Arunika tidak seperti biasanya. Ada yang berubah dari tatapan itu.
Gavin menaikkan satu alisnya ketika melihat tidak adanya respons dari Arunika, "Run?" panggilnya sambil mengusap pelan punggung tangan Arunika dengan jempolnya sehingga kesadaran perempuan itu tertarik kembali.
"Kau masih marah, ya?" tanya Gavin dengan wajah sedih yang dibuat-buat. Arunika mendengus mendengar itu lalu secara perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Gavin.
"Kau bisa bercerita padaku tentang hal yang kau pertimbangkan selama berhari-hari itu, yang bahkan sampai membuatmu harus menjauhiku," ucap Arunika dengan sedikit bergumam di enam kata terakhir. Namun tentu saja masih bisa didengar oleh Gavin sehingga pria itu hanya bisa terkekeh. Cukup lucu dan menyenangkan melihat Arunika yang terlihat kesal seperti ini.
"Aku akan menceritakannya setelah acara besok selesai, bagaimana?" balas Gavin meminta pendapat sekaligus kesepakatan dari Arunika. Tanpa perlu berpikir lama Arunika mengangguk setuju.
"Sebenarnya tidak apa jika kau tidak ingin menceritakannya, aku hanya bercanda tadi. Tapi jika kau ingin, aku siap untuk mendengarnya." Usai mengatakan kalimat penuh pengertian itu, Arunika memberikan senyuman cerahnya, membuat Gavin ikut tersenyum. Rambut coklat kemerahan Arunika kembali Gavin usap—entah untuk yang ke berapa kalinya, Arunika tidak mempermasalahkannya karena sudah sering terjadi.
"Kalau begitu, ayo, balik ke depan. Kita sudah membuat mereka menunggu lama," ajak Arunika sambil membalikkan tubuhnya dan memberikan punggung ke Gavin. Lelaki itu tersenyum lebar sambil menggeleng tak habis pikir. Bukan karena tindakan Arunika, namun karena dirinya sendiri. Melalui kejadian ini ia tersadar, dirinya benar-benar membutuhkan kehadiran Arunika di sekitarnya agar bisa tersenyum lebar seperti ini.
Kemunculan Arunika dan Gavin dari balik backstage cukup mengundang perhatian seluruh orang di sana, terlebih auranya yang terkesan lebih cerah dan penuh persahabatan—tidak seperti sebelumnya. Semuanya pun menganggap, masalah antar kedua insan itu telah diselesaikan dengan baik karena tidak terdengar suara teriakan sejak mereka berbicara empat mata.
Dua orang beda jenis kelamin itu mengambil duduk di sebelah Hera dengan Arunika yang akhirnya duduk di tengah Hera dan Gavin. Hera memberikan kembali kertas rundown yang sempat ditinggalkan tadi pada pemiliknya.
"Sudah berbaikan?" tanya Hera menyindir keduanya.
"Sudah, dong, kalau belum, aku pasti akan kembali ke sini sendirian," jawab Arunika dengan penuh kebanggaan, sedangkan Gavin lagi-lagi hanya tersenyum. Hera pun mendengus sambil tersenyum lalu mengangguk kecil.
Informasi tersebut pun membuat para pengisi acara mengambil tasnya masing-masing di bangku penonton dan pergi meninggalkan hall setelah berpamitan. Kemudian Arunika menoleh ke Gavin, "kau tidak pulang?" tanyanya setelah menyadari Gavin yang sepertinya tidak memiliki niatan untuk beranjak sedikitpun dari kursinya.
"Aku ingin menemani kalian, boleh?"
Arunika menaikkan kedua bahunya tak acuh, "silakan saja." Gavin pun tersenyum senang mendengar permintaannya yang diizinkan, lalu beranjak dari duduknya untuk mengikuti Arunika yang sudah berjalan menuju kumpulan teman seorganisasinya. Hera hanya bisa menggeleng tak habis pikir melihat tingkah Gavin.
Meski hubungan keduanya telah kembali seperti semula, Gavin sekarang selalu memikirkan segala tindakannya pada Arunika, antara takut perempuan itu sadar akan perasaannya dan takut kalau-kalau Arunika tidak nyaman. Memang terasa lebih sulit, berbeda saat dirinya yang belum sadar akan perasaannya. Namun juga tak sedikit pun terbesit rasa sesal dalam dirinya. Tak ada yang perlu disesali ketika sebuah perasaan baru datang dalam hidupnya.
Akhirnya di pukul enam sore, seluruh pekerjaan para pengurus OSIS telah terselesaikan. Semuanya bersorak senang sambil bertepuk tangan dan sekarang, mereka bersiap untuk pulang. Tak lama satu per satu orang di ruangan itu pergi meninggalkan hall, begitu juga dengan Arunika, Gavin, dan Hera. Ketiga orang itu pun berpisah di depan gerbang sekolah karena masing-masing jemputan telah menunggu.
Gavin akhirnya menginjakkan kaki di lantai rumahnya jam enam lebih dua puluh menit. Dirinya berjalan dengan santai menuju kamarnya, tak menyadari eksistensi ayahnya yang duduk di sofa ruang keluarga dengan tablet kesayangan di tangannya.
"Gavin," panggil Harris yang membuat Gavin sedikit terkejut. Dengan cepat Gavin mengalihkan pandangannya pada sang ayah yang tumben sekali berada di luar ruang kerjanya.
"Ayah tumben sekali berada di sini, biasanya di ruang kerja terus," ujar Gavin mengutarakan keterkejutannya.
Harris menaikkan kedua bahunya tak acuh, "sedang mencari suasana baru saja." Gavin pun mengangguk paham.
"Kenapa beberapa hari terakhir ini rasanya kau pulang telat terus?" tanya Harris setelahnya dengan santai. Sebenarnya ia tak masalah sang anak pulang di jam-jam seperti ini karena yakin Gavin sudah mampu untuk menjaga dirinya sendiri dan tahu batasan. Hanya saja, tindakan pulang larut itu bukanlah ciri khas anaknya.
Gavin tidak menduga ayahnya akan menanyakan hal ini sehingga ia terdiam sebentar lalu menjawab, "besok sekolahku ada acara untuk merayakan valentine's day dan aku menjadi salah satu pengisi acaranya." Harris mengangguk pelan mendengar jawaban tersebut. Kemudian terjadi keheningan di sana.
Melihat sang ayah yang sepertinya tak ingin mengatakan apa-apa lagi, Gavin pun membenarkan posisi tasnya yang hanya menggantung di satu pundak lalu memasukkan tangan kirinya ke kantong celana.
"Apakah ada yang ingin ayah kata—"
"Hari Minggu besok kita akan mengunjungi makam ibumu."
...⁕⁕⁕...