
"Kurasa lebih baik membeli boneka dengan ukuran ini," saran Hera pada kelima anggota OSIS di hadapannya dengan tangan memegang boneka beruang coklat muda berukuran sedang.
Laura, yang menjabat sebagai bendahara satu OSIS, mengangguk setuju, "dari segi harga juga lebih murah dari boneka-boneka merek lain yang seukuran dengannya," ucapnya mendukung pilihan Hera. Kemudian Hera dan Laura menatap Arunika yang menyilangkan dua tangannya di depan wajah dan memberikan wajah berpikir.
Arunika terdiam sampai akhirnya ia mengangguk pelan, "aku tidak masalah, yang lain bagaimana? Ada yang tidak setuju?" Fernando—wakil satu OSIS—membentuk tangannya menjadi huruf x di depan dada, tanda ia setuju dengan pilihan ketiga perempuan itu. Lalu Deano—ketua sekbid satu OSIS—dan Keyla, ketua sekbid tiga OSIS, mengangguk kepalanya. Dengan begitu, semua orang di sana setuju sehingga mereka membeli boneka itu sesuai dengan pesanan. Untungnya, mereka mendapatkan diskon karena membelinya dengan banyak, yang tentu saja menarik senyuman di wajah keenam murid itu.
Hari kasih sayang tinggal tiga belas hari lagi sehingga Arunika dan pengurus OSIS lain—yang terbagi dalam beberapa kelompok—mulai membeli benda serta makanan yang akan dibungkus menjadi sebuah hadiah untuk kegiatan Show Your Love. Singkatnya, OSIS akan menjual hampers yang berisikan boneka—yang barusan dibeli—buket bunga berukuran kecil, dan beberapa macam coklat. Tahap pemesanan hampers ini dilakukan selama sembilan hari dan telah usai sehingga hari ini OSIS mulai membeli barang-barangnya hari ini. Kemudian di hari perayaan, pengurus OSIS sebagai perantara akan mengantarkan hampers tersebut sesuai dengan orang yang dituju oleh si pemesan. Namun pemesan juga bisa mengambilnya sendiri dan memberikannya secara langsung.
Setelah membeli boneka, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sambil menunggu kelompok anggota yang membeli berbagai macam coklat kembali. Sehabis itu, mereka pun mengunjungi rumah Arunika untuk mulai mengerjakan hal-hal kecil, seperti melepas label harga dan menyiapkan hiasan bungkusan hampers-nya. Rumah Arunika dipilih karena merupakan tempat yang paling dekat dengan toko yang mereka kunjungi, apalagi orang tua Arunika juga tidak ada di rumah karena ada pekerjaan di luar kota.
Kesebelas anak muda itu mengerjakan tugasnya dengan santai sambil terus berbicara satu sama lain, membahas kegiatan yang akan diadakan juga di hari kasih sayang, Unspoken Word dan live music. Unspoken Word akan dilakukan secara daring di media sosial OSIS, di sana para siswa bisa menuliskan sesuatu untuk orang lain, secara anonim maupun tidak. Dan untuk live music, seperti namanya, jadi tidak ada yang bisa dijelaskan.
Saat Arunika lagi enak-enaknya berbicara, seorang maid berdiri tak jauh dari tempat Arunika duduk dan berbicara dengan sangat sopan, "nona, sebentar lagi Anda akan pergi ke tempat kursus golf dan berkuda, mohon bersiap." Semua orang di sana melebarkan matanya dan melongo terkejut. Arunika memejamkan matanya sambil mengeratkan giginya.
Arunika membuka kembali matanya dan memberikan senyuman lembutnya, "maaf hari ini aku hanya bisa sampai sini, pekerjaannya mau dilanjutkan di sekolah Senin besok?" Semuanya langsung mengangguk menyetujui lalu mulai beranjak dari duduknya. Beberapa dari mereka membawa sedikit barang yang dibeli hari ini agar Arunika nantinya tidak kesulitan membawanya sendirian. Setelah berjalan keluar dari rumah Arunika, barulah mereka mulai membisikkan kalimat penuh kekaguman maupun keirian akibat kegiatan akhir minggu Arunika yang terlihat sangat berkelas. Arunika hanya bisa menatapi sepuluh punggung itu dengan tatapan datar, lalu kembali berjalan memasuki rumahnya.
Arunika berjalan menuju kamarnya dan mengganti bajunya dengan polo shirt berwarna hijau emerald dan rok sepaha berwarna biru dongker. Ia menguncir satu rambutnya agar tak mengganggu selama berolahraga, lalu tak memakai visor cap—topi yang terbuka di bagian atas kepala dan hanya melindungi area mata saja. Kemudian ia tak lupa memasukkan golf gloves ke dalam tasnya. Setelah siap, Arunika berjalan turun ke lantai satu dan melihat tas berisikan baju serta perlengkapan berkudanya telah diberikan pada sopir.
Tanpa mengatakan apa pun, Arunika langsung berjalan memasuki mobilnya. Setelah sang sopir duduk di kursi, tak lama mobil mulai berjalan menuju lokasi biasa Arunika menjalani kursus golfnya yang memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Sesampainya di sana, Arunika langsung menemui sang pengajar dan pembelajaran berjalan seperti biasa. Sang pengajar beberapa kali memberitahukan kesalahan postur Arunika dan memuji ketika Arunika berhasil memasukkan bolanya. Meskipun Arunika kurang suka olahraga, ia menikmati olahraga ini karena membuatnya merasa cukup nyaman. Selain itu juga ada sensasi tersendiri ketika ia bola yang dipukulnya berhasil masuk dalam sekali pukulan.
Satu jam ia habiskan berdiri di bawah paparan sinar matahari, setelah itu ia berjalan ke kamar mandi dengan tangan yang membawa tas berisikan baju serta perlengkapan berkudanya. Arunika keluar dengan kemeja putih yang dilapisi oleh jas berlengan panjang biru dongker yang bagian belakangnya sepanjang lutut, terdapat pula enam kancing di bagian depannya. Sepasang kakinya memakai celana panjang putih yang cukup ketat dan kesepuluh jari-jari kakinya telah dilindungi oleh sepatu boot kulit warna hitam setinggi lutut. Arunika juga mengubah gaya rambutnya menjadi disanggul rendah.
Penampilan Arunika cukup mencolok di antara orang-orang yang sibuk bermain golf, namun Arunika tidak peduli dan terus berjalan menuju mobilnya. Mobil pun kembali berjalan membawanya ke tempat selanjutnya. Arunika memejamkan matanya dan napasnya mengembus pelan. Kantuk mulai menyerangnya akibat lelah bermain golf dan tak lama perempuan itu terhanyut dalam mimpinya.
"Nona, kita sudah sampai," ucap sang sopir dengan suara yang cukup lembut, namun membuat Arunika sedikit tersentak. Dengan mata yang masih belum terbuka sepenuhnya, Arunika memperhatikan luar jendela yang telah menunjukkan penampakan sebuah bangunan yang sebagian besar dibentuk dengan kayu. Arunika pun dengan cepat mengembalikan seluruh kesadarannya dan membuka pintu mobilnya. Setelah ia turun sambil membawa tas perlengkapan berkudanya, ia mendorong pintu tersebut secara perlahan.
Wanita yang berdiri di belakang meja resepsionis tersenyum lebar ketika melihat siapa yang datang, "halo, nona Arunika," sapa wanita itu. Arunika pun membalasnya dengan senyuman pula.
"Seperti biasanya, 'kan?" Arunika mengangguk sembari mengikuti wanita itu berjalan melewati pintu yang menjadi penghubung antara ruangan dengan lapangan luas yang menjadi tempatnya mengendarai kuda nanti. Keduanya berjalan menuju kandang yang jaraknya tak jauh dari lapangan itu dan terus melangkah sampai akhirnya berhenti di depan kuda betina putih di hadapannya. Wanita itu membuka pintu kandang dan mengeluarkannya dari sana.
Arunika tersenyum dan mengelus lembut badan kuda itu, lalu menyapanya, "halo, Bella, kita bertemu lagi." Kuda itu pun menempelkan wajahnya pada wajah Arunika, seakan menyambut hangat kedatangan perempuan itu. Setiap Arunika kursus, ia selalu menunggangi kuda ini sehingga terbentuk sebuah ikatan tersendiri antara mereka. Namun pada dasarnya kuda tersebut ramah pada semua orang dan cukup peka sehingga tak butuh waktu lama bagi Arunika untuk bisa dekat dengan Bella.
"Mohon bantuannya untuk hari ini, ya." Seakan mengetahui apa yang dikatakan oleh Arunika, Bella menggerakkan kepalanya naik turun, seakan mengangguk. Arunika pun terkekeh dan menaiki kuda itu, duduk dipunggung yang telah dipasang pelana.
"Kalau begitu, saya pergi dulu, ya. Jika ada masalah bisa langsung mendatangi saya," ucap wanita resepsionis itu yang dibalas anggukan paham oleh Arunika. Sembari wanita tersebut melangkah pergi, Arunika menjalankan kudanya menuju lapangan luas yang dilewati tadi.
Arunika membawa kudanya berjalan mengelilingi lapangan beberapa kali, lalu secara perlahan menaikkan kecepatan kudanya sampai akhirnya kudanya berlari dalam kecepatan sedang. Saat ia dan kudanya asyik berlari, tiba-tiba muncul seekor kuda dari arah berlawanan dengan kecepatan sama, membuat Arunika dan Bella terkejut sehingga Arunika refleks menarik tali tuntunannya. Bella pun menjadi panik dan bergerak tidak tenang, membuat sang pengendaranya hampir terjatuh, meskipun begitu Arunika berusaha untuk menenangkannya dengan memberikan elusan-elusan lembut di lehernya dengan mulut yang terus mengucapkan kalimat penenang. Butuh sekitar tiga menit bagi Arunika sampai akhirnya bisa menenangkan Bella.
Setelah itu ia membalikkan badannya, tatapan tajamnya menusuk pengendara lain yang hampir saja menabraknya tadi. "Apakah kau tidak melihat ada pengendara lain di sini?" tanya Arunika dengan nada kesal. Awalnya pengendara itu masih menunjukkan punggungnya, sampai akhirnya ia juga membalikkan badannya dan memberikan senyuman bengisnya.
"Tania?"
Tania menelengkan kepalanya, "kenapa? Terkejut melihatku di sini? Apakah aku tidak boleh datang ke sini?" Arunika menukik tajam alisnya, lalu menyeringai.
"Kalau begitu aku tidak akan bertanya lagi mengapa kau berusaha menabrakku. Omong-omong, aku memang sedikit terkejut melihatmu di sini, tapi bukan berarti kau tidak boleh datang. Hanya saja, aku tidak tahu ... kau bisa mengendarai kuda sebagus itu," balas Arunika dengan menekankan kata 'sebagus itu', menyindir tindakan Tania yang hampir saja menabraknya, meski ia tahu hal itu disengaja.
Tania mengeratkan kepalan jarinya di tali tuntunan, "kau harus bertanggung jawab," ucap Tania yang membuat Arunika mengerutkan dahi.
"Atas?"
"Kejadian di kantin tempo hari." Arunika terdiam sebentar, lalu membulatkan mulutnya, sepertinya ia tadi berusaha mengingat kembali kejadian yang dimaksud. Perempuan itu mulai mengerti maksud perkataan Tania.
"Karena kau dan temanmu membawanya ke ruang kesehatan, dokter menjadi tahu luka-luka yang ada di tubuhnya dan melaporkannya ke sekolah. Kau bahkan berhasil membujuknya untuk memberitahu siapa pelakunya sehingga sekolah menelepon orang tuaku dan menceritakan semuanya. Kau tahu? Aku harus berlutut di depan perempuan sialan itu untuk meminta maaf," lanjut Tania dengan penuh emosi, sedangkan Arunika tersenyum penuh kepuasan.
"Aku sudah bilang kalau satu-satunya kekuatan yang bisa menekan kaum-kaum seperti kita ini adalah publik. Kau seharusnya bersyukur keluarga siswi itu bersedia memaafkan dan tidak mengambil tindakan lebih lanjut," tukas Arunika sambil menaikkan kedua bahunya tak acuh. Tania mendengus kesal melihatnya.
"Ayo, bertanding, di sini dan sekarang juga," tantang Tania dengan seringai penuh emosinya. Bibir Arunika secara perlahan terangkat dan tanpa babibu langsung menyetujui hal itu.
Sekarang keduanya telah berada di garis start. Mereka akan bertanding di nomor show jumping sehingga di arena sudah terdapat berbagai rintangan dengan tinggi yang berbeda-beda. Pengendara lain yang kebetulan ada di sana menjadi wasitnya. Karena sama-sama bukan profesional, maka mereka membentuk kesepakatan sendiri dalam penentu pemenangnya, yaitu kemenangan akan didapatkan kepada siapa yang terlebih dulu menyelesaikan lima kali putaran.
Sang wasit telah memegang tinggi bendera di tengah keduanya dan langsung menariknya ke bawah, pertandingan pun dimulai. Kedua perempuan itu langsung memecut kudanya untuk berlari sekencang mungkin. Secara perlahan Arunika melewati Tania dan melompati satu per satu rintangan yang ada. Melihat Arunika yang mulai menjauh, Tania pun memecut kembali kudanya, membuat sang kuda menambahkan kecepatan dan menipiskan jaraknya dengan Arunika. Arunika sadar akan jarak Tania yang makin mendekat sehingga ia meminta Bella untuk berlari lebih cepat lagi.
Pertandingan berjalan dengan sangat sengit, bahkan wasitnya sampai ikut berdebar-debar. Meski beberapa kali Arunika berhasil dibalap oleh Tania, akhirnya Arunika berhasil menyelesaikan lima putaran terlebih dahulu. Memang secara kualitas, kedua kuda yang dipakai setara, namun tidak dengan pengalaman berkendaranya. Terhitung sudah tiga tahun sejak Arunika memulai kegiatan berkudanya, berbeda dengan Tania yang baru belajar satu tahun. Terlebih Arunika lebih mengenal bagaimana kondisi lapangan di sana dibandingkan Tania yang sepertinya baru pertama kali mendatangi tempat itu.
Arunika memuji Bella habis-habisan sambil mengelus lembut lehernya, membuat Bella menggerakkan kakinya ke depan belakang, menunjukkan kesenangannya akan pujian Arunika. Setelah puas memuji, Arunika menjalankan kudanya mendekati Tania yang terhenti di garis finish.
"Setelah ini, apakah aku harus bertanggung jawab lagi atas kekalahanmu?"
...⁕⁕⁕...