RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 33: LELAH DAN LUKA



"Ke ... makam ibu?" tanya ulang Gavin, memastikan perkataan ayahnya karena takut salah dengar. Harris mengangguk, membenarkan pertanyaan anaknya. Lelaki dewasa itu bisa menangkap ekspresi bingung sekaligus tak percaya di wajah anaknya.


Setelah kematian Anahita, apalagi sejak pernikahan Harris dengan Rebecca, Harris seakan sangat enggan menyinggung topik mengenai Anahita. Selama bertahun-tahun, Gavin-lah satu-satunya yang masih setia mengunjungi makam ibunya, meski hanya untuk menyapa ringan atau sekadar meletakkan bunga baru di depan nisannya. Berbeda sekali dengan Harris yang bahkan kedatangannya bisa dihitung dengan jari.


"Kenapa?" Akhirnya Gavin kembali bersuara setelah beberapa saat sibuk dengan isi kepalanya.


Dengan santai Harris menjawab, "ayah ingin memperkenalkan Rebecca pada ibumu." Memang benar Rebecca belum pernah diperkenalkan secara resmi pada Anahita, Rebecca hanya pernah melihat sosok wanita itu melalui foto-foto. Sebenarnya secara logika juga tidak masalah karena bagaimana pun Anahita telah meninggal sepuluh tahun lalu dan posisi Rebecca sekarang adalah istri sah Harris.


Gavin membenarkan semua pikiran-pikiran logis itu, namun hatinya tetap merasa sakit mendengarnya. Lelaki itu kembali tersadar, eksistensi ibunya benar-benar telah menghilang sepenuhnya dari hidup sang ayah dan hanya dirinya yang masih berdiri di depan pintu kamar sepuluh tahun lalu.


Gavin tersenyum getir lalu mengangguk pelan, "baiklah, lakukan saja sesuai keinginan ayah." Setelah mengucapkan itu, Gavin siap untuk melangkahkan kembali kakinya. Namun terlintas satu hal dalam benaknya sehingga ia menunda langkahnya. Gavin membalikkan badannya untuk menatap sang ayah.


"Kedatangan ayah besok akan menjadi yang kelima kalinya sejak kematian ibu, meskipun tujuan kedatangan ayah adalah memperkenalkan Rebecca, aku mohon, jangan mengatakan hal-hal yang kelewat batas. Bagaimana pun juga, ibu pernah mengorbankan hidupnya untuk bisa hidup bersama ayah." Harris terdiam mendengar ucapan penuh permohonan itu, sedangkan Gavin telah berjalan menuju kamarnya dengan wajah sendu.


Tanpa kedua adam itu sadari, Rebecca diam-diam mendengarkan percakapan mereka dari arah ruang makan. Wanita itu sebenarnya cukup terkejut melihat reaksi Gavin yang tak seperti biasanya, menolak dengan amarah. Namun melihat Gavin yang menerima rencana itu dengan wajah sedih juga membuat Rebecca merasa tidak nyaman.


Rebecca sangat memahami kondisi Gavin. Kehilangan sosok yang sangat berpengaruh di usia muda bukanlah hal yang mudah, wajar Gavin masih terbayang oleh sosok ibunya hingga sekarang. Rebecca malah tidak paham dengan suaminya sendiri, apakah memang begini cara komunikasinya dengan sang anak? Membicarakan hal sensitif dengan sangat santai seakan perasaan sang anak tidaklah penting? Rebecca pun menjadi paham mengapa Gavin selalu ogah-ogahan setiap berbicara dengan Harris.


Pusing kepalaku melihatnya, batin Rebecca sambil memijat pelan pelipis matanya.


...⁕⁕⁕...


"Dengan cara apa lagi aku harus menjelaskan pada kalian bahwa aku tidak pernah sekalipun mengabaikan kursus-kursusku? Aku hanya mengundur jamnya karena bertabrakan dengan waktu OSIS, itu saja," ucap Arunika dengan frustrasi pada kedua orang tuanya yang telah kembali ke rumah.


Sesampainya Arunika di rumah, ia disambut oleh tatapan tajam dari kedua orang tuanya di ruang keluarga. Aaron—ayah Arunika—langsung menuduhnya yang mulai mengabaikan kursus-kursusnya karena terlalu sibuk menjadi anggota OSIS. Tuduhan itu diperkuat dengan perkataan ibunya yang mendapatkan laporan dari para guru kursus Arunika bahwa beberapa hari terakhir ini Arunika mengundur waktu kursusnya. Arunika sudah berusaha menjelaskan kondisinya, namun keduanya tak mau memahami.


"Aku hanya akan sibuk sampai besok karena ada acara di sekolah, setelah itu aku akan kursus seperti biasanya. Jika aku benar-benar mengabaikannya, buat apa aku menelepon guru kursusku satu per satu untuk atur ulang jadwal? Jika aku benar-benar tidak peduli dengan belajarku, buat apa aku belajar sampai jam dua belas malam?" Dengan penuh kesungguhan Arunika mengatakan hal itu karena memang begitulah kenyataannya. Untungnya penjelasan itu dapat diterima oleh Aaron dan Claris.


Claris pun menyilangkan kedua tangan di depan dada, "tapi kau tahu 'kan akhir bulan nanti kau ada ujian tengah semester?" Arunika mengangguk mengiakan, namun entah kenapa muncul perasaan tidak enak dalam dirinya.


"Dapatkan nilai minimal 98 di semua mata pelajaran, dengan begitu barulah ibu dan ayah percaya kau tidak mengabaikan kursus-kursusmu," lanjut Claris yang membuat Arunika melebarkan matanya. Apa-apaan ini? Arunika sudah siap untuk membantah, mulutnya telah terbuka untuk mengeluarkan protes.


"Penuhi syarat itu atau keluar dari OSIS." Kalimat penuh ancaman itu dilontarkan oleh ayahnya, membuat Arunika akhirnya hanya bisa diam menerima.


"Kau masih ingat janjimu saat ingin mendaftarkan diri ke OSIS, 'kan? Coba katakan lagi sekarang," pinta Aaron dengan nada perintah. Arunika memejamkan matanya sambil menggigit bagian dalam bibirnya.


"Bagus, ingat terus janji itu." Arunika mengembuskan napas pelan.


Arunika pikir tak ada lagi yang mau dibicarakan sehingga ia mulai melangkahkan kakinya ke kamar, namun lagi-lagi suara ibunya membuat tubuh Arunika mematung.


"Siapa bilang kau sudah boleh ke kamar, Arunika?" Arunika mengepalkan kedua tangannya dan menelan bulat-bulat emosinya, lalu kembali menghadap orang tuanya.


"Kami mendengar berita aneh tentangmu yang tersebar ke seluruh sekolah. Pacar?" Sudah Arunika duga orang tuanya akan mengungkit hal ini. Arunika tak pernah tahu dari mana orang tuanya mengetahui informasi-informasi mengenainya yang beredar di sekolah.


"Dan katanya pria itu dari keluarga Kanagara?" tanya lanjutan dari sang Aaron.


Arunika lagi-lagi menarik napas dalam, kemudian berbicara, "Arunika tidak berpacaran dengan laki-laki itu, kami hanya berteman." Arunika menekankan tiga kata terakhirnya, berharap Aaron dan Claris mendengarnya dengan jelas.


"Aku tidak memiliki perasaan lebih padanya dan aku hanya ingin menambah teman baru, itu saja," jelas Arunika lagi dengan tegas. Pasangan suami istri itu pun mengangguk puas.


"Bagus, kau harus ingat, tidak boleh berpacaran sebelum kuliah. Satu-satunya tujuanmu sekarang adalah Harvard, mengerti?" peringat Aaron dengan wajah datarnya. Arunika lagi-lagi hanya bisa mengangguk paham. Dirinya muak mendengar kalimat yang sudah menjadi doktrin baginya sejak kecil ini.


Sedikit informasi, keluarga Bumantara selalu menekankan keturunannya, satu-satunya universitas yang boleh mereka masuki adalah Harvard sehingga sudah seperti tradisi bagi keluarga ini untuk mengirim generasi selanjutnya mereka ke sana. Bahkan kedua kakak Arunika sekarang berkuliah di sana, begitu juga dengan orang tuanya yang merupakan lulusan sana. Namun sudah menjadi rahasia umum, persentase berhasil memasuki sekolah kedokteran Harvard cukuplah sulit. Oleh karena itu, keturunan keluarga ini dibuat "pintar" sejak kecil agar tradisi tersebut dapat tercapai.


Setelah percakapan penuh tekanan itu, akhirnya Arunika diperbolehkan untuk pergi ke kamarnya. Sesampainya di sana, setelah pintu telah tertutup rapat, Arunika menyandarkan badannya pada badan pintu dan tubuhnya secara perlahan merosot ke lantai. Gadis itu terduduk di lantai dengan kedua kaki yang tertekuk dan dipeluknya. Arunika menyembunyikan wajahnya di sana.


Berkali-kali Arunika mengembuskan napasnya berat, pikirannya penuh dengan perintah orang tuanya tadi. Harus mendapatkan nilai minimal 98 di semua mata pelajaran, ini merupakan syarat yang benar-benar gila. Berbagai pikiran negatif mulai menyelimutinya, bagaimana jika ia tak berhasil? Berarti ia harus meninggalkan OSIS? Bagaimana caranya ia menjelaskan hal tersebut pada sekolah? Lalu siapa yang akan melanjutkan pekerjaannya sebagai ketua OSIS? Dan yang lebih penting lagi, dia benar-benar tidak ingin meninggalkan semua teman-temannya. Dia tidak ingin membuat kekacauan di OSIS, juga tidak ingin dicap pembuat onar oleh orang-orang yang menemaninya selama berbulan-bulan itu.


Arunika mengangkat kepalanya dan wajahnya telah basah oleh air mata. Pikirannya benar-benar kalut sekarang dan hatinya benar-benar terasa sesak. Dirinya sungguh merasa lelah berada di keluarga ini, keluarga tersebut hanya bisa memberikannya beban tanpa henti dan rasa sesak tanpa ampun.


Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Arunika beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ruang mandi dan berdiri di depan kaca yang terpasang di atas wastafel. Ia bisa melihat sendiri bagaimana berantakan wajahnya. Mata merah dengan air mata yang masih mengalir hingga hidung yang juga mulai tersumbat. Secara perlahan pandangannya menurun ke kedua tangannya yang berpegangan ke meja wastafel, ia bergantian memandang lekat tangan itu.


Atau ... mungkin lebih tepatnya ke pergelangan tangan yang secara samar terdapat banyak bekas luka sayatan. Bekas tersebut memang sudah tidak jelas jika tidak dilihat secara saksama. Namun Arunika akan selalu dengan cepat menemukan bekas-bekas itu.


Kenapa terkejut? Bukankah hal seperti ini sudah sering terjadi pada orang yang hidupnya seperti Arunika?


...⁕⁕⁕ ...