
"Baiklah, pesanan Anda akan siap dalam sepuluh menit, tolong ditunggu, ya," pinta seorang perempuan dalam balutan baju hitam dan putihnya yang terkesan sangat rapi dan profesional. Pelayan itu membungkukkan sedikit badannya, lalu mengambil dua buku menu yang ada di meja. Dua orang beda jenis kelamin di meja tersebut memberikan wajah yang berbeda, satu dengan wajah datarnya dan satu dengan senyuman ramahnya. Setelah itu, si pelayan melangkah pergi, membuat kedua orang di sana berada dalam posisi canggung, atau mungkin lebih tepatnya hanya satu pihak saja yang canggung.
"Terima kasih sudah bersedia menerima ajakanku, Tuan Kanagara," ucap Cassandra dengan sedikit kikuk.
Gavin hanya memberikan tatapan datarnya dan mengangguk, tak memberikan kalimat balasan. Cassandra rasanya ingin sekali menangis dalam hati karena reaksi dingin itu. Tidak mudah baginya untuk meminta kedua orang tuanya mengirimkan permintaan dinner pada pria di depannya ini, karena dengan begitu keluarganya akan sadar terhadap ketertarikannya pada Gavin. Baginya itu sudah sangat memalukan.
"Mungkin Anda belum menyadari maksud dari permintaan ini, jadi saya—"
"Saya sudah menyadarinya." Cassandra terdiam sekaligus melongo mendengar kalimat itu. Hati serta pikirannya bergemuruh oleh kepanikan, sejak kapan? Bagaimana pria itu bisa tahu? Apakah Arunika memberitahukannya? Tidak, Arunika sudah berkata kalau dirinya akan menjaga rahasianya. Kalau begitu, apakah pria ini sudah mengetahuinya sejak awal?
"Karena itulah saya datang ke sini." Kalimat penuh keambiguan itu membuat Cassandra bingung dengan hati yang berdegup tak karuan, apa maksudnya? Gavin menyadari seluruh perubahan ekspresi itu sehingga ia mengerang kesal dalam hati, ia benar-benar tidak senang berada di situasi seperti ini.
"Saya ingin mempertegas, saya tidak ada niatan untuk mengenal Anda lebih dalam, Nona Rosverd." Seakan dihantam oleh batu meteor, kalimat singkat, padat, dan jelas itu membuat Cassandra terdiam dengan hati terbelah dua. Dirinya belum melakukan apa pun dan sudah ditolak.
Keheningan terjadi di antara mereka. Cassandra berusaha untuk mengembalikan kekuatannya untuk membalas perkataan pria yang satu tahun lebih tua darinya itu, "apakah ... saya tidak menarik di mata Anda?" tanyanya dengan suara pelan, namun masih dapat didengar oleh Gavin.
"Saya yakin Anda akan menarik di mata orang yang tepat." Kalimat dengan maksud jelas Gavin lontarkan dengan sopan. Cassandra tertawa dalam hati, bagaimana bisa pria ini memberikan penolakan yang terdengar sangat halus begini?
Cassandra kemudian mengembuskan napasnya pelan dan memberikan tatapan yang tak bisa Gavin artikan.
"Saya tidak pernah paham pada kalian, para lelaki," seru Cassandra sambil menyatukan kedua tangannya di atas meja dan memberikan wajah tenangnya. Gavin masih mempertahankan ekspresi datarnya meski sedikit bingung dengan kalimat tersebut.
"Berulang kali saya tertarik pada kalian. Ketika saya berinisiatif mendekati terlebih dahulu, jelas sekali kalian memberikan wajah penuh ketertarikan. Namun saat saya siap untuk melakukan pengenalan lebih dalam, tiba-tiba kalian mendorong saya dan berkata tidak tertarik. Saya jadi bingung, sebenarnya apa yang kalian inginkan?" tanya Cassandra sambil meletakkan dagunya di atas tumpuan siku tangannya pada meja.
"Ada satu hal yang kurang tepat mengenai saya di kalimat Anda," balas Gavin sambil menyandarkan punggungnya pada kepala kursi dan melipat tangannya di depan dada. Cassandra menaikkan satu alisnya, bertanya melaluinya.
"Sejak awal saya tidak pernah memberikan wajah tertarik pada Anda." Cassandra terkekeh mendengar itu, lalu mengangguk membenarkan.
"Anda adalah pengecualian, Tuan Kanagara. Namun maksudku adalah mengapa mereka bersikap seperti itu, berdasarkan opini Anda sebagai sesama pria." Jelas Cassandra yang membuat Gavin terdiam sebentar.
"Sebenarnya saya memikirkan banyak kemungkinan, namun sepertinya ada satu jawaban pasti." Cassandra merasa tertarik mendengarnya.
"Keluarga ... bukan, lebih tepatnya nama keluargamu." Gavin menekan kata 'nama' dikalimatnya. Cassandra terdiam, menunggu Gavin melanjutkan kalimatnya.
"Baik pria yang berasal dari keluarga biasa ataupun pria yang berasal dari keluarga sederajat denganmu, semua menganggap berurusan dengan perempuan yang menyandang nama Rosverd sangatlah memberatkan. Nama Rosverd bukanlah nama abal-abal yang dipakai untuk satu atau dua generasi saja, nama tersebut sudah dipakai oleh puluhan generasi dengan sejarah yang panjang. Saya rasa itulah mengapa mereka dengan cepat menarik diri meski tertarik pada Anda." Jelas Gavin dengan penuh pertimbangan.
Cassandra tersenyum mendengar itu, tidak salah dirinya menanyakan hal ini pada orang yang senasib dengannya.
"Kalau begitu, apakah aku harus melepasnya?" Gavin mendengus sambil tersenyum mendengar itu, pertanyaan yang menarik.
"Jika Anda bersedia hidup dalam kesederhanaan, silakan. Jika tidak, maka Anda harus bersedia untuk menunggu pria yang siap untuk masuk dalam keluarga yang kompleks ini." Cassandra tertawa mendengar jawaban itu. Nyatanya dirinya dan Gavin sama-sama menganggap keluarga itu kompleks.
"Ternyata seru juga berbincang seperti ini denganmu, Tuan Kanagara," puji Cassandra sambil menyeka pelan sudut matanya yang sedikit berair, sedangkan Gavin tersenyum tipis.
"Saya tidak masalah jika Anda ingin membangun hubungan pertemanan dengan saya, dengan senang hati saya menerimanya. Namun jika yang Anda inginkan adalah hubungan yang dalam, mohon maaf saya harus menolaknya," ungkap Gavin dengan suara sopan.
Cassandra melambaikan kecil tangannya, "aku sudah biasa menerima penolakan dari pria, lagi pula kupikir memang lebih baik menjadikanmu sebagai teman saja dan membicarakan hal sarkasme seperti tadi."
Sehabis mengatakan itu, makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Gavin dan Cassandra pun mulai menyantapnya sambil mengobrol santai.
"Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan." Gavin yang sedang memotong dagingnya memberikan tatapan sekilas pada Cassandra yang baru saja menelan salah satu sayur di piringnya.
Setelah meredakan rasa tersedaknya, Gavin memberikan tatapan bingung, "kenapa Anda menanyakan hal itu?"
Cassandra menaikkan kedua bahunya tak acuh, "entah kenapa saya merasa kalau tatapan Anda pada Nona Bumantara dan tatapan Anda pada orang lain sangatlah berbeda. Pepatah mengatakan, mata adalah jendela hati." Gavin terdiam mendengar itu karena ia juga tidak tahu bagaimana perasaannya pada Arunika, apakah hanya sebagai teman saja atau lebih dari itu.
Melihat keterdiaman Gavin, Cassandra tersenyum dalam hati. Sepertinya masih bingung, ya—begitulah pikirnya. Dengan begitu Cassandra kembali memberikan pertanyaan lain, yang malah membuat Gavin makin diam.
"Sebenarnya saya hanya penasaran saja, jadi kalau tidak dijawab tidak apa. Kenapa Anda seperti belum siap untuk menjalin hubungan?"
Setelah diam beberapa detik, Gavin memberikan balasan sambil menusuk satu kentang panggang dengan garpunya, "karena saya masih belum bisa menerima tentang apa yang terjadi pada ibu saya." Cassandra mengerutkan dahi, kenapa tiba-tiba ibu Gavin terseret dalam permasalahan itu.
Cassandra siap untuk membuka mulutnya kembali untuk melontarkan pertanyaan lanjutan, namun dihentikan oleh Gavin yang memberikan senyuman simpul.
"Silakan nikmati kembali makanan Anda karena dessert sebentar lagi akan keluar." Cassandra pun sadar, teman makannya ini tidak bersedia untuk bercerita lebih lanjut. Maka dari itu ia memilih untuk menutup mulut dan menghargai keinginannya.
Menit-menit selanjutnya meja Gavin dan Cassandra diisi oleh percakapan penuh keakraban—karena mereka memutuskan untuk membangun hubungan pertemanan—sampai akhirnya piring berisikan dessert itu kosong. Cassandra mengelap pelan mulutnya dengan kain kecil yang tersedia di meja, begitu juga dengan Gavin. Kemudian si perempuan mengecek jam melalui ponselnya yang sudah menunjukkan angka delapan dan tiga puluh.
"Tanpa disadari waktu sudah selarut ini, padahal masih ada banyak hal yang ingin saya bicarakan denganmu, Tuan Kanagara," ucap Cassandra sambil berdiri dari duduknya, begitu juga Gavin. Kemudian mereka berjalan beriringan keluar restoran mewah tersebut. Ternyata di sana sudah terparkir dua mobil yang menunggu kedatangan tuannya.
Sebelum memasuki mobil, Cassandra mengulur tangannya, "senang bisa berbincang denganmu, panggil aku Cassandra saja." Gavin tersenyum tipis dan membalas uluran tangan itu.
"Senang juga bisa berbincang denganmu, Cassandra. Tolong panggil aku juga dengan Gavin." Cassandra mengangguk dan jabatan tangan itu terlepas, lalu si perempuan memasuki mobilnya dan berjalan pergi meninggalkan area restoran. Tak lama Gavin juga masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh sang sopir.
Butuh sekitar dua puluh menit bagi kendaraan Gavin akhirnya sampai di pekarangan rumah. Gavin membuka pintu rumahnya pelan dan matanya mengedar ke seluruh sudut. Sepertinya sebagian besar orang di rumah itu sudah memasuki kamarnya dan bersiap untuk tidur. Dengan begitu Gavin berjalan menuju kamarnya dengan harapan tak bertemu dengan sang ayah maupun Rebecca. Ia sekarang sedang tidak ingin ditanya-tanyai mengenai dinner dengan Cassandra.
Setiap dirinya berjalan menuju kamar, Gavin pasti selalu melewati studio pribadinya karena dua ruangan itu bersebelahan. Biasanya Gavin akan berjalan melewati ruangan itu jika sedang tidak ingin bermain musik, namun tidak dengan sekarang. Langkahnya terhenti di depan pintu studio dan kepalanya menoleh ke kiri untuk menatap pintu kayu itu. Pria itu berdiri dalam posisi yang sama selama beberapa menit sampai akhirnya ia mengubah arah badannya menghadap ruangan tersebut dan mendorong pelan pintunya.
Grand piano-nya selalu menjadi hal pertama yang Gavin lihat setiap memasuki ruangan itu. Di depan benda kesayangan itu terpasang sebuah jendela besar yang menyajikan pemandangan halaman samping rumahnya sehingga sinar bulan yang entah kenapa terasa sangat terang dapat dengan mudah memasuki studio pribadinya dan menyinari grand piano-nya. Tiba-tiba Gavin seakan melihat dua orang duduk di depan piano dengan nuansa hangat akibat cahaya senja mengelilingi kedua orang itu.
"Mama! Gavin sudah bisa memainkan satu piece, loh! Mau lihat?" ucap seorang pria kecil dengan senyuman penuh antusias.
Wanita berbalutkan baju putih panjang dengan rambut hitam selehernya bereaksi dengan memberikan wajah senang sekaligus penasaran, "oh, ya? Pintar sekali anak mama. Coba Gavin mainkan, mama ingin mendengarnya." Sehabis itu si anak kecil mulai menekan tuts-tuts tersebut dengan kesepuluh jari mungilnya, sedangkan wanita yang duduk di sebelahnya tersenyum penuh bangga dan mengelus lembut kepala anaknya ketika Gavin kecil berhasil menyelesaikan piece tersebut. Kemudian wanita itu mengangkat Gavin kecil masuk ke dalam pelukannya dan mengeratkannya.
"Anak mama memang hebat." Gavin kecil tertawa senang mendengar pujian itu sambil membalas pelukan ibunya.
Secara perlahan bayangan itu memudar dari pandangan Gavin dan menampilkan kembali pemandangan grand piano yang tak diduduki oleh siapa pun. Pemuda itu secara perlahan mendekatinya sambil melepaskan jas yang menggantung di tubuhnya sejak tadi, kemudian membiarkannya tergeletak di lantai. Dengan mata berkaca Gavin duduk di depan piano dengan kepala tertunduk.
"Mama, Gavin rindu," gumamnya dengan satu bulir air menetes mengenai kedua tangannya yang terpaut. Gavin membiarkan air matanya terus mengalir hingga berhenti dengan sendirinya. Setelah tangisannya berhenti, Gavin mengangkat kepalanya dan menatap kosong piano di depannya. Tangannya terangkat dan menyentuh satu per satu tuts di sana dengan pelan.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, membuat Gavin dengan cepat menghapus jejak air mata di pipinya dan mengatur kembali napasnya. Pintu itu terbuka secara perlahan dan si pengetuk hanya menunjukkan wajahnya dengan badan yang masih dibelakang pintu.
"Kak Gavin tidak apa?" Gavin tersenyum lembut ketika menyadari sang adiklah yang datang. Ia pun membuat gestur tangan seakan meminta Erlano untuk mendekat. Yang dimintai tak menolaknya dan berjalan mendekati sang kakak yang bermata merah. Erlano menyadari kakaknya habis menangis, makanya ia berani menanyakan hal tadi.
"Kakak tidak apa, Erlan," jawab Gavin sambil mengangkat tubuh mungil Erlano dan meletakkannya dalam pangkuan.
"Kak Gavin sering sekali duduk di depan benda ini dengan wajah sendu, Erlan menjadi khawatir." Gavin terdiam mendengar itu dan tak membalasnya. Dan tanpa kedua saudara itu sadari, Rebecca berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
...⁕⁕⁕...