
Di dalam ruangan berisikan 37 murid itu diisi dengan keheningan dan ketegangan yang terlihat jelas di muka. Mereka yang biasanya membuat kebisingan dengan tawa kerasnya kini terdiam sambil berkomat-kamit menghafal materi ujian pada hari ini. Guru pengawas ujian yang berdiri di depan sana menatap sekelilingnya dengan saksama, memastikan tak ada murid yang berperilaku mencurigakan. Kemudian ia mulai membagikan kertas soal satu per satu.
"Pada hari pertama ini, mata pelajaran yang akan diujikan adalah kimia. Waktu mengerjakannya sembilan puluh menit. Kerjakan dengan sungguh-sungguh dan jangan menyontek," ucap pria yang sebagian rambutnya telah beruban itu dengan tegas. Sesaat setelah ia berbicara, bel tanda pengerjaan ujian berbunyi sehingga semuanya mulai membaca soal-soal tersebut, tak terkecuali Arunika.
Dengan penuh keseriusan, Arunika membaca soalnya dengan teliti dan langsung menuliskan jawabannya di kertas jawaban. Ujian kimia ini terdiri dari tujuh soal dan semuanya berbentuk jawaban panjang, alias tidak ada pilihan ganda. Namun seperti perkataan gurunya tiga hari lalu, selama mendengarkan review materi yang dibahas olehnya, pasti akan bisa mengerjakan ujian tersebut.
Hera pun tak beda jauh dari sahabatnya. Meski ia tak sepenuhnya paham, tapi ia merasa masih bisa mengerjakannya karena memahami dasar-dasarnya. Ia sesekali berhenti menulis jawabannya dan melirik ke Arunika. Muncul kembali kekhawatiran dalam hatinya karena perempuan itu benar-benar fokus seakan ada dua batu besar berada di pundaknya. Namun kembali lagi, ia tak bisa melakukan apa pun karena sudah diwanti-wanti oleh Arunika untuk tidak mengganggu.
Keheningan yang disertai oleh kefrustrasian tersebut terus berjalan selama tiga puluh menit ini. Banyak murid mengembuskan napas berat sambil menatap lelah kertas soal, banyak juga yang menggaruk kasar kepalanya sembari mencoret tulisan yang ditulis sebelumnya, ada juga yang bersikap tidak peduli dan memilih untuk tidur—mereka adalah kaum yang percaya kalau semakin mepet waktu, semakin lancar juga otak mereka berjalan dalam mengerjakan soal. Apakah ada yang berusaha untuk menyontek? Tentu saja ada, namun belum melakukan apa-apa, guru pengawas yang duduk di meja guru telah berdeham keras, memperingati mereka.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya di menit ke enam puluh sejak ujian dimulai, Arunika telah menjawab seluruh soalnya. Sisa waktunya pun ia gunakan untuk sedikit lebih santai sambil mengecek kembali jawaban-jawabannya. Sesekali ia menatap ke arah luar jendela untuk cuci mata dengan pikiran kosong. Namun nyatanya tindakan Arunika ini menangkap perhatian guru pengawas.
"Arunika, kenapa melihat luar jendela? Sudah selesai mengerjakan soalnya?" Seketika seluruh pandangan tertuju pada Arunika yang sedikit tersentak akibat namanya dipanggil. Ia pun membalas tatapan guru tersebut.
"Sudah selesai, Pak." Jawaban itu membuat beberapa teman kelasnya berdecak kesal, bagaimana bisa Arunika mengerjakan soal sulit ini seakan itu hanyalah soal satu tambah satu? Sedangkan guru tersebut mengangguk paham.
"Kalau sudah selesai dicek lagi jawabannya, tidak perlu melihat ke arah luar." Arunika mengangguk meski dalam hati bingung, memangnya salah melihat luar jendela setelah menyelesaikan soal? Apakah mereka berpikir seseorang bisa menyontek dengan melihat langit di atas sana? Ada-ada saja.
Sembilan puluh menit akhirnya selesai, ditandai dengan munculnya suara wakil kepala sekolah bidang kurikulum di setiap speaker kelas. Para guru pengawas pun mulai mengambil satu per satu lembar jawaban seluruh murid, lalu memasukkannya kembali ke amplop coklat yang awalnya digunakan untuk membawa kertas soal.
"Baiklah, kalian bisa istirahat sekarang." Seusai kalimat tersebut dilontarkan, para murid mulai berhamburan keluar kelas sambil membicarakan ujian yang baru saja mereka lewati. Ada yang berteriak kesal, ada juga yang pasrah dan memilih untuk melupakannya.
Berbeda dengan sebagian besar murid yang memilih untuk pergi dari kelas karena pusing, Arunika memilih untuk duduk diam di mejanya dan mengeluarkan buku mata pelajaran yang akan diujikan setelah istirahat ini, Pendidikan Jasmani atau Physical Education.
Tanpa mengatakan apa pun, Hera meletakkan tas kain tersebut di atas meja Arunika, kemudian berjalan pergi meninggalkan Arunika yang kebingungan. Penasaran dengan isi pemberian Hera, dibukalah tas tersebut. Setelah menyadari apa isinya, Arunika tersenyum dengan sangat lembut dengan hati yang menghangat. Kemudian ia juga menemukan satu memo kecil yang tertempel di atas kotak bekal tersebut.
Dimakan, ya, biar semangat belajarnya. Sefokus apa pun dengan ujian, kau harus tetap memperhatikan kesehatanmu. Ini hitungannya tidak mengganggu, 'kan? Begitulah pesan singkat yang Hera tulis di sana. Arunika pun mengeluarkan kotak makanan tersebut dan menikmatinya sambil kembali belajar.
Kejadian ini mengingatkannya kembali dengan kejadian pagi tadi, saat dirinya baru saja sampai di kelas. Sebuah roti dengan rasa kesukaannya, moka, dan satu kotak susu dengan rasa serupa berada di atas mejanya entah sejak kapan. Awalnya Arunika bingung siapa pemberi dari dua hal ini. Namun saat ia membalikkan rotinya, terdapat memo dengan tulisan tangan yang sangat Arunika hafal siapa pemiliknya.
Jaga kesehatan, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Semangat, bea...(lanjutkan sendiri). Ya, Gavin yang menulisnya. Entah kapan pria itu meletakkannya di atas meja Arunika karena saat itu masih jam setengah tujuh pagi, namun yang pasti, Arunika merasa sangat senang dengan tindakan kecil yang dilakukannya. Ia pun mengisi perutnya dengan makanan dan minuman pemberian Gavin sembari belajar kimia.
Nyatanya, tindakan memberikan makanan tanpa mengatakan apa pun dan menempelkan memo dengan pesan singkat tidak berhenti di Gavin ataupun Hera. Namun masih berlanjut di jam istirahat kedua setelah ujian pendidikan jasmani usai dengan Floyd yang tiba-tiba mendatangi dirinya di kelas dan memberikan dua bungkus camilan ringan. Kemudian terjadi lagi di jam pulang sekolah dengan Maverick yang menghadang jalannya di pekarangan sekolah, lalu memberikan lima buah permen dengan jenis yang berbeda-beda—lollipop, permen karet, permen penahan kantuk, permen penyegar mulut, dan permen jelly. Memo dari keduanya pun isinya tak beda jauh dari milik Gavin dan Hera.
Hari-hari selanjutnya pun dilakukan kembali oleh keempat temannya ini sehingga Arunika menyadari, tindakan tersebut merupakan bentuk perhatian mereka terhadapnya namun tetap memikirkan perkataannya untuk tidak mengganggu selama masa ujian. Gavin, Hera, Floyd, dan Maverick benar-benar khawatir akan dirinya sehingga merencanakan tindakan yang lucu sekaligus mengharukan bagi Arunika. Muncul rasa syukur dalam diri Arunika bisa bertemu dan berteman dengan keempat manusia tersebut.
Hanya saja, Arunika benar-benar merasa lucu melihat teman-temannya yang menganggap serius ucapannya, ucapan yang keluar akibat emosi karena tumpukan stres di kepalanya. Ia pun bertekad untuk meminta maaf setelah masa ujian selesai karena bagaimana pun, perlakuannya beberapa hari lalu sudah kelewatan. Keempat temannya tidak ada yang tahu ancaman yang diberikan orang tuanya, ia yang memilih untuk menyembunyikannya karena tidak ingin mereka khawatir dan ikut memikirkannya. Jadi wajar kalau Hera marah padanya, juga menimbulkan kebingungan dalam diri tiga teman prianya. Dan agar permintaan maafnya diterima, Arunika berencana untuk sedikit "menyogok" dengan mentraktir mereka.
Ada humor mengatakan, ketika sesuatu direncanakan, maka ia hanya akan menjadi wacana. Banyak orang mengalami hal ini, bukan? Kepala telah merencanakan semuanya dengan matang, namun pasti ada saja kejadian yang membuatnya menjadi wacana saja. Itulah yang terjadi pada Arunika sekarang.
Setelah delapan hari ujian berakhir, ia ingin sekali menemui keempat temannya, meminta maaf, dan mengajak makan bersama di sebuah restoran. Hatinya benar-benar berdebar kencang membayangkannya. Namun saat jarak antara dirinya dan keempat temannya hanya tersisa lima langkah, tiba-tiba pusing melanda dirinya dan tubuhnya limbung. Pandangannya mulai mengabur dan hal terakhir yang bisa ia lihat dengan jelas adalah keempat temannya yang berlari panik ke arahnya. Akan tetapi, satu detik setelahnya, semuanya gelap.
Dan ... di sinilah Arunika sekarang, terbaring di atas ranjang Usaha Kesehatan Sekolah dengan satu perempuan dan tiga lelaki berdiri mengelilinginya. Arunika pun mendengus kesal.
...⁕⁕⁕...