RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 14: SEMUA DEMI DIRIMU



Gavin menatapi layar ponselnya, membaca pesan bertubi-tubi dari Hera. Tak lama ia beranjak dari duduknya, menghentikan adu mulut antara Maverick dan Floyd mengenai bubur enaknya dicampur atau tidak.


"Kenapa, Vin?" tanya Floyd sambil mengunyah makanannya—sekarang merupakan jam istirahat—dengan rasa penasaran, sedangkan Maverick juga bertanya melalui tatapannya.


"Beli makanan buat Arun. Awalnya Hera yang akan membeli dan membawanya ke medical room, tapi sekarang OSIS lagi tegang gara-gara anggotanya yang masih kelas satu cekcok beda pendapat tentang kegiatan di hari Valentine." Jelas Gavin secara singkat.


"Hari ini OSIS ada rapat? Berarti Arunika tidak ikut?" Sekarang Maverick yang bertanya dan dijawab anggukan oleh Gavin, "Hera bilang kalau Arun bakal dikasih tahu hasil rapatnya sama dia, tapi Arun masih belum tahu tentang cekcok ini." Kedua pria lain di sana mengangguk paham.


"Berarti setelah kau memberikan makanan Arun, langsung kembali ke kelas?" tanya Floyd lagi, membuat Gavin mengangkat tangan kirinya yang dihiasi oleh jam tangan dan memperhatikannya.


Tak lama pria itu menjawab, "iya, istirahat tinggal sepuluh menit, aku akan langsung kembali ke kelas." Maverick dan Floyd mengangguk.


"Ya sudah, beli makanan yang enak sana, biar Arunika tidak marah saat tahu kalau anggotanya lagi berantem," ucap Maverick yang diakhiri dengan kekehan.


Telah menjadi rahasia umum—yang baru Gavin ketahui akhir-akhir ini—bahwa Arunika dikenal tegas dalam memimpin OSIS dan perempuan itu sangat tidak suka ketika terjadi perselisihan antar anggota karena masalah sepele, seperti perbedaan pendapat. Sang ketua paham kalau setiap anggota pasti memiliki pendapatnya sendiri, namun tak semua pendapat bisa diwujudkan dan seluruh pengurus OSIS harus memahami itu. Arunika menganggap, siap menjadi pengurus berarti siap jika suatu saat pendapatnya tak diwujudkan. Toh dalam prosesnya setiap pendapat akan ditampung dan dipilih keputusan terbaik berdasarkan pendapat-pendapat itu.


Gavin menghampiri satu toko makanan yang menjual masakan Indonesia, seingatnya Arunika suka dengan nasi goreng sehingga ia membeli makanan tersebut. Tak lupa juga dengan air mineral serta buah. Setelah itu ia berjalan dengan sedikit cepat ke medical room karena ruangan tersebut berada di lantai dua, sedangkan kantin berada di lantai satu. Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu pelan dan mengucapkan permisi, ternyata ada satu suster di sana. Gavin pun mengatakan maksud kedatangan dan diiakan oleh suster tersebut.


Pria itu memasuki bilik tempat Arunika berada secara perlahan, tak ingin mengganggu. Setelah meletakkan makanan yang ia beli di atas nakas, Gavin siap untuk pergi, namun tiba-tiba tangan Arunika menggenggam tangannya. Gavin membalikkan badannya dan melihat Arunika yang masih memejamkan matanya. Dahi Arunika berkerut dengan mulut yang bergumam secara perlahan.


"Kak Demi, jangan makan makanan punya Arun!" Gavin merasa tertarik untuk mendengar lebih, namun juga sedikit bingung dengan nama yang diucapkan oleh perempuan itu. Kak Demi? Gavin memutuskan untuk duduk dan diam mendengarkan Arunika yang mengingau.


"Kak Vian! Tolong Arun! Kak Demi merebut makananku!" Muncul kembali satu nama yang tak Gavin ketahui, namun muncul senyuman di wajahnya karena nada berbicara Arunika yang seperti anak kecil, ditambah ekspresi marahnya. Terlihat menggemaskan bagi Gavin.


"Main perosotan? Arun mau! Janji? Kalau begitu tidak apa jika Kak Demi ingin memakannya." Wajah ngambek itu beralih menjadi wajah penuh senyuman. Gavin sendiri bisa sedikit menangkap apa yang terjadi di mimpi Arunika sehingga ia terkekeh dan menduga kalau peristiwa di mimpi itu terjadi ketika Arunika masih kecil.


"Loh? Kakak sudah janji mau main perosotan sama Arun hari ini." Sekarang wajah berubah lagi menjadi raut sedih dengan suara pelan, membuat senyuman Gavin memudar juga. Tangan si pria yang sejak tadi masih digenggam oleh Arunika akhirnya terlepas dan Arunika menyatukan kedua tangannya di atas perut.


"Kak Demi tidak diizinkan mama, ya? Karena ada kursus?" tanya Arunika dengan suara sendu, lalu menggeleng dan memberikan senyuman cerahnya, "tidak apa, kita bisa pergi lain waktu. Sudah, belajar sana, jangan sampai membuat mama marah." Dan sehabis itu, Arunika tak lagi bersuara, sepertinya mimpinya sudah habis.


Gavin yang sejak awal mendengarkan kalimat-kalimat itu terdiam, kemudian ingatannya memutar percakapan antara dirinya dan Arunika di acara keluarga Rosverd. Arunika pernah berkata kalau dirinya sudah diikutkan banyak kursus secara rutin dari usia delapan tahun dan Gavin menduga kalau 'Kak Demi' dan 'Kak Vian' yang keluar dari mulut itu adalah kedua kakak kandung Arunika—karena Gavin pernah mendengar kalau kepala keluarga Bumantara memiliki tiga orang anak. Dan sepertinya, kedua kakak Arunika juga menjalani kehidupan yang tak beda jauh dengan perempuan itu, yaitu mengikuti banyak kursus rutin sejak usia belia. Jika benar begitu, berarti keluarga Bumantara sangatlah keras dalam mendidik keturunannya dan itu semua demi pandangan maupun pendapat orang terhadap mereka.


Gavin menatap dalam perempuan yang sekarang kembali tertidur dengan nyenyak dengan pikiran yang hanya pria itu ketahui. Tak lama, terdengar bel yang menandakan waktu istirahat telah selesai. Gavin pun beranjak dari duduknya dan sebelum pergi, ia membuka ponsel pintarnya dan mengetikkan beberapa hal. Beberapa detik kemudian ponsel Arunika yang berada di nakas bergetar, menunjukkan pesan Gavin telah masuk. Pria itu juga merapikan selimut Arunika yang sedikit berantakan karena banyak bergerak tadi. Setelah memastikan tidak ada yang kurang, ia pun akhirnya pergi meninggalkan medical room.


Arunika tersenyum kecil membaca pesan yang sebenarnya simpel itu, hanya memintanya untuk menghabiskan semua yang ada di kantong plastik dan pulang jika dirasa masih tidak enak badan. Namun entah kenapa Arunika merasakan kehangatan dari pesan tersebut sehingga tak perlu berlama-lama ia membalasnya dengan mengucapkan terima kasih. Setelah itu, ia mematikan ponselnya dan membuka kantong plastik itu.


"Nasi goreng? Ini kebetulan atau bagaimana?" Arunika tersenyum cerah ketika menyadari kalau makanan yang Gavin beli adalah makanan kesukaan. Tak perlu berpikir lama, Arunika langsung menyantapnya dengan nikmat.


...⁕⁕⁕...


Kecerahan dan kehangatan matahari telah tergantikan oleh gelap dan dinginnya malam. Gavin sudah pulang sekolah sejak empat jam yang lalu dan sekarang sedang mengerjakan tugas mengerjakan soal matematika yang diberikan oleh gurunya. Meski sedikit bingung—untungnya ada bantuan dari buku paket dan internet—akhirnya ia bisa menyelesaikannya. Gavin tak peduli jawaban di setiap soalnya benar atau salah, yang penting dirinya mengerjakan, setidaknya dengan begitu ia bisa lolos dari hukuman tidak mengerjakan tugas.


Baru saja Gavin ingin melemparkan dirinya ke tempat tidur, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. Lagi-lagi ayahnya memanggil dengan alasan yang tak diketahui. Dengan perasaan ogah-ogahan Gavin mendatangi ruang kerja ayahnya, karena jujur, Gavin rasanya ingin sekali berbaring dan tak melakukan apa pun. Sesampainya di depan pintu, Gavin mengetuknya sebanyak tiga kali dan membukanya pelan.


Di meja yang terletak di tengah ruangan, sang ayah dengan kacamata yang menggantung duduk dan tatapannya fokus pada tablet di tangannya. Mungkin Gavin belum pernah menjelaskan apa pekerjaan sang ayah. Ayahnya bekerja sebagai salah satu komposer di studio film ternama dunia—ia juga bisa bekerja untuk project di luar studio film tempatnya bekerja, hanya saja tidak sering. Banyak lagu buatannya menjadi hit dikalangan masyarakat. Ia juga bahkan mendapatkan penghormatan sebagai komposer terbaik selama dua tahun berturut di salah satu ajang penghargaan terbesar dunia. Karena itulah banyak sekali studio film yang menginginkan campur tangan Harris Kanagara di project buatan mereka. Ya, sebesar itulah nama Harris Kanagara.


Butuh beberapa detik bagi Harris menyadari kedatangan anaknya, "ah ... maaf, kau sudah datang ternyata." Gavin memang hanya diam saat datang, ia benar-benar sedang malas untuk berbicara.


Harris menatap wajah anaknya, "kau kenapa?" Gavin menggeleng, "hanya lagi malas bicara, jadi ada apa?" tanya sang anak to-the point.


Harris tersenyum kecil lalu menyatukan kesepuluh jarinya di atas meja sambil mengembuskan napas pelan, "Cassandra Rosverd, putri bungsu keluarga Rosverd, ingin makan bersama denganmu besok di jam tujuh malam." Alis Gavin menukik tajam, apa lagi ini?


Dengan cepat Gavin menolak, "tidak mau, besok aku mau berlatih alat musik baru." Tentu saja Harris sudah tahu jawaban sang anak sehingga ia sudah menyiapkan balasan terhadap penolakan itu.


"Ini merupakan permintaan langsung dari mereka dan para tetua sudah mengetahuinya. Jika kau menolak, para tetua akan memarahimu dan ada kemungkinan memunculkan perasaan tersinggung dari keluarga Rosverd. Kita tidak ingin ada masalah di sini, mengerti maksudku?" Gavin mengembuskan napas kesal sambil memutar matanya. Selalu seperti ini, dirinya tak pernah diperbolehkan untuk menolak, seakan yang penting hanyalah keinginan orang lain dan keinginannya tak penting sama sekali. Dan Gavin tak pernah tahu sampai kapan harus berada di situasi ini.


Karena lagi malas berdebat, Gavin akhirnya hanya mengangguk, "baiklah, aku akan pergi. Lagi pula, kenapa berbicara seakan meminta persetujuanku jika pada akhirnya satu-satunya keputusan adalah iya?" Kalimat tajam dari Gavin itu membuat dahi Harris mengerut, sedangkan Gavin sudah membalikkan badannya dan melangkah mendekati pintu.


Ketika Gavin menarik pintu dan siap melangkah keluar, balasan sang ayah membuatnya mendengus tak percaya, "Gavin, ayah tidak meminta izin padamu, ayah hanya memberitahukan." Gavin tertawa mendengar itu.


"It's worse, then." Harris terdiam mendengarnya, sedangkan Gavin telah pergi dengan sedikit bantingan dalam menutup pintu. Balasan itu tentu Harris pahami artinya, namun ia masih tak paham mengapa anaknya bersikap seperti ini. Harris merasa semua keputusan yang ia ambil itu demi kebaikannya Gavin, contohnya yang barusan terjadi ini. Dirinya memutuskan Gavin harus menerima permintaan dinner dari keluarga Rosverd karena tak ingin Gavin dimarahi oleh para tetua dan menyinggung hati keluarga Rosverd—yang kalau terjadi bisa menimbulkan masalah besar. Jika Gavin datang, anaknya bisa menghindari kedua situasi tersebut dengan mudah. Namun entah kenapa, setiap keputusannya selalu mendapatkan respons negatif dari anaknya.


Apakah ini semua merupakan dampak dari proses pertumbuhannya? Kira-kira kapan sang anak akan mengerti maksudnya? Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya, namun satu hal yang Harris yakini, Gavin suatu saat akan mengerti seluruh tindakannya sekarang.


...⁕⁕⁕...