
"Gavin lagi jatuh cinta, ya? Kesan jatuh cintanya kuat banget di permainan tadi."
Kalimat itu terus berputar di kepala Gavin sejak Della dengan penuh canda mengatakannya. Benar, kalimat itu hanyalah candaan, tapi kenapa Gavin bisa terus memikirkannya? Bahkan ia terus memikirkannya sampai kedua kakinya menginjak lantai marmer rumahnya.
Kata cinta, atau bahkan suka, tidak pernah terlintas dalam benak Gavin sejak kehilangan ibunya. Bagi Gavin, perasaan yang mendalam seperti itu hanyalah sebuah kebohongan dan semuanya bisa berubah dalam sekejap, seperti perasaan sang ayah pada ibunya. Saat ibunya masih ada di sisinya, ayahnya selalu berkata, dirinya cinta mati pada sang istri dan tidak pernah bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika kehilangan wanita itu. Namun nyatanya, dua tahun setelah sepeninggal ibunya, sang ayah menikah kembali dengan wanita lain dan mengucapkan hal yang sama.
Gavin tak menyangka hanya dalam dua tahun sang ayah mampu menggantikan sosok ibunya dengan wanita lain. Gavin belum siap menerima wanita asing sebagai ibunya, ketika dirinya sendiri masih bingung mengapa sang ibu memilih jalan itu. Apakah perasaan manusia memang berubah secepat itu? Apakah segala hal yang ayahnya katakan hanyalah bualan semata? Kenapa sang ayah mengatakan hal itu jika pada akhirnya ia mengingkarinya?
Gavin tentu menyadari kalau sang ayah memang membutuhkan pendamping yang bersedia menemani dirinya sampai tua nanti, namun hal yang Gavin permasalahkan adalah mengapa ayahnya bisa move on secepat itu? Seakan eksistensi ibunya tak sebesar perkataan yang diucapkannya.
Gavin terduduk lemah di depan pianonya. Ia beberapa kali mengembuskan napas berat, kepalanya rasanya mau pecah sekarang. Namun ia juga penasaran, apakah perasaan jatuh cinta yang ia keluarkan saat bermain di sekolah dapat muncul kembali setelah memainkannya sekarang? Untuk menemukan jawabannya, Gavin pun meregangkan punggungnya dan duduk dalam posisi siap. Kesepuluh jarinya ia taruh di atas tuts pianonya, lalu secara perlahan menekannya satu per satu.
Belum sampai seperempat piece, Gavin menghentikan pergerakan jarinya. Dahinya mengerut dalam, lalu ia kembali melanjutkan permainannya dan kembali terhenti beberapa saat kemudian. Gavin menggaruk kasar rambutnya. Apa-apaan ini? Kenapa ia malah kembali merasa tidak senang dengan piece ini? Padahal saat di sekolah ia bisa memainkannya dengan santai. Gavin terus mencoba memainkannya namun ujung-ujungnya ia terhenti karena tidak mampu mendapatkan feel yang sesuai. Saking kesalnya, Gavin sampai menekan seluruh jari di kedua tangannya pada tuts-tuts putih itu hingga menimbulkan suara yang sangat kencang namun tidak beraturan.
Gavin entah untuk ke sekian kalinya mengembuskan napas kasar. Setelah percobaan yang dilakukan selama setengah jam ini, Gavin menyimpulkan, ia kerasukan oleh perasaan yang tak dikenalnya saat bermain di sekolah tadi. Dengan begitu, Gavin memutuskan untuk tak lagi memikirkannya dan mengabaikannya, toh hanya candaan juga, kenapa diseriusi?
Saat Gavin ingin menyelesaikan sesi berpikir kerasnya di depan piano, terdengar ketukan kecil dari arah luar pintu. Tak lama pintu terbuka secara perlahan dan menampilkan Erlano, adik kesayangan Gavin, yang hanya memunculkan kepalanya dengan bibir mengerucut.
"Kan, kakak duduk di depan piano lagi," ucap Erlano seakan membenarkan perkataannya tempo hari, mengenai kebiasaan Gavin yang duduk di depan piano ketika lagi banyak pikiran atau sedih. Gavin memahami maksud kalimat tersebut sehingga ia terkekeh dan meminta Erlano untuk mendekat. Dengan kedua kaki pendeknya, Erlano berjalan menghampiri sang kakak. Sesampainya di sana, Gavin mengangkat tubuh Erlano dan membawanya duduk di pangkuannya.
"Sepertinya kakak lagi kesal, ya? Erlan merasa permainannya kakak tidak selembut biasanya," tanya Erlano sambil menekan satu tuts dengan jari telunjuknya.
Gavin tertawa lembut lalu mengelus rambut light caramel adiknya dengan penuh kasih sayang. "Iya, kakak lagi kesal banget sama lagu ini, feel-nya tidak dapat," jawab Gavin sambil menunjuk piece yang dipusingkannya sejak tadi, sedangkan Erlano mengangguk pelan.
"Kak, main piano itu susah?" Sembari menanyakan hal itu, Erlano mengambil buku piece yang terbuka di depannya dan membolak-balikkan halamannya.
Gavin terdiam sebentar. "Tidak juga, mungkin pas belajar sedikit susah, tapi setelah menguasainya menjadi cukup mudah," balasnya sambil mengingat kembali saat-saat dirinya pertama kali menyentuh piano.
"Erlan ingin bisa bermain piano," ucap anak kecil itu dengan suara kecil, namun masih bisa didengar oleh sang kakak.
"Kenapa?"
"Siapa Risa? Teman?" tanya Gavin yang dijawab anggukan.
"Tapi Erlan selalu suka kalau lagi sama Risa, makanya mau memberikannya hadiah." Apa lagi ini? Apakah ini artinya sang adik menyukai anak bernama Risa itu?
"Jadi, Erlan suka sama Risa?" tanya Gavin memastikan. Dengan polosnya Erlano mengangguk, membuat Gavin tercengang. Ia ingin sekali bertanya, sukanya sebagai teman atau lebih, namun ia tak bisa melakukan itu karena belum waktunya bagi sang adik mengenal hal-hal semacam itu. Akhirnya Gavin hanya bisa membiarkannya dan tidak bertanya lagi. Dan layaknya anak kecil biasa, topik pembicaraan dapat dengan cepat berubah.
"Erlan lihat kakak akhir-akhir ini kayaknya lagi pusing banget, setiap habis sekolah langsung mandi dan pergi ke sini. Erlan jadi tidak tahu apakah boleh mengajak kakak bermain." Hati Gavin menghangat mendengar itu sehingga ia memeluk adiknya dan meletakkan dagunya di puncak kepala Erlano.
"Iya, kakak lagi pusing banget sekarang, mau dengar?" Gavin sendiri tak yakin sang adik akan memahami masalahnya, namun hal yang ia inginkan sekarang adalah mengeluarkan segala isi pikirannya dan kembali mengaturnya. Mulailah Gavin bercerita, meski sesekali terdistraksi oleh Erlano yang menanyakan hal-hal kecil padanya, seperti menanyakan kapan Gavin berhasil menguasai piece-piece tertentu. Namun sepertinya, sang adik juga mendengarkannya.
Setelah menceritakan segalanya, tak ada respons selama beberapa detik kemudian dari sang adik, membuat Gavin tersenyum kecil dan berpikir Erlano tak memahaminya. Tak lama setelah itu, tiba-tiba Erlano berbicara dengan suara kecil, lebih terdengar seperti gumaman untuk dirinya sendiri.
"Papa pernah bilang, bayangkan satu orang yang sekiranya cocok ketika feel tidak keluar saat memainkan piece-nya. Dengan begitu, perasaanmu akan muncul dengan sendirinya." Gavin terdiam mendengar itu, berusaha mencerna perkataannya. Saat dirinya ingin membalas, terdengar kembali ketukan di pintu studio Gavin. Dengan suara sesopan mungkin, butler tersebut meminta Erlano segera bersiap untuk tidur karena waktunya telah tiba. Gavin pun mengalihkan pandangannya pada jam dinding dan benar, sudah jam sembilan malam.
Gavin menurunkan sang adik dari pangkuannya. Setelah itu dengan kepala yang sedikit didongakkan, Erlan berbicara, "Erlan tidur dulu, ya, kak. Erlan ingin bisa setinggi kakak." Gavin tertawa kecil mendengar itu lalu mengecup pelan kepala adiknya. Lelaki kecil berusia tujuh tahun itu pun berjalan pergi dari studio Gavin menuju kamar tidurnya ditemani butler, membuat Gavin kembali sendirian di ruangan yang cukup luas itu.
Pria itu sekarang memikirkan solusi dari adiknya. Meski tak yakin dengan hasilnya, Gavin memejamkan matanya dan mencoba membayangkan satu orang yang terlintas ketika memikirkan piece tersebut. Seketika itu juga wajah penuh senyuman Arunika hari ini muncul, membuat Gavin dengan cepat membuka kembali matanya. Apakah wajah Arunika muncul karena piece ini dia mainkan sambil melihat Arunika tadi? Apakah tidak apa jika ia mengalami hal ini? Muncul banyak pertanyaan dalam benaknya.
Masih dengan penuh keraguan, Gavin mengembuskan napasnya pelan dan kembali memainkan piece itu. Awalnya tak nyaman, namun secara perlahan bayangan akan peristiwa-peristiwa menarik yang ia alami bersama Arunika menguar satu per satu. Sebelumnya Gavin tak menyadari hal ini, namun setelah teringat kembali, Gavin harus mengakui, Arunika sangat cantik dengan senyuman lebar di wajahnya. Perempuan itu terlihat sangat bersinar di matanya. Yang lebih menyenangkannya lagi...
...sebagian besar senyuman itu disebabkan olehnya dan tertuju padanya. Dan ia tak ingin senyuman itu ditunjukkan pada siapa pun selain dirinya.
Seketika itu juga piece tersebut selesai Gavin mainkan. Pria itu secara perlahan membuka matanya dan menatap kesepuluh jarinya yang berada di nada terakhir piece. Entah sejak kapan jantungnya berdebar dengan cepat. Tangan kanannya diletakkan di depan dada dan ia bisa merasakan kecepatan detak jantungnya di atas normal. Ia berusaha mencerna seluruh perasaan yang ia rasakan selama bermain. Dan hanya ada satu kesimpulan yang ia dapatkan.
"Aku ... menyukai Arunika."
...⁕⁕⁕...