RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 34: VALENTINE'S DAY



Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. 14 Februari menjadi hari di mana seluruh orang di dunia merayakan harinya dengan mengucapkan kata-kata penuh cinta serta melakukan hal-hal yang sangat bermakna bagi orang yang dikasihinya. Tidak ada satu pun orang yang ingin melewatkan momen ini.


Sejak menginjakkan kakinya di halaman sekolah, sepasang netra Arunika terus menangkap interaksi para murid yang saling bertukar coklat. Hal tersebut tentu mengukir senyuman kecil di wajahnya dan membuat berpikir untuk mengisi hari ini dengan kegembiraan saja. Kemudian ia mempercepat langkahnya menuju ruang OSIS.


"Happy valentine's day everyone!" teriak Arunika dari depan pintu, menarik perhatian semua orang di sana.


"Happy valday too, Run." Hera yang paling pertama membalas ucapan tersebut, lalu diikuti oleh anggota-anggota lainnya. Setelah itu, Arunika meletakkan sebuah paper bag berukuran sedang di atas satu-satunya meja di ruangan itu.


"Satu orang ambil satu coklat, ya," pinta Arunika dengan senyuman cerahnya, ucapan itu tentu membuat timnya tersenyum terkejut sekaligus senang. Mereka secara serempak mengucapkan terima kasih pada sang ketua dan dibalas anggukan oleh Arunika.


Hera berjalan mendekati sang sahabat dan berdiri di sebelahnya. Kedua perempuan itu melihati para anggota OSIS yang secara bergantian mengambil coklat pemberian Arunika.


"Kau mengingat janjimu ternyata," celetuk Hera yang membuat Arunika meliriknya dengan senyuman tipis, lalu mengangguk pelan.


"Mana mungkin aku melupakannya." Di rapat pertama OSIS setelah Arunika diangkat menjadi pemimpin, Arunika berjanji untuk memberikan coklat pada seluruh anggota di hari kasih sayang karena bersedia untuk mengikuti Arunika selama setahun ke depan. Makanya, saat Arunika mengatakan hal tadi, seluruh anggota OSIS terkejut, mereka terharu Arunika masih mengingat janji yang diucapkannya. Omong-omong, kenapa janji memberikannya di hari Valentine? Entahlah, Arunika juga tidak tahu alasannya, mungkin biar terasa lebih spesial?


"Jadi, sudah di cek semua kebenaran informasi pembeli dan penerimanya?" tanya Arunika mengenai hampers yang beberapa jam lagi akan dikirim pada pemiliknya.


"Sudah, aman semuanya," balas Fernando sambil menunjukkan kedua jempol jarinya. Arunika mengangguk paham, kemudian mengalihkan pandangannya pada Della.


"Konten di media sosial aman, 'kan?" tanya Arunika kembali untuk memastikan tidak ada masalah di kegiatan Unspoken Words. Della memberikan jawabannya dengan menyatukan jempol dan jari telunjuknya menjadi satu sehingga membentuk bulat, lalu merenggangkan ketiga jarinya yang lain—gestur tangan 'OK'.


Arunika pun tersenyum puas lalu menepuk tangannya sambil mengembuskan napas lega. Melihat Arunika yang bertepuk tangan membuat semuanya ikut bertepuk tangan, tentu mereka memahami arti dari tepuk tangan itu.


"Terima kasih banyak atas kerja keras kalian selama beberapa minggu terakhir ini. Meskipun acara ini tidak sebesar acara-acara lainnya, aku senang melihat effort kalian di project kali ini. Tersisa satu langkah terakhir dan setelah itu kalian bisa leha-leha sepuasnya, sebelum kembali sibuk dengan ujian tengah semester." Terdengar rengekan tidak suka dari beberapa anggota setelah Arunika menyelesaikan kalimat terakhirnya. Arunika terkekeh mendengar anggotanya memintanya untuk tidak mengingatkan mereka tentang ujian.


Sehabis itu, Arunika mengulurkan tangannya ke depan dengan posisi punggung tangan menghadap langit. Tak lama satu per satu anggota OSIS melakukan hal yang sama sehingga tangan itu bertumpuk di atas tangan lainnya. Arunika menatap secara perlahan orang-orang di sekitarnya.


"OSIS WG SHS ...." Dengan semangat Arunika memulai slogan mereka, yang kemudian dilanjutkan secara kompak dan keras oleh seluruh anggota OSIS.


"Cheers, cheers, cheers!" Terdengar kembali gemuruh tepuk tangan yang menjadi penutup dari slogan itu.


Setelah mengucapkan itu, mereka secara perlahan pergi meninggalkan ruang OSIS karena urusan telah usai. Arunika dan Hera menjadi dua anggota terakhir yang pergi karena harus mengunci ruangan. Selama perjalanan menuju kelas, keduanya kerap mendapatkan ucapan happy valentine dari murid-murid lainnya. Tentunya dibalas dengan ramah oleh Arunika dan Hera.


"Kau benar-benar kembang desanya sekolah ini, Run," goda Hera setelah melihat seluruh hadiah yang Arunika terima dari secret admirer-nya. Arunika menggeleng pelan, menolak julukan tersebut, lalu duduk di bangkunya dan mulai membuka surat itu satu per satu. Sesekali ia tertawa ketika membaca surat yang menurutnya lucu. Sebenarnya semua surat itu tidak terus berisikan tentang ungkapan perasaan suka maupun kekaguman, kadang ada yang mengucapkan terima kasih karena telah dibantu atau sebagainya. Hati perempuan itu menghangat, ternyata banyak orang merasa senang dengan kehadirannya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan sebanyak tiga kali dari pintu kelas Arunika dan Hera. Ya, siapa lagi kalau bukan Gavin, Maverick, dan Floyd. Arunika langsung tersenyum lebar dan menyuruh ketiganya masuk ke kelas. Tiga lelaki itu pun menurut.


"Ayo, tukar coklat!" ajak Maverick dengan antusias sesampainya di hadapan dua teman perempuannya. Kelima remaja itu pun saling bertukar coklat sambil mengingat momen-momen bahagia pertemanan mereka selama beberapa waktu terakhir ini. Kelima orang ini tidak pernah menduga bisa menjadi teman dekat, padahal sebelumnya hanya saling kenal saja.


Setelah selesai, Gavin diam-diam memperhatikan Arunika yang sedang berbincang dengan Maverick, kemudian ia menyadari suatu hal.


"Run, kenapa pakai cardigan? Tidak enak badan?" Pertanyaan Gavin itu sontak menarik perhatian yang lainnya dan tersadarlah mereka akan penampilan Arunika yang tak seperti biasanya. Jarang sekali Arunika mengenakan jaket di keseharian hidupnya.


Arunika menggeleng pelan dan menjawab, "hanya merasa udara hari ini lebih dingin dari biasanya, jadi aku ingin pakai jaket." Jawaban itu dibalas anggukan paham oleh keempat temannya.


"Kalau merasa tidak enak badan, langsung ke UKS, ya," ucap Gavin dengan nada lembut sambil mengusap perlahan punggung Arunika, yang diberi perhatian mengangguk mengiakan. Kemudian Gavin mengalihkan fokusnya pada Hera, Maverick, dan Floyd yang sejak tadi diam memandangi tindakan penuh kelembutannya pada Arunika. Ketiga orang itu memberikan tatapan dengan berbagai macam arti pada Gavin.


Gavin menyudahi usapan di punggung Arunika dan berdeham kecil, membuat Arunika bingung karena tiba-tiba merasa muncul aura yang aneh di sekelilingnya.


"Kenapa kalian menatap Gavin seperti itu?" tanya Arunika sambil menaikkan satu alisnya. Hera, Maverick, dan Floyd menggeleng ribut.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa," jawab mereka bersamaan. Tentu saja jawaban tersebut tidak mampu memudarkan kecurigaan Arunika sehingga perempuan itu masih mempertahankan wajah tidak yakinnya sambil bergantian menatap keempat temannya.


Demi mengalihkan perhatian Arunika, Hera malah mengucapkan satu kalimat yang mungkin akan mengundang satu perasaan baru dalam diri Gavin.


"Arunika mendapatkan banyak sekali coklat, bunga, dan surat, loh, dari para secret admirer-nya."


Jika kalian bertanya mengapa Hera mengatakan hal itu, tentu saja untuk melihat reaksi Gavin. Dan benar saja, lelaki itu sekarang terdiam karena berusaha mencerna informasi yang baru saja dibeberkan Hera. Beberapa saat kemudian, Gavin menatap Hera dengan tatapan seakan mengatakan, kenapa kau begini padaku?


Hera menyadari sinyal dari tatapan itu sehingga ia tertawa dalam hati. Sepertinya Maverick dan Floyd juga dapat menangkap komunikasi batin antara Gavin dan Hera sehingga mereka ikut tertawa kecil. Saking asyiknya menggoda Gavin dalam diam, mereka meninggalkan Arunika yang berdiri di tengah-tengah dengan tanda tanya besar di atas kepalanya.


Ada apa, sih, dengan teman-temannya ini?


...⁕⁕⁕ ...