RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 21: KEKANAKAN



Berita pertandingan basket antara Gavin dan Archie nyatanya menyebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru sekolah sampai-sampai hampir seluruh kursi di lapangan indoor penuh. Untungnya Arunika, Hera, Maverick, dan Floyd datang lebih cepat dan duduk di barisan pertama. Mereka bisa melihat Gavin memasuki ruangan dengan baju olahraganya dan menenteng tas di pundaknya. Kedatangan pria itu mampu membuat para siswa, terkhususnya perempuan, berteriak kegirangan. Beberapa detik setelahnya Archie ikut memasuki ruangan sambil memasang headband. Teriakan kembali bergemuruh menyambut kedatangan Archie.


Gavin meletakkan tasnya di kursi panjang samping lapangan, tepat di depan keempat temannya yang hanya dipisahkan sebuah pagar kecil. Kemudian ia melihat satu per satu orang yang menatapnya lekat itu.


"Hancurkan si brengsek itu," ucap Maverick dengan mata berapi-api sambil mengepalkan tangannya. Gavin terkekeh, kemudian menatap Floyd.


"Semangat, Vin," ucap Floyd dengan senyuman lebar yang dibalas senyuman juga oleh Gavin.


Kemudian tatapannya beralih pada Hera yang memintanya untuk mendekat, Gavin melangkahkan kakinya dan berhenti dengan jarak yang sangat tipis antara pagar kecil itu. Hera menepuk pundak kiri Gavin dan berbisik, "mau kau kalah atau menang, jangan tundukkan kepalamu di hadapannya," ucapnya dengan wajah serius. Gavin tersenyum kecil lalu mengangguk paham.


Akhirnya sampailah ia di depan Arunika yang duduk dengan wajah datar menyilangkan kedua tangannya. Gavin menumpukan kedua tangannya di pagar setinggi dada itu dan mendaratkan kepalanya di atasnya dengan posisi sedikit teleng. "Kau tidak ingin mengatakan apa-apa padaku?" tanyanya dengan suara lembut. Arunika mendecih mendengar itu sehingga dilepaskan silangan tangannya, lalu memajukan tubuhnya sambil menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Dagunya diletakkan di atas tangan kanan yang bertumpu ke paha kanan.


Adam dan hawa itu saling bertatapan selama beberapa detik, Arunika dengan mata yang sedikit dipicingkan dan Gavin tatapan yang masih lembut sejak tadi. Banyak orang di sekitar mereka melirik penuh keingintahuan. Entah kenapa rasanya dua orang ini makin dekat dan intens.


Arunika sempat tenggelam dalam laut biru kehijauan itu sehingga ketika dirinya tersadar, matanya melirik ke arah lain, membuat Gavin tersenyum penuh arti. "Jangan terluka, aku tidak mau kau mendapatkan perawatanku untuk yang ketiga kalinya," ucap Arunika dengan suara kecil, namun masih bisa didengar oleh Gavin.


Gavin tersenyum jahil mendengar kalimat dengan suara datar namun bermakna lembut itu, "berarti masa berlangganan gratisku sudah habis, ya?" Arunika langsung kembali menatap mata Gavin dengan jari yang terangkat, siap untuk menunjuk pria itu. Sayangnya wasit sudah berada di lapangan dan memanggil kedua pemain untuk masuk ke lapangan. Gavin pun berlari kecil menuju lapangan, begitu juga dengan Archie. Arunika hanya bisa menatap punggung yang semakin menjauh itu, sedangkan ketiga orang di sebelahnya sudah berteriak menyemangati Gavin.


"Kita hanya akan memakai setengah lapangan dan di setiap babak baru, kita akan berpindah menggunakan sisi lapangan satunya," ucap David—kakak kelas sekaligus anggota tim basket sekolah—sambil menunjuk garis tengah lapangan.


"Kita hanya akan bermain tiga babak dengan waktu sepuluh menit di setiap babaknya, paham?" Gavin dan Archie mengangguk paham, "peraturan permainan sama seperti kalian main biasanya," lanjut David sambil meninggikan bola yang ada di tangannya.


David memasukkan peluit di antara kedua bibirnya dengan mata yang melihat Gavin dan Archie secara bergantian. Tak lama peluit ia bunyikan dan bola dilempar ke atas, menandakan permainan dimulai. Gavin dan Archie dengan cepat melompat untuk bisa mendapatkan bola itu. Archie berhasil mengambilnya karena lompatannya yang sedetik lebih cepat daripada Gavin.


Gavin berusaha merebut bola, sayangnya Archie dapat dengan cepat bergerak menghindari halangan Gavin dan menembak bola itu ke ring. Dua poin pertama menjadi milik Archie. Kemudian David memberikan bola itu pada Gavin sehingga Gavin berada pada posisi menyerang dan Archie di posisi bertahan. Karena Archie berada dalam posisi bertahan, ia harus bertumpu pada kuda-kuda yang sangat kuat sehingga Gavin perlu mencari arah yang membuat Archie harus mengubah tumpuannya. Untungnya Gavin berhasil mendapatkan celah itu. Ia sedikit menggerakkan tubuhnya ke kanan, seakan mengisyaratkan akan berlari ke kanan. Archie termakan oleh gerakan itu sehingga Gavin dengan cepat berlari ke arah kiri Archie dan memasukkan bola dengan lay out. Dua poin untuk Gavin.


Permainan babak pertama berlangsung dengan cukup sengit. Beberapa kali Gavin berhasil merebut bola Archie, membuat Archie sedikit terkejut. Sebelumnya ia berpikir Gavin tidak semahir itu dalam berolahraga dan sepertinya dia harus mengubah persepsi itu. Di sisi lain Gavin cukup menikmati permainan tersebut dan sudah menduga kalau kemampuan basket Archie sangatlah apik, dapat dilihat dari lelaki itu yang sudah tiga kali mendapatkan *three-point shoot*. Dan tak terasa sepuluh menit telah berlalu dan kemenangan berada di tangan Archie, dengan skor yang sangat tipis, yaitu 18—16.


Gavin berjalan menuju kursinya dengan napas terengah-engah, tangannya juga mengangkat bajunya untuk menghapus keringat di wajahnya. Kemudian ia duduk dan menundukkan kepalanya sebentar. Setelahnya ia membuka tas dan mengambil handuk kecil berwarna putih, diusapkannya handuk tersebut ke wajah dan kedua lengannya.


"Gavin." Gavin menoleh ke belakang ketika telinga mendengar namanya dipanggil. Tentu saja ia sudah tahu siapa yang memanggil, siapa lagi kalau bukan Arunika.


Arunika menyodorkan satu botol minuman isotonik pada Gavin, membuat si pria terdiam sebentar.


"Kau tidak mau?" tanya Arunika menyadarkan Gavin dari keterdiamannya. Ia pun terkekeh dan menerimanya.


"Tentu saja kuterima, mana mungkin barang dari Arunika tidak diterima." Arunika merinding geli mendengar jawaban itu, sedangkan Gavin telah meminumnya sedikit, tidak ingin perutnya kembung.


"Vin, kira-kira bisa menang tidak?" tanya Maverick sambil berjongkok di belakang pagar dan tangan yang memegangnya.


Gavin terdiam sebentar lalu menggeleng, membuat keempat orang di sana sedikit terkejut. "Sebenarnya aku sudah yakin tidak bisa menang karena perbedaan kemampuan yang besar, makanya aku dari sejak mulai tadi tidak terlalu memusingkan hasilnya," jelasnya dengan kedua bahu dinaikkan tak acuh.


"Lalu kenapa kau menerima tantangan darinya?" tanya Arunika.


"Kau lupa apa yang kukatakan kemarin?" tanya balik Gavin yang membuat Arunika terdiam.


"Apakah kau tak merasa aneh dengan Gavin sejak kemarin?" tanya Arunika dengan pandangan terus tertuju pada Gavin yang sudah berada di tengah lapangan. Hera yang mendengar itu tersenyum kecil.


"Kenapa dia menerima tantangan ini kalau sudah tahu akan kalah? Apa alasannya menerima tantangan ini? Dan berbagai pertanyaan sejenis berputar di otakmu, 'kan?" timpal Hera dengan yang dijawab anggukan oleh Arunika.


"Jika aku berada di posisi Gavin, harga diriku akan cukup terluka. Tapi aku bukanlah Gavin yang sudah berkali-kali mengalami kekalahan di kompetisi, jadi aku tidak tahu bagaimana perasaannya," seru Arunika sambil mengembuskan napas berat.


"Kau khawatir dengan perasaannya?" Arunika mengangguk pelan, "kalau begitu lakukanlah sesuatu untuknya." Kalimat itu memunculkan kebingungan dalam diri Arunika. Saat dirinya ingin bertanya maksudnya, tiba-tiba penonton berteriak keras. Ternyata Gavin baru saja mencetak three-point pertamanya di pertandingan itu. Maverick dan Floyd berteriak sangat keras memanggil nama Gavin.


Arunika tersenyum melihat itu sambil menatap Gavin. Sedetik kemudian, Gavin menolehkan kepalanya ke arah penonton sebelah kanannya, atau lebih tepatnya pada Arunika yang duduknya tak jauh darinya. Sontak saja dua pasang netra itu bertemu dan Gavin langsung memberikan senyuman lebarnya, membuat Arunika memberikan dua jempolnya pada pria itu.


Kemudian pertandingan kembali berjalan, entah bagaimana caranya sampai akhirnya babak kedua berakhir dengan Gavin yang memimpin dengan skor 29—32. Di babak kedua ini Gavin memang terlihat sering menekan Archie sehingga berhasil merebut bola darinya, sedangkan Archie bertekad tidak akan kalah di babak terakhir karena nama baiknya sebagai pemain basket sekolah dipertaruhkan. Tidak mungkin dirinya kalah dari orang yang menjadikan basket sebagai hiburan saja.


Setelah beristirahat selama dua menit, babak ketiga dimulai dan terlihat kalau Archie ingin sekali mendominasi permainan sehingga tanpa sadar beberapa kali melakukan pelanggaran. Berkat itu, Gavin sudah empat kali mendapatkan kesempatan untuk melakukan lemparan bebas yang bernilai satu poin. Di waktu yang tersisa tiga menit, poin dari masing individu masih kejar-kejaran, membuat seluruh penonton tidak tahu siapa yang akan menang.


Archie memimpin di skor 40—39, karena kembali berhasil menembakkan tiga angka di menit ke delapan. Karena hanya berbeda satu poin, ketika Gavin berhasil memasukkan bola, maka ialah yang memegang kepemimpinan sekarang, 40—41 di menit ke sembilan. Sekarang waktu kurang dari satu menit dan Gavin berada di posisi bertahan. Ia berusaha mendorong bola itu agar Archie tidak bisa menembakkannya ke ring. Sayangnya Archie menangkap maksud tindakan Gavin sehingga ia dengan cepat menghindar dan berlari mendekati ring, lalu memasukkannya dengan gaya layout.


Peluit panjang tanda babak berakhir berbunyi. Pertandingan basket antara Gavin dan Archie dinyatakan selesai dengan skor 42—41, kemenangan di tangan Archie. Archie merasa senang setengah mati karena berhasil mengalahkan orang yang akhir-akhir mengganggu hatinya akibat kedekatannya dengan perempuan yang disukainya. Teman-teman Archie pun langsung menyamperi dan memberikannya ucapan selamat.


Di sisi lain, Gavin masih berdiri di tengah lapangan dengan kedua tangan di pinggangnya, napasnya tak beratur sama sekali. Kemudian tatapannya beralih pada Archie yang sibuk mengobrol dengan teman se-gengnya. Ia berjalan menghampiri, menarik perhatian orang-orang di sana. Langkah Gavin terhenti dan mengulurkan tangannya, "good game," ucapnya sambil tersenyum ramah.


Archie terdiam melihat tangan itu, lalu menyilangkan kedua tangannya dan menelengkan kepalanya, "seharusnya kau sudah tahu alasan sebenarnya aku mengajakmu tanding." Gavin menurunkan tangannya dan mengangguk.


"Karena kau menyukai perempuan yang dekat denganku, 'kan? Kau ingin menunjukkan kalau dirimu lebih baik dariku dan ya, selamat, sekarang sudah terwujud," balas Gavin dengan santai.


"Benar, peka juga dirimu," timpal Archie dengan senyuman bangga.


"Tapi apa kau tahu alasanku menerima tantanganmu?" Senyuman Archie meluntur mendengar pertanyaan itu, sedangkan Gavin masih mempertahankan senyumannya.


"Awalnya aku ingin menolak tantanganmu karena aku tidak suka melakukan hal sepele seperti ini, menunjukkan diri lebih baik di bidang yang jelas-jelas menguntungkan satu pihak." Dahi Archie mengernyit mendengar itu. Ia tahu maksud kalimat Gavin, yaitu tidak adil.


"Namun aku juga merasa tidak terima untuk mengalah begitu saja pada seseorang yang menantang orang lain hanya karena perempuan yang disukainya lebih dekat dengan pria lain. Apakah kau melakukan itu pada setiap pria yang dekat dengan Arunika?" Semua orang di sana terdiam. Pertanyaan tajam itu benar-benar menusuk hati Archie, seakan mempertanyakan kedewasaannya sebagai lelaki yang sudah berumur enam belas tahun.


"Jika iya, sudah berapa banyak pria yang kau tantang secara diam-diam hanya karena bisa berteman dekat dengan Arunika?" Pertanyaan lagi-lagi meluncur dengan pedas dari bibir Gavin, membuat Archie tak berkutik.


"Gavin." Gavin membalikkan badannya dan mendapati keempat temannya telah berdiri sekitar lima langkah darinya. Ia bisa melihat wajah datar Arunika, yang ia duga sudah mendengar sedikit percakapannya dengan Archie.


Di sisi lain Arunika, Hera, Maverick, dan Floyd akhirnya mengetahui alasan Gavin menerima tantangan Archie. Pria itu ingin menegur sikap Archie yang kekanak-kanakan. Arunika sebenarnya sudah menduga Archie memiliki perasaan padanya, namun ia tidak terlalu peduli. Ia juga tidak menduga Archie bisa melakukan hal kekanakan seperti ini.


Arunika mengembuskan napas pelan sambil memejamkan mata. "Ayo, pergi. Biarkan dia," ajaknya sambil memberikan senyuman kecil pada Gavin. Gavin pun menuruti perkataan Arunika tanpa membantah sedikit pun sehingga gerombolan Arunika melangkah menjauh dari geng Archie.


Archie menatap punggung-punggung itu dengan kesepuluh jari yang mengepal erat.


...⁕⁕⁕...