
"That was so spectacular!" Gavin tersenyum lebar saat mendengar itu dari mulut Arunika. Perempuan itu memujinya habis-habisan, begitu juga dengan Cassandra namun tak terlalu dihiraukan oleh Gavin.
"Very well played, feel honored to watch it live." Cassandra memuji untuk ketiga kalinya, akhirnya Gavin membalasnya dengan senyuman tipis.
"Thank you." Muncul semburat merah di kedua pipi Cassandra sehingga ia menundukkan kepalanya, tak ingin Gavin melihat. Arunika yang sejak tadi memperhatikan tingkah Cassandra hanya tersenyum maklum.
Setelah berhasil menetralkan degup jantungnya, Cassandra siap membuka mulutnya kembali, namun seorang pelayan tiba-tiba datang dan membisikkan sebuah kalimat pendek padanya. Mendengar itu Cassandra merasakan kekecewaan dan memberikan senyuman kecil pada kedua orang di depannya.
"Sangat disayangkan percakapan kita harus berakhir di sini, orang tuaku memanggil." Barulah Arunika dan Gavin paham akan perubahan raut wajah itu. Arunika memberikan tatapan pada Cassandra seakan mengatakan, masih ada banyak kesempatan untuk mendekati Gavin sehingga ia tidak perlu khawatir. Tatapan itu mampu memberikan ketenangan di hati Cassandra sehingga ia akhirnya pamit undur diri, sedangkan Gavin hanya menundukkan kepalanya sekali dengan senyuman tipis ketika perempuan itu pergi.
Setelah punggung tersebut dirasa jauh, Arunika memberikan tatapan bingung pada pria di sebelahnya, lalu meletakkan tangan kanannya di pinggang dan kepala ditelengkan ke kiri, "ada apa denganmu? Bad mood?" Sekarang Gavin yang bingung maksud pertanyaan Arunika.
"Maksudnya?"
"Kenapa kau dingin sekali pada Cassandra?" Gavin menaikkan kedua bahunya tak acuh, "aku hanya tidak nyaman dengan orang yang SKSD, kau tidak sadar dia beberapa kali berusaha memegang tanganku?"
"Dia hanya berusaha untuk bersikap ramah, Gavin," sanggah Arunika yang membuat Gavin terdiam dan menatap dalam kedua netra coklat terang Arunika. Dalam hati Gavin menduga kalau Arunika tidak menyadari maksud tersirat dari perempuan itu sehingga ia kembali menaikkan kedua bahunya.
"Mau dia berusaha bersikap ramah atau tidak, aku tetap merasa tidak nyaman."
"Kalau begitu kenapa kau tidak merasakan hal yang sama saat pertama kali bertemu denganku? Kurasa sikap SKSD-ku lebih parah darinya." Gavin terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Itu adalah pertanyaan yang Gavin juga tidak ketahui jawabannya, sedangkan Arunika masih menunggu jawaban darinya.
Gavin kembali menatap dalam Arunika, kemudian tersenyum jahil, "Run, mau cari udara segar?" Alis Arunika menukik mendengar tawaran itu, jelas sekali Gavin berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kau ingin ... Hei! Aku belum selesai bicara!" Sebelum Arunika berhasil menyelesaikan kalimatnya, Gavin menggenggam tangan kanan Arunika dan menariknya lembut. Mau tidak mau tubuh Arunika bergerak mengikuti langkah Gavini. Arunika terus mencecar Gavin dengan berbagai pertanyaan, namun Gavin tidak ada niatan untuk membalas.
Gavin membuka pintu yang letaknya percis di belakang panggung, tidak ada orang di sana—entah pergi ke mana staff-staff yang seharusnya berdiri di sekitar panggung—sedangkan para tamu undangan masih sibuk berbincang sehingga tidak menyadari pergerakan mereka. Seketika sebuah lorong panjang nan luas terpampang di depan wajah Arunika. Ketika pintu telah tertutup rapat, Gavin melepaskan genggamannya, sedangkan Arunika menjauhkan diri dari pria itu.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Arunika menatap curiga pada Gavin yang sudah beberapa langkah di depannya, sedangkan dirinya masih berdiri di dekat pintu.
"Mencari udara segar," balas Gavin sambil mendorong pelan satu dari banyaknya pintu di lorong itu dan ternyata terkunci sehingga ia kembali berjalan mendekati pintu lain, lalu melakukan hal yang sama. Nyatanya jawaban itu belum mampu meredakan kecurigaan Arunika.
"Bagaimana bisa kita mencari udara segar di sini? Di sini hanyalah lorong dengan puluhan pintu yang entah mengarah ke mana." Setelah mengucapkan itu, Gavin mendorong pintu kelimanya dan terbuka. Gavin menatap puas ke Arunika. Gavin sadar akan kecurigaan yang Arunika miliki dan ia memakluminya, lebih aneh jika seorang perempuan tidak merasa curiga ketika berada di posisi tersebut.
Gavin membuat gestur tangan yang mengajak Arunika untuk mendekat, butuh beberapa saat bagi Arunika untuk berani mendekat dan lelaki itu pun sepertinya bersedia menunggu selama yang Arunika inginkan. Perlahan Arunika mendekat dan ketika jarak hanya tersisa dua langkah, Gavin dengan jahil mendorong pelan Arunika.
"Gavin!" teriak Arunika sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya, sedangkan yang dipanggil hanya tertawa keras sembari menutup pintu di belakangnya. Kemudian ia berjalan dan berdiri di samping Arunika yang menatapnya tajam.
"Lihat, cantik, 'kan?" Sontak Arunika mengalihkan pandangannya ke depan dan benar saja, sebuah halaman luas yang dipenuhi oleh berbagai macam bunga langsung memanjakan matanya. Mata Arunika melebar dan kedua tangannya menutupi sebagian wajahnya, benar-benar takjub akan pemandangan itu.
"Sangat cantik. Tahu tempat ini dari mana?" tanya Arunika sambil berjalan mendekati bunga-bunga itu, ingin melihatnya lebih jelas. Gavin menautkan kedua tangannya di belakang pinggang dan memandangi punggung Arunika yang sudah berjongkok.
"Saat berjalan ke panggung tadi, aku melihat pelayan memasuki pintu yang pertama kali kita masuki. Karena pintunya dibiarkan tertutup sendiri, aku jadi bisa melihat pelayan itu membuka pintu ini dan menghilang. Jadi, aku berpikir, mungkin pintu ini merupakan pintu keluar para pelayan. Tapi, aku tidak menyangka terdapat pemandangan sebagus ini, padahal rencananya aku hanya ingin membawamu untuk menghirup udara segar dan ternyata, kita mendapatkan bonus." Jelas Gavin dengan senyuman lebar di wajahnya.
Arunika ikut tersenyum, lalu kembali fokus memperhatikan bunga-bunga di depannya. Tiba-tiba sebuah jas tersampir di pundaknya, menutupi tubuh bagian atasnya akibat bajunya bertipe-kan off-shoulder. Arunika melirik Gavin yang ikut berjongkok di sebelahnya, lalu merapatkan jas itu pada tubuhnya.
"Thanks." Gavin hanya diam dan ikut menatapi bunga yang disentuh oleh Arunika.
Keheningan mengisi suasana antara adam dan hawa itu, namun itu bukanlah keheningan yang mencanggungkan, melainkan keheningan yang membuat keduanya merasa nyaman. Tanpa Arunika sadari—karena terlalu fokus dengan bunga—Gavin sesekali melirik padanya dan tersenyum kecil.
"Sepertinya aku belum mengatakan ini." Keheningan tersebut akhirnya dipecahkan oleh suara berat dan dalamnya Gavin. Arunika menoleh kecil, menunggu kelanjutan kalimat pria di sebelahnya.
"You look great in those burgundy dresses." Suara Gavin mengecil di akhir kalimat, namun Arunika masih bisa mendengarnya. Diam menjadi reaksinya, tak menyangka Gavin akan memuji penampilannya. Karena tidak tahu harus membalas apa, Arunika hanya bisa mengucapkan terima kasih dengan pandangan yang ia arahkan kembali pada bunga-bunga di depannya dengan kikuk. Tentu Gavin menangkap tingkah tak biasa itu dan hanya bisa terkekeh pelan. Ia kembali melihat sisi baru Arunika.
"Sejak kapan kau mulai bermain musik?" Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Arunika, perempuan itu merasa harus membuka percakapan agar pujian Gavin tadi tidak terus terngiang di kepalanya.
Gavin terdiam sebentar, memikirkan jawabannya. "Kurasa dari umur empat tahun."
"Alat musik pertama yang kau pelajari?"
"Gitar." Sebuah fakta baru Arunika dapatkan mengenai pria tersebut.
"Butuh berapa lama kau belajar gitar?" tanya Arunika kembali.
"Satu bulan." Mata Arunika melebar mendengar itu, namun tak lama wajahnya kembali seperti semula, "tentu saja begitu, jika tidak, bagaimana mungkin kau bisa dikatakan sebagai yang terpintar dari pemusik-pemusik yang seusia denganmu." Gavin terkekeh mendengarnya.
"Kalau begitu, alat musik yang paling kau sukai?" Arunika kembali memberikan pertanyaan, membuat Gavin merasa seperti sedang diwawancara. Namun ia tetap menjawabnya.
"Bodoh sekali aku menanyakan pertanyaan itu, padahal sudah terlihat jelas saat kau memainkannya tadi. Ganti pertanyaan," gumam Arunika pada dirinya sendiri sambil menepuk pelan dahinya. Lagi dan lagi, Gavin hanya bisa tertawa.
"Langsung kuberikan dua pertanyaan saja, ya? Sejak kapan kau belajar piano dan kenapa kau menyukainya?" Tanpa menunggu balasan Gavin akan permintaannya untuk memberikan dua pertanyaan, Arunika langsung bertanya dengan rasa penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, Gavin terdiam sebentar, lalu meletakkan kepalanya di atas kedua lengannya yang menggunakan lutut sebagai alas dengan posisi kepala menghadap kanan, mengarah pada Arunika. Tanpa sadar Arunika juga melakukan hal yang sama dengan arah yang berbalikan. Karena posisi jongkok mereka hanya berjarak satu jengkal saja, kedua orang itu dapat dengan jelas melihat wajah satu sama lain. Gavin menatapi bagian mata Arunika yang dihiasi oleh mata coklat terang dengan bulu lentiknya, mata itu menunjukkan kesan tegas yang dominan, namun Gavin juga bisa menangkap kesan lembut di dalamnya. Tak beda jauh dengan Arunika yang juga menatap netra biru tersebut, mampu membuatnya terhanyut di dalamnya.
Setelah puas memandangi wajah Arunika—masih dengan posisi serupa—barulah Gavin menjawab, "aku mulai belajar piano setelah menguasai gitar. Awalnya aku belajar karena tuntutan untuk meneruskan generasi permainan musik klasik keluarga dan anehnya, orang-orang selalu memujiku, padahal aku merasa tidak pernah menaruh perasaan di dalam permainanku. Semua yang kutunjukkan hanyalah teknik." Arunika membiarkan Gavin bercerita dengan dirinya yang mendengarkan secara saksama.
"Lalu ada satu orang yang menyadarkanku, ibuku." Muncul senyuman penuh rindu di wajah Gavin, membuat Arunika ikut tersenyum.
"Ibuku pernah bilang, meski aku tidak menyadari dan selalu berkata kalau semua yang kutunjukkan hanyalah teknik, permainan pianoku selalu memiliki perasaan di dalamnya. Aku tidak paham maksudnya sehingga ia bertanya, apa yang kupikirkan saat bermain piano. Aku pun menjawab, semua usaha yang kukerahkan untuk bisa menguasai satu piece tersebut dan perasaanku saat memainkannya. Di situlah aku sadar, perkataan ibuku benar. Lucunya lagi, ibuku pernah berkata kalau senyumanku setelah bermain merupakan senyuman terlebar dari semua senyuman yang pernah kutunjukkan." Gavin mengakhiri ucapannya dengan kekehan kecil.
"Dan perkataan ibumu benar," balas Arunika yang membuat satu alis Gavin naik.
"Senyuman terlebarmu muncul setelah bermain." Perjelas Arunika sambil berdiri dari jongkoknya, kakinya mulai keram. Gavin pun mengikuti tindakan perempuan itu, lalu menepuk pelan paha serta pantatnya.
"Kenapa kau bisa mengatakan itu? Memangnya kau sudah melihat semua senyumanku?" tanya Gavin dengan senyuman menggoda. Arunika berdecak kesal dan memukul pelan lengannya.
"Karena aku sudah menceritakan diriku, bagaimana kalau sekarang saatnya dirimu untuk bercerita?" Arunika tersenyum simpul dan menatap langit di atasnya sambil mengeratkan jas Gavin di tubuhnya, angin mulai berhembus kencang.
"Aku tidak memiliki hal untuk diceritakan," balas Arunika santai. Gavin menggeleng tidak setuju.
"Kalau begitu aku akan melakukan hal yang sama." Arunika melirik dan mendengus pelan, "silakan saja."
"Apakah kau memang sudah pintar dari kecil?"
"Tidaklah, aku sejak kecil sudah dijadwalkan banyak kursus."
"Dari umur?"
Arunika menimbang-nimbang jawabannya dengan menghitung dalam kepala, "kurasa dari umur delapan, tapi sebelum diikutkan kursus secara rutin, aku sudah diajar secara mandiri oleh ayah dan ibuku sejak umur lima di waktu-waktu kosong mereka." Gavin sedikit terkejut mendengar itu.
"Memangnya apa yang kau pelajari di umur sekecil itu?" Arunika menaikkan kedua bahunya tak acuh, "aku lupa, tapi sepertinya tentang organ-organ utama manusia." Pria di sana hanya bisa terdiam, Arunika terkekeh melihat reaksi itu.
"Sama sepertimu, semuanya karena tuntutan keluarga. Keluargaku sejak lama dikenal sebagai keluarga penghasil dokter-dokter yang berkualitas, karena itulah di sini seperti ada peraturan tidak tertulis bahwa menjadi dokter adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa kita miliki. Jika kau memimpikan pekerjaan lain, maka kau harus siap untuk dipaksa menyukai kedokteran atau didepak dari keluarga."
"Separah itu?" Arunika mengangguk, "meski terlihat mengikuti zaman, sebenarnya mindset keluargaku masih kuno," lanjutnya sambil terkekeh.
"Kalau begitu, apakah menjadi dokter adalah impianmu?" tanya Gavin kembali sambil menatap dalam perempuan yang sejak tadi hanya memandangi langit berhiaskan bintang serta bulan di atasnya.
Arunika menaikkan kedua bahunya, "entahlah, sampai sekarang aku tidak tahu ingin menjadi dokter atau tidak, tapi jika diminta memikirkan hal selain menjadi dokter juga tidak pernah bisa. Jadi untuk sekarang, aku hanya membiarkan diriku terbawa arus." Gavin pun mengangguk paham.
Tak lama terdengar sebuah getaran panjang, Arunika tahu itu bukan miliknya karena tas di genggamannya tak bergetar sama sekali. Ketika ia menatap Gavin, pria itu sudah menempelkan ponsel pintarnya di telinga.
"Run, sepertinya kita harus kembali ke ballroom," ucap Gavin sambil mengantongi kembali benda persegi panjang tersebut.
"Kenapa? Sudah dipanggil untuk pulang?" Gavin mengangguk dengan wajah lesu, "adikku tiba-tiba rewel dan terus memanggil ibunya." Meski Arunika merasa janggal dengan kata "ibunya", ia tak ingin melewati batas dan lebih fokus pada fakta kecil tentang Gavin.
Arunika menyenggol pelan tangannya, "kau harus menceritakan adikmu kapan-kapan." Gavin dengan cepat mengiakan.
"Kau masih ingin di sini?" Arunika mengangguk pelan.
"Baiklah, jalan keluarnya sama seperti kita masuk tadi. Hati-hati, kalau bertemu orang mencurigakan langsung lari atau berteriak, bisa juga langsung menghubungiku."
Arunika mendengus, "iya, bawel, pergi sana." Gavin tertawa mendengar panggilan baru itu, kemudian berjalan cepat menuju pintu.
Tak lama Arunika menyadari jas Gavin yang masih tersampir di pundaknya, "Vin! Jasnya?" teriaknya.
"Kau bawa saja dulu dan kembalikan Senin besok, atau mau kau simpan juga tidak apa." Sehabis mengucapkan itu, sosok Gavin menghilang dari balik pintu. Arunika mengembuskan napas pelan sambil tersenyum. Kemudian ia kembali menghadapkan badannya ke taman bunga, lalu dengan mata terpejam menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkan secara perlahan.
"Inilah satu-satunya alasanku masih berada di sini."
...⁕⁕⁕...