
Gavin dan Arunika telah kembali duduk di kursi panjang di pinggir lapangan. Gavin sibuk mengusap rambutnya dengan handuk kecil yang dibawanya, sedangkan Arunika hanya menatapi pria di sebelahnya. Terjadi keheningan di antara mereka selama beberapa menit.
"Sejak kapan kau tahu?" Akhirnya Arunika bertanya, yang ditanyai menghentikan gerakannya sebentar.
"Dari pertama lihat sudah tahu," balas Gavin dengan nada santai sambil kembali mengeringkan rambutnya. Arunika mengembuskan napas pelan, lalu beranjak dan berdiri di depan Gavin yang menundukkan kepalanya. Menyadari pergerakan perempuan di sebelahnya, Gavin pun mendongakkan kepalanya.
Gavin memberikan tatapan bertanya pada Arunika yang diam melihatinya. Tiba-tiba Arunika merebut handuk kecil di tangan Gavin dan menggantikan pekerjaan pria itu dalam mengeringkan rambutnya. Gavin terkejut melihat sikap tersebut sehingga ia menahan tangan Arunika.
"Apa yang kau lakukan?"
"Membantumu."
"Aku bisa sendiri." Arunika menatap tajam Gavin, membuat Gavin sedikit tersentak kaget. Ia pun akhirnya membiarkan perempuan itu melakukan yang diinginkannya.
"Kau sebenarnya tidak perlu melakukan itu, Gavin," ucap Arunika sambil terus mengusak rambut pria itu, sedangkan Gavin memutar bola matanya malas.
"Anak itu tidak akan berhenti jika tidak ditegur, aku bahkan tidak yakin dia akan mendengar perkataanku." Arunika menyudahi usapannya ketika merasa rambut Gavin sudah cukup kering. Ia kemudian mengembalikan handuk kecil tersebut ke pemiliknya dan kembali duduk di sebelah Gavin.
Arunika menatap dalam Gavin yang sejak membereskan barang-barangnya, "apa yang harus kulakukan?" gumam Arunika bertanya pada dirinya sendiri. Namun pertanyaan itu dapat Gavin dengar sehingga ia mengernyitkan dahinya.
"Melakukan apa?" Arunika tidak membalas, ia terus menatap Gavin yang memberikan wajah bingungnya. Tak lama matanya melebar dan ekspresinya seakan mengatakan, ia telah menemukan jawaban dari pertanyaannya.
Dengan wajah berbinar Arunika berdiri dari duduknya dan berjinjit sedikit agar bisa mendekatkan wajahnya ke Gavin, sedangkan Gavin refleks memundurkan kepalanya karena terkejut. "Kekalahan ini membuatmu sedih, 'kan?" tanya Arunika dengan wajah yakin.
Gavin terdiam lalu menjawab, "tidak juga, aku enjoy dengan permainannya." Arunika memberikan tatapan tak yakin atas jawaban itu, membuat Gavin terkekeh kemudian mengangguk, memberikan jawaban yang sesuai dengan keinginan Arunika.
"Aku terpikirkan satu ide. Di event valentine's day, OSIS akan mengadakan kegiatan live music** di jam istirahat pertama dan dua. Aku ingin kau menjadi pengisi acara dan bermain piano di sana. Kau mau?" Arunika mengutarakan idenya. Sejak Hera mengatakan ia harus melakukan sesuatu untuk Gavin, kepala Arunika selalu bertanya-tanya apa yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan kalau Gavin juga memiliki spesialisasinya sendiri dan tidak lebih buruk dari Archie hanya karena kalah di pertandingan tersebut.
Gavin terdiam, tak tahu harus mengatakan apa sehingga Arunika kembali berbicara, "aku ingin mengingatkanmu kalau kehebatanmu berada di kesepuluh jari ini. Kekalahanmu ini tidak membuat dirimu menjadi lebih buruk dari Archie, seperti yang anak itu katakan. Kau juga sama-sama baiknya dan tidak ada satu orang pun yang boleh merendahkanmu, paham maksudku?" Gavin tersenyum mendengar itu. Ia sadar, memang terdapat sedikit kekesalan serta kesedihan akibat kekalahannya, hanya saja dia sudah terbiasa dan tidak terlalu memikirkan hal itu.
Gavin pun mengusap rambut Arunika dengan lembut, "baiklah, aku akan ikut." Jawaban itu langsung memunculkan senyuman lebar di bibir Arunika, kemudian matanya melirik kelima jari Gavin di kepalanya dan menunjuknya.
"Tapi, ini sudah ketiga kalinya kau mengusap rambutku, love language-mu physical touch, ya?" Gavin menelengkan kepalanya dengan wajah bingung sambil menurunkan tangannya. Arunika yang melihat wajah itu melambaikan tangannya di depan wajah, "lupakan, aku lagi malas menjelaskan." Gavin hanya diam sambil tersenyum bingung.
Setelah itu Arunika mengambil satu botol air berukuran satu setengah liter yang sudah kosong tiga perempatnya, ia melihatnya dengan tatapan takjub, "kau minum sebanyak ini di sekolah?" Gavin menaikkan satu alisnya setelah mendengar pertanyaan itu.
"Aku tidak akan bisa minum sebanyak ini," balas Arunika dengan wajah kagum.
"Pantas kau sering dehidrasi dan berakhir pingsan." Arunika melebarkan mulutnya terkejut, tak percaya mendapatkan balasan seperti itu. Ia kemudian memukul keras tangan Gavin, yang dipukul hanya tertawa sambil memegangi bekas pukulan Arunika. Setelah itu ia meminta maaf pada Arunika yang dibalas dengusan kesal oleh Arunika.
Adam dan hawa itu tak sadar, Archie dan kelompoknya masih berada di ruangan sana. Mereka memperhatikan seluruh interaksi keduanya yang sangat dekat dan santai, membuat Archie kembali mengepalkan tangannya kuat. Beberapa teman Archie sudah menepuk pundak serta punggungnya pelan, berusaha meredakan emosi sang ketua geng.
...⁕⁕⁕...
Selama perjalanan pulang, Gavin terus memikirkan ****piece**** apa yang harus ia mainkan di kegiatan live music valentine's day. Sesampainya di rumah, ia langsung memasuki kamarnya, membersihkan diri, lalu pergi ke studio pribadinya. Ia mendekati rak buku yang terletak di sebelah kanan pintu masuk. Rak buku itu berisikan berbagai piece yang dibuat oleh pemusik-pemusik dunia, dari yang paling dikenal oleh khalayak umum sampai yang hanya diketahui oleh mereka yang mendalami musik klasik, dari yang paling sulit sampai yang paling mudah.
Gavin mengambil beberapa buku yang ia ingat berisikan piece-piece bernuansa cinta, kemudian ia mendudukkan dirinya di lantai berlapiskan karpet wolnya. Ia mulai membuka buku itu satu per satu, membaca setiap not nadanya, dan membayangkan tangannya memainkan nada-nada itu. Dengan begitu Gavin bisa tahu apakah piece tersebut sesuai dengan keinginannya. Jarinya terus membalik kertas ketika merasa tidak sesuai, sesekali ia juga mengerutkan dahinya atau menggeleng pelan.
Tak terasa satu jam telah ia habiskan membaca buku-buku itu, bahkan di samping kirinya terdapat tumpukan buku yang telah ia baca. Posisi Gavin tak banyak berubah, ia hanya sesekali meregangkan punggung dan kakinya. Sampai sekarang, ia masih belum menemukan piece yang sesuai dengan keinginannya. Aneh sekali, padahal biasanya ia dapat dengan mudah menentukan satu piece untuk ditampilkan. Bahkan ia masih ingat, saat dirinya diminta secara mendadak oleh keluarga Rosverd di acaranya, Gavin hanya memerlukan lima menit untuk berpikir serta memutuskan piece yang ingin dimainkannya. Kenapa sekarang rasanya sulit sekali?
Gavin mengembuskan napas kasar sambil menutup buku terakhir yang baru saja ia selesai baca. Ia terdiam sambil menatap pianonya. Sebenarnya lelaki itu terpikirkan satu solusi yang mungkin bisa membawanya pada jalan keluar, namun Gavin juga merasa ogah dan malas, yaitu bertanya pada orang yang pertama kali mengenalkan piano padanya, sang ayah. Namun demi bisa menguraikan benang yang kusut, Gavin beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari studionya. Sepasang kakinya melangkah menuju ruang kerja ayahnya.
Sesampainya di depan pintu kayu setinggi dua setengah meter itu, ia mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya mengetuk sebanyak tiga kali. Terdengar suara berat sang ayah dari dalam ruangan meminta orang yang mengetuk masuk. Gavin secara perlahan mendorong pelan pintu tersebut dan memunculkan setengah badannya, membuat Harris terkejut. Jarang-jarang sang anak mencarinya terlebih dahulu.
"Ada yang bisa ayah bantu, Gavin?" tanya Harris dengan senyuman kecil di wajahnya, memandangi Gavin yang berjalan memasuki ruangannya dan berdiri tiga langkah dari meja kerja. Gavin diam selama beberapa detik, lalu membuka mulutnya.
"Aku diminta untuk bermain piano di acara live music saat valentine's day dan sebelum ke sini, aku sudah membaca piece-piece yang bertemakan cinta, tapi aku tidak menemukan piece yang kuinginkan, rasanya seperti ada yang tidak cocok. Aku bingung sekarang." Gavin memulainya dengan menceritakan secara singkat apa yang dialaminya. Harris yang sejak awal mendengar itu mengerutkan dahi sambil tersenyum bingung. Sang ayah meletakkan kepalanya di atas tangan yang sikunya bertumpu di atas meja.
"Kenapa bingung? Tidak biasanya kau begini," ucap Harris dengan senyuman penuh arti. Ia mulai memahami apa yang dimaksud oleh sang anak, sedangkan kedua netra biru kehijauan Gavin menatap seakan bertanya apakah sang ayah tidak mendengar ceritanya tadi?
Harris pun terkekeh, "ayah rasa kau bingung karena ada perasaan yang ingin kau sampaikan dalam permainanmu. Kenapa sebelumnya tidak seperti ini? Karena kau memilih piece berdasarkan tema acara dan perasaanmu menyesuaikan feel piece-nya, sedangkan sekarang perasaanmu memiliki keinginannya sendiri, makanya ia menolak semua piece itu dan membuatmu bingung." Gavin terdiam mendengar penjelasan yang menurutnya masuk akal.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Gavin beberapa saat setelahnya.
Tatapan Harris berubah menjadi lebih lembut dan dalam, "sadari dan tanyakan, sadari perasaan apa yang ingin kau sampaikan itu dan tanyakan kepada siapa perasaan itu ingin kau berikan."
Sama seperti diriku yang sadar akan perasaanku padamu setelah kau mengatakan dua hal ini, semoga perkataanmu juga bisa membantu anak kita, Anahita.
...⁕⁕⁕...