
Kosong.
"Halo semuanya, selamat pagi." Seorang perempuan dengan tinggi sekitar 163 senti berdiri di atas panggung sana, menjadi pusat perhatian ratusan murid baru yang akan menjalani pendidikan menengah atas di sekolah elite itu. Tangannya menggenggam mikrofon sehingga suaranya dapat terdengar dengan jelas. Rambut hitam yang dibiarkan tergerai itu membuatnya terlihat makin anggun dan menawan.
Hampa.
"Sebelumnya perkenalkan, saya Arunika Bumantara, Ketua OSIS sekolah ini. Saya sebagai perwakilan dari OSIS mengucapkan selamat datang ke WG International Senior High School bagi seluruh murid baru tahun ajaran 2020/2021." Beberapa murid setelah mendengar nama perempuan itu membelalakkan matanya, sedangkan beberapa lainnya menunjukkan ekspresi bingung dan bertanya pada murid lain di sampingnya.
"Bumantara …," bisik seorang siswa pada teman di sampingnya.
"Aku memang tahu kalau masih ada satu Bumantara yang bersekolah di sini, tapi kukira sudah lulus. Ternyata dia hanya beda dua tahun denganku," gumam seorang siswi sambil menundukkan kepalanya.
Arunika yang menyadari kericuhan kecil itu berdeham, membuat suasana kembali tenang dan perhatian pun ia dapatkan lagi. Dengan senyuman kecilnya, Arunika melanjutkan kalimatnya, "hari ini merupakan hari pertama orientasi dan seperti yang dijadwalkan, kegiatan hari ini sudah tertera di buku kecil di tangan kalian." Sehabis kalimat itu terlontar, para murid memperhatikan buku kecil yang mungkin hanya berisi sepuluh halaman saja.
Aku tidak bisa merasakan apa pun.
"Saya berharap kalian nyaman dan senang belajar selama tiga tahun di sini. Buatlah kenangan yang menyenangkan sebanyak mungkin di masa SMA kalian. Dapatkan prestasi dan pengalaman dengan fasilitas yang sudah disediakan oleh sekolah. Sekali lagi, selamat datang di sekolah ini dan semangat belajarnya." Arunika menjauhkan mikrofonnya dari mulutnya dan menundukkan sedikit kepalanya sambil tersenyum. Para murid yang memenuhi ruangan aula itu pun bertepuk tangan.
Aku muak, tolong biarkan aku pergi dari semua ini.
...⁕⁕⁕
...
Menyesakkan.
Lelaki itu berdiri dari duduknya dan berdiri tepat di depan piano, sambil tersenyum ia membungkukkan badannya. Dan saat itulah, ruangan yang diisi oleh keheningan itu berubah menjadi ruangan penuh sorakan. Standing applause ia dapatkan hampir dari semua penonton yang datang.
"Bravo! Bravo!" teriak seorang pria berusia sekitar 40-an sambil bertepuk tangan. Ia terlihat sangat puas dan senang dengan penampilan yang barusan dilihatnya.
Memuakkan.
"Hebat sekali anak ini, baru berumur 16 tahun sudah bisa bermain dengan selihai itu," puji seorang wanita dengan setelan berkelasnya pada wanita lain yang tampilannya tak berbeda jauh darinya.
"Keluarga Kanagara memang tidak pernah mengecewakan," balas wanita itu dengan senyuman lebar.
Aku tidak tahan lagi.
"Kanagara Gavin ... Looks like the future of Kanagara is guaranteed." Seorang pria berusia sekitar 50-an berucap dengan fasihnya. Meskipun ia tidak berdiri, namun pria itu tersenyum bangga dan bertepuk tangan untuk lelaki muda yang digadang-gadang akan menjadi pewaris permainan musik klasik dari Keluarga Kanagara, salah satu keluarga pemusik yang telah dikenal kancah internasional sejak puluhan tahun lalu.
Kapan aku bisa lepas dari seluruh perasaan ini?
⁕⁕⁕