RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 29: GALAU



"Vin?" Floyd yang baru saja sampai di kelasnya bingung melihat Gavin yang tertidur di atas meja. Jarang-jarang anak itu tertidur di sekolah, sekantuk apa pun dirinya. Namun melihat wajah lelah sang teman, Floyd pun membiarkannya.


Sialnya, baru sekitar lima menit Floyd membiarkan Gavin tertidur, suara Maverick melengking dari depan pintu sehingga membangunkan temannya itu. Floyd langsung memberikan tatapan tajam pada Maverick yang berjalan mendekati kedua temannya, sedangkan yang ditatapi sedikit merinding. Kemudian barulah Maverick sadar wajah bantal Gavin.


"Oh, maaf telah membangunkanmu," ujar Maverick sambil mendaratkan pantatnya di kursi depan Gavin yang masih kosong. Ia menggaruk canggung lehernya.


Gavin membalasnya dengan gelengan lemah dan kembali menelungkupkan kepalanya di atas kedua lengannya, "tidak apa, ini salahku karena tidur telat kemarin malam," ucapnya dengan suara lemah, benar-benar memperlihatkan seberapa lelahnya ia.


"Kenapa kau tidur larut?" tanya Floyd sambil menarik kursinya mendekati Gavin, sedangkan Maverick telah memberikan seluruh atensinya pada lelaki di depannya.


Gavin kembali menggeleng, "ada hal yang kupikirkan."


"Tentang piece yang kau ceritakan?" Gavin terdiam sebentar, dirinya masih tak yakin bisa menceritakan masalah hatinya atau tidak. Namun beberapa saat setelahnya ia akhirnya memilih untuk mengangguk, membenarkan pertanyaan itu. Gavin merasa terlalu cepat untuk terbuka akan perasaannya pada kedua temannya.


Semalaman Gavin tidak bisa tertidur setelah menyadari perasaannya pada Arunika. Semalaman Gavin bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sejak kapan dia tertarik pada Arunika? Sejak kapan dirinya menyukai perempuan itu? Kenapa ia bisa tidak sadar? Sudah kepalanya pusing memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu, jantungnya menambah masalah dengan terus berdegup kencang setiap ia membayangkan wajah Arunika. Gavin sampai harus beberapa kali memukul pelan dadanya, berharap detakan itu kembali seperti normal.


Perasaan ini benar-benar baru bagi Gavin. Lelaki itu tidak tahu bagaimana dirinya harus menanggapi perasaan ini, apakah ia harus merasa lega? Senang? Marah? Namun satu hal pasti yang Gavin sadari, muncul ketakutan dalam dirinya. Takut Arunika menyadari perasaannya dan menimbulkan dampak pada hubungan pertemanan mereka. Namun Gavin juga mampu menepis perasaan itu karena setelah berminggu-minggu mengamati sifat perempuan itu, Arunika masuk dalam tipe perempuan yang kurang peka, apalagi pada perasaan seseorang padanya. Jadi untuk saat ini, rasanya ia tak perlu terlalu memikirkannya.


Setelah semalaman berdiskusi dengan hati dan otaknya, muncul kesepakatan, Gavin akan sedikit menjauhi Arunika sampai acara valentine's day selesai. Ia ingin mengatur kembali hatinya, juga mulai memikirkan batas-batas perilakunya pada perempuan itu karena Gavin tahu, setelah ini ia akan melihat Arunika sebagai perempuan yang disukainya, bukan lagi sebagai temannya. Batas-batas itu juga akan menjadi pedomannya agar sekiranya tidak melakukan hal yang tanpa sadar membuat Arunika tak nyaman.


Rencana menjaga jarak Gavin pun dimulai hari ini. Ia pikir akan berjalan dengan lancar, namun nyatanya tidak. Gavin benar-benar kagok setiap berpapasan dengan Arunika sampai rasanya ingin sekali tidak bertemu dengan perempuan itu. Bahkan ia sudah ditahap di mana ketika melihat Arunika, ia akan langsung berjalan pergi. Gavin mengutuki habis-habisan hati serta jantungnya. Perasaan ini benar-benar membuatnya tak nyaman.


Di sisi lain, tingkah Gavin yang sangat aneh dapat langsung dirasakan oleh Arunika, Hera, Maverick, dan Floyd. Seperti sekarang, sudah menjadi kebiasaan bagi kelimanya berkumpul di kantin beristirahat bersama, namun tiba-tiba Gavin mengundurkan diri dengan alasan ingin latihan karena acara tinggal dua hari lagi.


"Meskipun Gavin berkata ingin latihan, tapi kenapa aku merasa dia ingin menjauhiku, ya? Apakah kalian tidak merasakan itu juga?" tanya Arunika dengan wajah sedikit cemberutnya menyuap satu sendok nasi beserta lauknya ke mulut.


Hera, Maverick, dan Floyd melirik satu sama lain. Tentu saja mereka bisa merasakannya. Melalui kontak mata itu, mereka menduga kalau Gavin sudah menyadari perasaannya dan sekarang berada di fase bingung bagaimana menanggapi hal itu. Jadi, Gavin menjauhi Arunika sementara waktu untuk mengatur kembali hatinya.


Selama seharian ini, Gavin benar-benar menghindari Arunika. Bahkan pria itu tak menemaninya hari ini, tak seperti hari-hari sebelumnya. Perubahan sikap ini tentu membuat Arunika bingung sendiri. Muncul berbagai pertanyaan dalam dirinya, apakah dirinya ada melakukan kesalahan pada pria itu? Namun kapan dan di mana? Arunika selalu memastikan dirinya untuk selalu berpikir sebelum berbicara ataupun bertindak karena dirinya tak suka dengan orang yang tak bisa menjaga omongan serta tindakannya, jadi Arunika harus menerapkan prinsip itu pada dirinya sendiri. Atau apakah hal itu terjadi di luar kesadaran dirinya? Seperti ketika dirinya tertidur dan mengucapkan hal-hal yang menyakiti Gavin?


"Run, jangan melamun sambil menggunting, jarimu bisa terluka nanti," peringat Hera sambil menepuk pelan pundak sang ketua OSIS. Arunika pun tersentak, kesadaran ia dapatkan kembali. Ia menoleh pada Hera yang mengambil duduk di sebelahnya. Arunika mengembuskan napas pelan lalu menghentikan pekerjaannya, membuat Hera terkekeh, ini pertama kalinya ia melihat sang sahabat sesedih ini ketika satu temannya menjauh.


Akan tetapi, muncul kembali gosip aneh mengenai hubungan keduanya sebagai buntut dari kejadian itu—karena kejadian itu dilihat oleh banyak sekali murid. Berdasarkan gosip itu, Arunika dan Gavin mengalami krisis dalam hubungan mereka, terjadi pertengkaran hebat antar mereka sehingga Gavin memilih untuk menghindari Arunika. Bahkan ada yang bilang kalau mereka sudah putus. Benar-benar gosip yang liar sekali, padahal berpacaran saja belum.


"Her, kira-kira kau bisa membantuku memikirkan alasannya?" tanya Arunika dengan wajah lesu. Kepalanya benar-benar ingin meledak.


Hera yang melihat uring-uringan Arunika tersenyum tipis dan menjawab, "menurutku, dia baru saja menyadari suatu hal." Arunika mengerutkan dahi mendengar itu.


"Sadar akan apa?" Hera menaikkan kedua bahunya tak acuh, membuat Arunika makin bingung.


"Kalau sudah mengatakan hal seperti itu, jelaskan maksudnya. Jangan memberikan jawaban ambigu seperti itu," protes Arunika sambil memukul tangan Hera kesal, sedangkan yang dipukuli hanya tertawa lepas.


"Kau sesedih itu, ya, dijauhi oleh Gavin?" tanya Hera setelah pukulan Arunika selesai. Arunika mendengus mendengar pertanyaan itu.


"Tentu saja, dia tiba-tiba menjauh dengan alasan yang tidak 'ku ketahui. Padahal hubungan kita selama ini baik-baik saja, aku juga merasa tidak pernah melukai perasaannya. Saat aku ingin berbicara padanya, dia malah kabur," keluh Arunika sambil menekuk kedua kakinya dan memeluknya.


Baru sehari Gavin menghindari Arunika, perempuan itu sudah mendapatkan efek sebesar ini. Arunika akui, kedekatannya dengan Gavin berada di urutan kedua setelah Hera. Keduanya memiliki komunikasi yang cukup intens. Saat terjadi sesuatu yang mengocok perut, mengesalkan, mengkhawatirkan, ataupun menyedihkan, Arunika akan selalu bercerita pada Gavin setelah bercerita pada Hera. Hal yang Arunika sukai saat bercerita pada Gavin adalah dirinya yang selalu terlihat antusias setiap Arunika akan bercerita, membuatnya ikut semangat untuk menceritakan berbagai macam kejadian yang dialaminya. Bahkan pria itu selalu mampu menenangkan dirinya ketika Arunika sedang panik ataupun sedih. Ketidakhadiran Gavin di sekitarnya selama satu hari ini benar-benar menguapkan seluruh energinya.


"Kalau menurutmu bagaimana, Run? Kira-kira kenapa Gavin menjauhimu?" tanya balik Hera sambil menatap dalam sahabatnya. Ia juga mengelus lembut punggung Arunika.


Arunika melirik sebentar pada Hera. "Aku tidak ingin berasumsi yang aneh-aneh sebelum tahu jelas cerita aslinya, kau tahu sifatku yang ini," balas Arunika dengan suara lemah. Tipikal Arunika sekali, Hera sudah menduga akan mendengar jawaban itu darinya. Hera pun kembali menatap penuh arti pada temannya, namun tak Arunika sadari karena sedang memejamkan matanya.


"Run, Her, ayo, kerja lagi, kenapa malah leha-leha di sini?" Tiba-tiba Fernando muncul dari balik pintu dengan tangan yang membawa tumpukan kertas, membuat Arunika kembali mengangkat kepalanya.


"Benar, tidak ada waktu memikirkan hal itu sekarang," ucap Arunika sambil beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Hera yang masih terduduk, sedangkan Fernando bingung dengan kalimat yang dilontarkan Arunika. Namun akhirnya ia mengabaikannya dan berjalan menyusul Arunika karena ada hal yang ingin disampaikan.


Lagi-lagi Hera hanya bisa mengembuskan napas pelan sambil tersenyum, "sepertinya akan butuh waktu lama."


...⁕⁕⁕ ...