
...!PERINGATAN!...
...CHAPTER MENGANDUNG KONTEN KEKERASAN, HARAP BIJAK DALAM MEMBACANYA....
...⁕⁕⁕...
"Arun tidak mau!" Teriakan penuh tenaga itu menggema sampai ke setiap sudut rumah keluarga Bumantara dan tentunya dapat didengar oleh seluruh orang di sana sehingga banyak pelayan diam-diam mengintip dari balik tembok maupun pintu.
"Arun sekarang mulai suka membantah, ya," ucap Claris—ibu Arunika—dengan nada yang sangat mengintimidasi. Arunika kecil yang masih berumur delapan tahun menundukkan kepalanya dan mengeratkan pelukannya pada boneka rusa di tangannya.
"Arun bukannya membantah, Arun hanya ingin bermain bersama Aileey," sanggah Arunika masih dengan kepala tertunduk.
"Tapi Arun tahu kalau hari ini ada kursus bahasa Jerman dengan Guru Matteo, Arun lupa?" tanya Claris kembali yang membuat Arunika terdiam, sedangkan di sebelah Aaron berdiri Matteo yang tidak mengatakan apa pun. Ia merasa tak memiliki hak untuk berbicara karena dirinya bukanlah Bumantara dan ada di sana untuk mendapatkan uang.
"Apakah kursusnya tidak bisa ganti hari? Arun sudah janji pada Aileey untuk bermain hari ini." Alis Claris menukik tajam ketika mendengar itu, namun ia berusaha untuk menahan emosinya karena ada orang lain di sebelahnya, ia pun berlutut satu kaki demi menyejajarkan tingginya dengan anak bungsunya.
"Kenapa Arun membuat janji ketika sudah tahu kalau tidak bisa menepatinya?" Kepala Arunika makin menunduk dalam, tak mampu menjawab pertanyaan ibunya. Bukan, bukan karena tak mampu, namun lebih ke tak berani karena satu-satunya alasan Arunika membuat janji adalah agar bisa melewatkan kursus bahasa Jerman itu, atau setidaknya mendapatkan waktu libur sehari dari seluruh kegiatan belajarnya.
"Kalau begitu, ibu akan menghubungi Aileey untuk menjelaskannya dan sekarang Arun ikut kursus dulu, bagaimana? Arun mau?" Arun menggeleng keras, menentang tawaran ibunya. Claris memejamkan matanya dan menarik napas dalam.
"Terus Arun maunya apa?"
"Bermain bersama Aileey," jawab Arunika cepat.
"Ibu sudah bilang Arun tidak bisa bermain! Kursus lebih penting dari itu semua! Kenapa Arun sulit sekali untuk mengerti?" Bagaikan gunung meletus, Claris tak lagi mampu menahan ledakannya sehingga ia berteriak tepat di depan wajah Arunika. Si kecil membeku dengan mata melebar dan tak lama bulir-bulir kecil mengalir di pipi tembamnya.
Semua orang di sana terdiam. Matteo tak tahu harus menatap ke mana dan para pelayan mengembuskan napas pelan, merasa kasihan dengan nona muda mereka. Claris kembali mengembuskan napas, "lagi-lagi kau menangis, kenapa kau tidak seperti kedua kakakmu?" gumamnya sambil mengusap pelan wajahnya. Ia pun berdiri dan membalikkan badan untuk menatap Matteo.
"Sepertinya Arun sedang tidak enak badan hari ini, jadi saya akan hubungi kembali untuk mengatur jadwal ulang, apakah Anda bersedia?" Claris berusaha untuk memberikan senyuman seramah mungkin meski hatinya dipenuhi oleh amarah. Matteo hanya bisa mengangguk paham dan dengan cepat pergi dari rumah itu, ia tak nyaman berlama-lama di sana.
Sehabis kepergian guru itu, Claris kembali menatap anaknya dengan pandangan dingin serta menusuk. Di sisi lain Arunika berusaha menghentikan tangisannya karena ia tahu sang ibu tak suka mendengar isakan keluar dari mulutnya, yang ada hanya akan membuatnya makin dimarahi. Namun rasanya sulit sekali dan malah membuat isakannya makin keras. Dan jika sudah begini, Arunika sangat tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Arun, masuk ke kamar sekarang! Jangan keluar sampai ayah dan ibu izinkan!" bentak Claris sambil menunjuk ke arah tangga yang mengarah ke lantai dua rumah. Tak ingin membuat ibunya makin marah, Arunika hanya bisa berjalan menuju kamarnya dengan air mata yang terus keluar. Sesampainya di kamar, Arunika membenamkan wajahnya ke bantal dan tangisannya mengeras. Ia benar-benar mencurahkan seluruh kesedihannya pada bantal putih itu.
Di dalam kepala kecilnya terus berputar teriakan ibunya tadi dan hatinya terus berkata bahwa ibunya tak pernah sayang padanya. Sejak lahir ia tak pernah merasakan yang namanya kasih sayang seorang ibu. Baginya, Claris hanyalah seorang wanita dengan label 'Ibu' di kepalanya dan tak pernah menjalankan perannya sebagai ibu untuknya maupun untuk kedua kakaknya. Ibunya tak pernah membacakan dongeng dan menciumnya penuh sayang sebelum tidur, ibunya tak pernah bertanya bagaimana harinya sepulang sekolah, ibunya tidak pernah menyadari apa yang Arunika butuhkan, bahkan makanan favorit Arunika pun pasti tak ia ketahui. Semua yang ia pedulikan hanyalah materi dan bagaimana pandangan orang terhadapnya.
Arunika kecil pun tertidur karena lelah menangis sampai tak sadar pintu kamarnya terbuka dan menampakkan dua lelaki remaja dengan wajah yang sangat mirip Arunika, yang membedakan hanyalah satu diantaranya memiliki rambut seleher. Remaja yang lebih tinggi menoleh ke kanan dan kiri—memastikan tidak ada orang di sekitar—sedangkan satunya langsung berlari pelan mendekati Arunika.
"Jangan membangunkannya, Demi." Peringat si tinggi sambil menutup pintu perlahan dan berjalan menghampiri kedua adiknya, Demian dan Arunika.
"Tidak akan, kita sudah sering melakukan ini, kak," balas Demian sambil memegang pelan tangan Arunika.
"Kak Dev, tolong pegang kakinya." Devian, anak sulung keluarga Bumantara, mengangguk mendengar permintaan itu dan melakukannya.
"Dalam hitungan ketiga, kita putar tubuhnya," perintah Demian dengan berbisik. Karena posisi Arunika masih tengkurap dengan kepala terbenam di bantal, kedua kakak itu berinisiatif memutar tubuhnya agar posisi Arunika berubah menjadi telentang. Tanpa Arunika ketahui, hal ini sudah seperti kebiasaan bagi Devian dan Demian ketika dirinya tertidur sehabis menangis.
"Satu, dua, tiga!" Devian dan Demian langsung menarik lembut tangan kanan serta kaki kanan Arunika sehingga posisinya berubah menjadi telentang. Bisa mereka lihat wajah polos dengan mata merahnya, Arunika tertidur sambil memeluk boneka favoritnya. Mereka mengembuskan napas lega dan Devian secara perlahan menyelimuti adiknya. Sehabis itu mereka mendaratkan bokong di sofa kecil yang terletak tepat di depan ranjang Arunika, duduk menghadap Arunika yang bergerak menyamankan posisi tidurnya.
Kedua lelaki itu terdiam, seakan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Kak, apakah kita benar-benar tidak ada cara untuk bisa melindunginya?" Akhirnya Demian mengutarakan apa yang ada di kepalanya. Ia menundukkan kepalanya dan mengusap matanya yang berkaca-kaca.
"Berarti kita harus menjadi dewasa baru bisa melindungi Arun?" tanya Demian memastikan dan dijawab anggukan oleh Devian.
Demian berdecak kesal, "tapi itu semua masih lama, kak, kau saja baru berumur empat belas dan aku dua belas. Kau butuh empat tahun dan aku enam tahun, terlalu lama, kak," keluhnya tak terima.
Devian menoleh untuk menatap adiknya dan tersenyum tipis, "tapi itu berarti kita masih memiliki banyak waktu untuk menyiapkan segalanya dan ketika waktunya sudah tepat, kita bisa langsung menarik Arunika ke dalam lindungan kita, benar tidak?" Demian terdiam mendengar itu, lalu mengangguk lemah. Devian menepuk pelan punggung sang adik.
"Ayo, kita berusaha sekuat mungkin agar bisa menjadi tempatnya berlindung." Demian mengangguk kuat sambil mengusap pelan matanya, Devian terkekeh melihat itu. Kemudian mereka turun dari sofa dan berjalan mendekati Arunika, satu per satu mengecup pelan pipi sang adik dan berbisik di telinga Arunika.
"Arun tahu kalau Kak Vian selalu sayang sama Arun, 'kan?"
"Arun tidak sendirian, masih ada Kak Demi, oke?"
Sehabis mengucapkannya, mereka segera meninggalkan kamar Arunika, tak ingin pelayan atau lebih parahnya sang ibu melihat karena bagi Claris, Arunika berada dalam masa hukuman dan tidak boleh ditemui oleh kedua saudaranya. Hal tersebut juga dilakukan sebagai contoh pada Devian dan Demian jika mereka berani bertingkah seperti Arunika, dan tentu kedua lelaki tersebut tak lagi terpengaruh.
Tanpa sadar Arunika tertidur sampai malam, dan mungkin bisa berlanjut sampai keesokan harinya jika pintu kamarnya tak dibuka secara keras dan kasar oleh seseorang. Arunika mengerjapkan matanya, tentu suara pintu itu mengganggu tidurnya. Namun, hanya butuh satu detik bagi wajah itu berubah ekspresi, dari yang awalnya bingung menjadi penuh ketakutan. Arunika memundurkan tubuhnya sampai menempel pada kepala ranjang dengan tangan yang menggenggam erat selimutnya.
"Ayah," panggil Arunika dengan suara bergetar. Ya, sang kepala keluargalah yang masuk ke dalam kamar Arunika dengan wajah penuh amarah. Arunika menduga sang ibu telah menceritakan apa yang terjadi siang tadi dan sekarang ia harus siap menerima kemarahan sang ayah.
"ARUNIKA BUMANTARA!" Arunika terlonjak kaget, suara berat serta dalam itu benar-benar membuatnya ketakutan. Tanpa sadar air matanya kembali mengalir dan isakan keluar tanpa Arunika izinkan.
"Kenapa kau menjadi senakal ini, hah?" teriak Aaron sambil menarik kasar tangan Arunika untuk turun dari ranjang dan menyeretnya keluar kamar seakan Arunika hanyalah barang. Arunika berusaha sebisa mungkin untuk menyeimbangi langkah ayahnya, yang tentu saja tidak bisa karena satu langkah ayahnya sama dengan tiga langkah kaki kecilnya.
"Sakit, ayah!" Arunika berusaha melepaskan genggaman ayahnya yang makin mengeras, membuat pergelangan tangannya berdenyut nyeri. Namun Aaron tak acuh dan terus menarik tangan anaknya menuju ruang kerjanya.
Peristiwa mengerikan itu tentu disaksikan oleh banyak orang, tak terkecuali Devian dan Demian yang bersembunyi di balik pintu kamar si sulung. Devian secara perlahan menutup kedua mata adiknya yang telah mengurai deras itu. Demian memegang tangan kakaknya dengan tangan bergetar, atau mungkin lebih tepatnya dengan tubuh bergetar. Tanpa Demian ketahui, sepasang netra coklat terang Devian tak beda jauh dengannya.
Tubuh kecil Arunika didorong masuk ke dalam ruang kerja Aaron. Arunika meringis dengan mata yang masih menangis, seluruh tubuhnya terasa sakit sekarang karena tenaga yang ayahnya keluarkan tak main-main. Namun Arunika berusaha untuk menegakkan kembali badannya dan ketika pandangan mengedar ke seluruh ruangan, sang ibu ternyata ada di samping meja kerja dengan wajah dinginnya. Tangis Arunika makin deras, ia benar-benar tak paham mengapa ibunya bisa sedingin itu. Padahal setiap hari Arunika berdoa, setidaknya sang ibu bisa sadar dan berkeinginan untuk melindunginya dari sang suami yang kejam.
Ketika Arunika masih menatap ibunya, Aaron melepas sabuk pinggangnya dan beberapa kali melingkarkannya di tangan. Dengan keras ia mengayunkan benda tersebut pada kedua kaki Arunika. Sontak Arunika berteriak keras dan membungkukkan badannya dengan kepala yang sampai menyentuh lantai, kakinya ditekuk dan dipegangnya. Sekarang posisi tubuh Arunika benar-benar terlihat seperti sedang bersujud di depan ayahnya.
"Berikan kakimu, Arunika Bumantara," ucap Aaron dengan nada dingin serta tatapan tajam. Arunika menggeleng pelan.
"Jangan ... Arunika janji tidak akan membantah lagi, janji tidak akan mengulanginya lagi ... Arunika mohon, jangan pukul Arunika lagi," mohon Arunika dengan suara lemahnya. Amarah Aaron makin memuncak, ia kembali memukul punggung Arunika dengan sabuknya.
"Semua yang kami berikan itu untuk kebaikanmu! Kenapa kau sulit untuk memahaminya? Apakah kau tak sepintar kedua kakakmu? Begitu? Bodoh!" Selama mengucapkan kalimat-kalimat itu, tangan Aaron terus menyabet sabuknya ke segala sisi tubuh kecil Arunika. Ia benar-benar mengerahkan seluruh amarahnya pada setiap ayunan itu, sedangkan Arunika hanya bisa menerima pukulan-pukulan itu dengan terus menggumamkan satu kata.
"Berhenti ... Berhenti ... Berhenti ... BERHENTI!"
Seakan nyawa kembali memasuki tubuhnya, Arunika terperanjat sampai kembali terduduk di atas ranjang lebarnya. Napasnya tak beraturan dengan mata basah karena air mata, begitu juga dengan badannya yang dipenuhi oleh keringat. Tubuhnya bergetar dengan jantung berpacu cepat. Perasaan takut yang sangat besar menguasai dirinya, ditambah kepalanya yang berdengung sakit. Arunika menarik kedua kakinya dan memeluknya, menenggelamkan kepalanya di sela antara kaki dan tubuhnya. Perempuan itu terdiam dalam posisi tersebut selama beberapa menit, berharap panic attack-nya ini mereda dengan cepat. Namun nyatanya tidak, serangan tersebut tak kunjung berhenti.
Arunika mendongakkan kepalanya dan tangannya meraba nakas kecil di sampingnya, lalu beralih pada laci di sana dan membukanya dengan sedikit kasar. Beberapa kali gerakannya terhenti karena pusing yang melanda kepalanya. Tangannya kembali meraba isi laci itu dan mengambil suatu benda berbentuk tabung transparan, lalu membawa benda itu ke depan matanya. Netra terang Arunika menatap tabung berisikan obat pereda cemasnya, kemudian mengembalikan tabung itu ke laci, ia memutuskan untuk menenangkan dirinya tanpa bantuan obat tersebut.
Arunika mengubah posisinya dengan melepaskan pelukan di kakinya dan menempelkan punggungnya ke kepala ranjang, lalu meluruskan kakinya. Ia juga mengambil bantal dan memeluknya. Mata ia pejamkan dan mulai mengatur pernapasannya dengan menghirup serta mengembuskan napas secara perlahan. Arunika melakukannya beberapa kali sampai napasnya terasa lebih stabil. Kemudian Arunika juga memfokuskan pikirannya dengan menghitung angka dari satu sampai seratus, hal tersebut dilakukan agar dirinya tak mengingat mimpi buruk itu, atau mungkin lebih tepatnya dikatakan sebagai kenangan yang berusaha Arunika kubur dalam-dalam.
Setelah merasa kondisi dirinya telah tenang, Arunika perlahan membuka kedua matanya dan menatap ke arah balkon kamarnya yang sengaja hanya ditutup setengah dengan tirai. Dengan jelas Arunika melihat langit masih gelap sehingga ia mengambil handphone-nya dan membukanya.
"Jam tiga." Arunika mengembuskan napas pelan.
...⁕⁕⁕ ...