
Sesi pengenalan Rebecca dan Erlano berjalan dengan cukup baik. Gavin tak banyak bicara selama hal tersebut terjadi dan memilih menjadi penonton saja. Lelaki itu bisa melihat pandangan sang ayah yang selalu berbinar setiap menceritakan sedikit hal tentang Rebecca dan Erlano, membuat Gavin mau tidak mau mengingat kembali kenangan-kenangan lama kedua orang tuanya. Tak bisa Gavin mungkir, tatapan itu pernah ada saat sang ayah berbicara mengenai ibunya ketika dirinya masih kecil, dan ia merasa bersyukur akan itu.
Setelah menghabiskan sekitar satu setengah jam di sana, keluarga kecil itu berpindah tempat untuk mengisi perut mereka yang mulai berbunyi. Pilihan mereka jatuh pada sebuah restoran mewah yang menyajikan berbagai hidangan Asia, Italia, hingga Prancis. Karena perjalanan menuju tempat tersebut memakan waktu satu jam enam menit, Gavin akhirnya memilih untuk memejamkan mata dan masuk dalam dunia mimpinya.
Ketika sedan hitam keluaran terbaru dari mereka ternama dunia itu berhenti, sang sopir secara perlahan membangunkan Gavin dengan suara sopannya. Untungnya sepasang telinga Gavin dapat dengan cepat menangkap suara-suara itu sehingga sang sopir tak perlu beranjak dari setirnya agar bisa membangunkan Gavin. Remaja itu mengerjapkan matanya beberapa kali dan mulai mengumpulkan nyawanya. Entah kenapa ia merasa memimpikan suatu hal selama tertidur tadi, tapi ia tak bisa mengingatnya. Hati Gavin merasa mimpi tersebut cukuplah penting karena bagian dirinya itu berdegup kencang. Namun akhirnya Gavin memilih untuk tak lagi memikirkannya dan bersiap untuk turun dari mobil.
Saat pintunya mobilnya terbuka, Gavin dengan segera menggerakkan tubuhnya untuk sepenuhnya keluar dari kendaraan beroda empat itu. Sepoi-sepoi angin dengan lembut membelai wajahnya dan menyapu rambutnya, membuat ia harus menyibak surainya ke atas agar tak mengganggu pemandangan. Tanpa lelaki itu sadari, dirinya telah menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya, entah mereka yang ingin mengisi perut di restoran yang sama atau mereka yang sekadar lewat saja. Bisa dibilang kemunculannya menimbulkan bisik-bisik penuh kekaguman dari orang-orang itu.
Tanpa menunggu lagi, Gavin langsung melangkahkan kakinya menyusul keluarganya yang telah berjalan memasuki restoran terlebih dahulu. Restorannya cukup ramai karena sekarang merupakan jam makan siang, apalagi restoran ini dikenal memiliki masakan yang sangat lezat dan beragam. Interiornya pun sangat menawan dengan mengusung konsep ala-ala negara Eropa Barat.
Keluarga tersebut terus berjalan mengikuti pelayan yang menjadi pemandu jalan menuju private room yang telah dipesan saat perjalanan. Beberapa saat kemudian pelayan wanita itu berhenti di depan sebuah pintu dan membukanya, lalu mempersilakan tamunya masuk.
Di meja bundar yang bisa menampung hingga enam orang itu, para Kanagara duduk dengan urutan Harris, Gavin, Rebecca, dan Erlano sehingga pasangan suami-istri itu posisinya berhadapan; begitu juga dengan dua pria bersaudara. Kemudian pelayan yang mengantarkan mereka meletakkan tiga buku menu di atas meja.
"Anda akan melakukan pemesanan sekarang?" tanya pelayan itu dengan suara sopan.
"Kami akan melihat-lihat terlebih dulu," jawab Rebecca dengan senyuman tipis di bibirnya. Pelayan itu pun mengangguk paham, kemudian secara perlahan pergi meninggalkan ruangan setelah memberitahukan cara memanggil pelayan ketika ingin memesan.
Setelah berdiskusi kecil, akhirnya keempat orang itu telah sepakat makanan apa saja yang akan dipesan. Rebecca pun menekan tombol kecil yang terpasang di atas meja, tak jauh dari tempat duduknya. Bunyi bel sebanyak dua kali terdengar, menandakan terdapat sebuah panggilan dari ruang private room. Tak lama seorang pelayan—bukan yang mengantar mereka tadi—datang dengan sebuah tablet di tangannya. Tahu 'kan di zaman ini semuanya serba digital? Begitu juga dengan restoran ini.
"Untuk appetizer, kami pesan Canapés de la Casa. Kemudian untuk main course-nya ...." Rebecca mengatakan satu per satu menu yang diinginkan, sedangkan si pelayan sibuk mencatat pesanan-pesanan tersebut melalui benda persegi panjang di tangannya. Sehabis itu, pelayan mengulang kembali apa yang telah dipesan agar tidak ada kesalahan saat penyajian dan sesuai dengan keinginan pelanggannya. Dirasa tak ada yang salah, pelayan itu pun mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Keheningan menyerang ruangan berisi empat orang itu. Rebecca sibuk menanggapi ocehan tanpa henti Erlano, sedangkan pandangan Harris tak lepas dari ponselnya karena ada pekerjaan kecil yang harus dilakukan. Gavin yang terjepit di antara dua orang dewasa sibuk itu hanya diam sambil memainkan gawai pintarnya. Jarinya sibuk naik-turun tanpa tujuan pasti. Buka satu aplikasi, namun tak sampai tiga menit ditutupnya. Lalu membuka aplikasi lain dan melakukan hal sama. Akhir-akhir ini tak ada yang menarik di benda sejuta fungsi itu. Benar-benar waktu menunggu yang membosankan.
Tanpa Gavin sadari, Harris telah menutup gadgetnya dan menatap dalam sang anak sulung. Rebecca menyadari gerak-gerik yang tak biasa dari suaminya sehingga fokusnya teralihkan. Entah kenapa firasatnya mengatakan akan terjadi hal tidak mengenakkan setelah ini.
"Ayah rasa kau harus mulai mengurangi kunjunganmu ke makam ibumu," lanjut Harris yang membuat semua orang terdiam, kecuali Erlano yang diam karena tidak paham.
Alis Gavin menukik tajam dengan dahi yang berkerut dalam. "Apa maksud ayah?" tanya Gavin meminta penjelasan lebih dari Harris.
"Ini sudah saatnya bagimu untuk move on dari kepergian ibumu. Anahita sudah meninggal sepuluh tahun lalu, Gavin, biarkan ia beristirahat dengan tenang." Gavin terdiam mendengar itu. Kepalanya masih berusaha memproses penjelasan sang ayah dan berusaha mengambil nilai positif dari kalimat tersebut. Namun mengapa rasanya tidak ada, ya?
Hari ini Gavin sudah sedikit goyah setelah mendengar sapaan singkat yang sang ayah katakan pada ibunya tadi, meski ia sekarang telah hidup bersama Rebecca. Tapi setelah mendengar Harris berkata seperti itu, Gavin rasanya ingin meng-undo seluruh iba yang ia punya tadi dan akan terus memperjuangkan hak ibunya di dalam keluarganya.
Dengan amarah yang berkobar kuat dalam dirinya, Gavin berdiri dari duduknya secara kasar. Kursinya terdorong hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras, mengejutkan seluruh orang di sana. Kedua tangannya ia letakkan di atas meja dan menggunakannya sebagai tumpuan untuk tubuhnya yang sedikit membungkuk.
Sepasang netra indah Gavin terpejam dengan napas memburu, tak stabil sama sekali. Kesepuluh jarinya mengepal erat hingga taplak meja di hadapannya ikut dalam genggamannya. "Bagaimana bisa aku menerima ketika kematian ibuku disebabkan oleh para tetua itu? Ayah lupa? Ibu bunuh diri karena tidak kuat menahan tekanan dari keluarga ayah!" Suara Gavin semakin kencang di setiap tarikan napasnya. Perkataan sang ayah benar-benar membuatnya marah sekaligus sedih. Sebuah kekecewaan yang cukup besar terukir dalam hatinya.
Harris terdiam mendengar kalimat penuh emosi sang anak, sedangkan Gavin siap untuk membuka mulutnya kembali sebelum pandangannya tak sengaja melihat Rebecca yang telah menutupi kedua telinga Erlano. Barulah Gavin sadar, ia tak bisa bertingkah seperti ini di depan adiknya. Demi menenangkan dirinya, akhirnya Gavin memilih untuk melangkah pergi dari ruang makan itu dengan wajah masam. Setelah pintu tertutup dengan sedikit kasar, Rebecca menatap tajam sang suami sambil menjauhkan tangannya dari telinga Erlano.
"Apakah kau tidak pernah belajar cara bertutur kata dengan sopan dan santun? Bagaimana bisa kau mengatakan hal sensitif dengan gaya bicara seakan kau sedang mengobrol tentang lagu barumu?" Memang ini adalah momen langka melihat Rebecca berpihak pada Gavin. Namun itulah dia, meski ia tidak akrab dengan Gavin, bukan berarti ia akan diam melihat seorang ayah berbicara dengan begitu dinginnya mengenai topik yang sangat sensitif bagi anaknya.
"Aku hanya ingin Gavin melepaskan kepergiannya, sweetheart. Bukankah kau sudah melihatnya sendiri? Gavin selalu sedih setiap mengingat Anahita, padahal aku yakin Anahita tidak menginginkan hal itu." Harris berusaha menjelaskan maksud perkataannya dengan nada selembut mungkin. Ia mulai menyadari, susunan katanya tadi sangatlah mengerikan.
"Tapi bukan begitu caranya, Harris Kanagara. Anahita meninggal di saat Gavin masih berumur enam tahun, di saat Gavin bahkan belum memahami apa itu bunuh diri. Yang Gavin tahu saat itu adalah ibunya meninggal secara tiba-tiba dan tak meninggalkan sedikit pun pesan padanya. Seharusnya kau memahami bagaimana perasaan Gavin, tapi kenapa kau selalu berlagak seakan Anahita tak pernah menjadi orang terpenting dalam hidupmu?" Kalimat demi kalimat Rebecca lontarkan dengan tegas dan jelas. Ia ingin Harris menangkap setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia mulai muak dengan sikap Harris yang semakin lama semakin terlihat bahwa dirinya tak pernah peduli dengan perasaan anaknya.
Di sisi lain, pertanyaan dari sang istri menohok dirinya dengan tepat sasaran sehingga Harris hanya bisa terdiam dan tak memberikan jawaban.
...⁕⁕⁕...