RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 43: BERTENGKAR



"Baiklah, ini merupakan pertemuan terakhir kita di mata pelajaran Kimia sebelum kalian akan menjalani Ujian Tengah Semester tiga hari lagi. Materi-materi yang akan keluar sudah kita bahas pada pertemuan selama seminggu ini, jadi kalau kalian mendengarkan dan menyimak, pasti kalian bisa menjawabnya," ucap guru wanita dengan wajah seriusnya. Semua murid di kelas sebelas IPA dua pun mendengarkannya dengan saksama.


"Belajarlah dengan sungguh-sungguh dan jangan menyontek, saya lebih senang kalian mendapat nilai jelek tapi jujur daripada nilai bagus tapi curang," lanjut wanita yang telah berkepala empat itu. Perkataannya kembali dijawab dengan anggukan kepala dari para muridnya.


Guru dengan julukan 'tampang preman tapi hati hello kitty' itu tersenyum tipis dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja sambil beranjak dari duduknya. "Saya mendoakan kalian agar bisa lulus di semua mata pelajaran," ucapnya dengan lembut, membuat murid-murid di kelas itu ikut tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya.


Kemudian wanita tersebut mengangkat tangan kirinya untuk menatap jam tangan yang telah menjadi teman pengingat waktunya selama ini. Sesaat kemudian bel tanda berakhirnya sekolah berbunyi, membuat guru itu mengangkat beberapa buku yang dibawanya untuk mengajar. "Baiklah, kalian bisa pulang sekarang." Setelah mengucapkannya dengan penuh senyuman, ia pergi meninggalkan ruangan; sedangkan para murid mulai membereskan barang bawaannya.


"Her, aku pulang dulu, ya, sopir sudah menunggu di depan." Hera yang masih memasukkan buku-bukunya ke tas menoleh ke belakang dan melihat Arunika yang telah menghilang di balik pintu. Ia melongo. Ini menjadi hari kelimanya melihat Arunika pulang secepat itu, bahkan sampai meninggalkannya. Padahal biasanya Arunika akan menunggu dan mereka akan keluar bersama. Apakah ada hal penting yang tak ia ketahui?


Di sisi lain, tanpa teman-temannya sadari, Arunika telah belajar seperti orang gila sejak tuntasnya acara hari kasih sayang. Ia benar-benar tak ingin ancaman orang tuanya menjadi kenyataan sehingga belajar dengan seriuslah solusinya. Saking seriusnya, Arunika selalu langsung pulang setelah sekolah dan mengurung dirinya di kamar, lalu keluar hanya untuk makan malam. Intensitasnya memegang ponsel pintar juga berkurang sehingga ia menjadi sulit untuk dihubungi, sebagian besar pesan dari keempat temannya akan dibalas di pagi hari.


Hera pun tak bodoh untuk tak menyadari sikap Arunika yang sangat aneh belakangan ini. Ia yakin ini semua disebabkan oleh ujian tengah semester yang sebentar lagi akan datang dan ia juga tahu bagaimana tekanan keluarga Bumantara terhadap pendidikan temannya, namun entah kenapa, ia merasa situasi ini lebih serius dari biasanya, seakan ada target yang harus dikejar.


Tak beda jauh dengan Hera, Gavin juga merasakan hal yang sama. Arunika yang ia kenal sangatlah cepat dalam membalas pesan, namun tiba-tiba selama seminggu ini gadis itu menjadi sulit sekali untuk diketahui kondisinya. Tak pelak rasa kekhawatiran muncul dalam diri Gavin kala menyadari Arunika mulai mengabaikan kesehatannya, seperti sekarang ini. Jam istirahat telah berjalan sekitar dua puluh menit, namun Arunika seakan tak akan menunjukkan batang hidungnya pada keempat temannya.


"Iya, kalian pergilah dulu, aku akan menyusul nanti," kata Arunika saat Gavin, Hera, Maverick, dan Floyd mengajaknya makan ke kantin. Jawaban itulah yang selalu perempuan tersebut katakan ketika diajak dan jika ada jawaban lain, maka jawabannya akan, "aku akan istirahat di kelas karena membawa bekal." Tak hanya itu saja, selain memilih untuk istirahat di kelas sambil belajar, kadang Arunika juga memilih untuk tidak makan—dengan alasan masih kenyang akibat sarapan kebanyakan—dan menghabiskan waktunya di perpustakaan.


"Apa yang harus kita lakukan pada perempuan bandel dan keras kepala itu?" tanya Hera dengan wajah kusut. Ia benar-benar pusing dengan kegilaan belajar Arunika yang berkali lipat lebih parah dari ujian-ujian sebelumnya.


Tiga lelaki di meja yang sama itu terdiam, ikut bingung dengan masalah ini. Tak lama Hera mengangkat kepalanya yang awalnya tertidur di atas tumpuan kedua tangannya. "Satu-satunya cara yang terlintas di kepalaku adalah memperingatinya dengan sedikit keras, apakah kalian setuju?" ujar Hera dengan serius. Lagi-lagi tiga pria di sana terdiam dan saling melirik satu sama lain.


Gavin baru saja membuka mulutnya untuk menyampaikan pendapatnya, namun sayangnya ia tak lebih cepat dari Hera yang telah beranjak dari duduknya. Tak menunggu respons dari ketiga teman prianya, Hera sudah menghabiskan seluruh stok kesabarannya untuk diam saja melihat tingkah Arunika yang mengabaikan kesehatannya sendiri.


"Aku akan ke sana," singkat Hera sambil melangkah dengan tatapan tajam. Tak perlu penjelasan lebih bagi ketiga pria di sana tentang maksud perkataan tersebut sehingga mereka dengan cepat menyusul Hera yang batang hidungnya masih bisa ditangkap oleh netra. Entah kenapa firasat mereka tidak bagus akan hal ini.


"Her, bukankah lebih baik untuk berbicara secara baik-baik dulu dengannya?" saran Gavin dengan beberapa langkah di belakang Hera.


Maverick mengangguk setuju, meski tidak bisa dilihat oleh Hera. "Jangan membentaknya, ya? Bagaimana pun Arun pasti juga lagi stres saat ini," pintanya dengan nada memohon. Floyd pun membenarkan perkataan temannya.


Saat Hera menginjakkan kakinya di kelasnya—untungnya cukup sepi karena sebagian besar murid berada di luar kelas—ia melihat Arunika benar-benar fokus dengan buku di depannya. Rambutnya yang dicepol asal terlihat cukup berantakan namun cantik di mata Gavin, sedangkan di mata Hera, Arunika benar-benar terlihat seperti tidak pernah merawat dirinya.


Tanpa babibu, Hera langsung berjalan mendekat ke tempat duduk sang sahabat dan menarik buku yang dibaca oleh perempuan itu, membuat Arunika tersentak kaget. Netra coklat terangnya dengan cepat menoleh untuk menatap siapa yang berani berbuat seperti itu, namun setelahnya ia malah terdiam. Ia bisa menangkap emosi yang berusaha ditahan oleh Hera. Hanya saja, Arunika merasa kesal dengan tindakan Hera yang seakan tak mengerti tekanan yang dirasakannya.


"Kembalikan bukuku," ucap Arunika dengan tatapan tajam yang dibalas tajam juga oleh Hera.


"Aku tahu tekanan keluargamu terhadap pendidikanmu, tapi entah kenapa di ujian ini kau belajar lebih gila dari sebelumnya? Apa yang terjadi?" tanya Hera to-the point. Ia masih mengangkat tangan kanannya yang memegang buku fisika Arunika sehingga perempuan itu tak bisa mengambilnya.


"Kuceritakan nanti saat ujian sudah selesai. Sekarang kembalikan bukuku, Hera," balas Arunika sambil berusaha menggapai bukunya, sedangkan tiga pria di sana hanya bisa memandangi karena tak tahu harus bersikap bagaimana. Selain itu, dua perempuan itu sekarang terlihat menakutkan dengan aura kemarahan yang mengelilingi mereka.


Tidak puas dengan jawaban Arunika, Hera tak ingin mengembalikan buku tersebut dan memberikan pandangan meminta penjelasan lebih dari temannya, sedangkan Arunika masih berusaha mengambil bukunya.


"Kenapa kau sulit sekali untuk setidaknya memperhatikan kesehatanmu? Berulang kali hal seperti ini terjadi. Kau selalu belajar dengan sangat keras tapi mengabaikan kebutuhan tubuhmu dan berakhir tumbang. Sesusah itukah untuk setidaknya duduk diam di depan meja dan menghabiskan makanan selama sepuluh menit?" cecar Hera dengan wajah lelah. Namun Arunika seperti tak mendengar pertanyaan-pertanyaan penuh kekhawatiran itu dan merebut kembali buku miliknya.


"Arunika Bumantara!"


"Aku harus mendapatkan nilai 95 ke atas di semua mata pelajaran, kalau tidak aku akan dipaksa keluar dari OSIS oleh keluargaku!" Arunika membanting bukunya ke atas meja dengan cukup keras sambil meledakkan pernyataan yang selama ini membebaninya. Hera, Gavin, Maverick, dan Floyd terdiam.


Arunika mengalihkan pandangannya dari buku ke keempat temannya dan memberikan tatapan sendu sekaligus memohon. "Puas? Apakah jawabanku masih kurang?" tanyanya dan tidak ada yang berani menjawab. Bisa dilihat matanya yang mulai berkaca-kaca, namun Arunika sekuat tenaga menahannya.


Melihat tak adanya tanda-tanda keempat temannya akan merespons, Arunika pun kembali duduk di kursinya dan membuka halaman terakhir yang dipelajarinya.


"Jangan ada satu pun dari kalian yang berani menggangguku selama masa ujian ini."


...⁕⁕⁕...