RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 12: MULAI PEDULI



"Halo, Hera!" Dengan senyuman lima jarinya, Arunika menyapa Hera yang sudah datang terlebih dahulu ke sekolah. Arunika meletakkan tasnya di tempat duduknya, tepat di depan Hera. Perempuan yang dipanggil membalas sapaan itu, lalu kembali fokus pada ponsel pintarnya. Namun kemudian ia menyadari ada yang aneh dari Arunika sehingga ia mengangkat kembali kepalanya dan menepuk pelan pundaknya, membuat Arunika membalikkan badan.


"Kenapa wajahmu terlihat lebih lesu dari biasanya?" Dahi Arunika mengernyit, "lebih lesu bagaimana? Aku malah merasa lebih segar hari ini karena hari Senin harus kita sambut dengan cerah—"


"Agar hari-hari selanjutnya bisa berjalan dengan cerah juga." Arunika tertawa kecil ketika sadar Hera melanjutkan kalimat yang menjadi salah satu motonya dalam menjalani hari-harinya.


"That's right, honey," balas Arunika sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Hera menggeleng tak habis pikir. Orang menyambut hari Senin saja sudah aneh, apalagi bisa berpegang pada moto semacam itu, begitulah pikir Hera. Namun dalam hati Hera menyadari ada yang salah dengan Arunika, terlihat dari tatapan matanya yang tak seceria biasanya.


"Kau yakin?" tanya Hera memastikan. Arunika terdiam, membuat Hera makin yakin dengan perasaannya.


"Ada apa, Run?" desak Hera sambil mematikan ponselnya. Arunika melirik ke berbagai arah beberapa kali, lalu meminta Hera untuk mendekat. Kemudian si ketua OSIS mendekatkan bibirnya ke telinga kanan sang sahabat.


"Sebenarnya aku tadi malam tidur telat karena terlalu seru membaca buku." Hera memejamkan kedua matanya, sedangkan Arunika menjauhkan diri sambil menelengkan kepalanya ke kanan dan kiri.


"Kau bercanda?" Arunika menggeleng keras, "tidaklah! Kau tahu akhir-akhir ini aku membaca buku baru. Memang awalnya aku bilang membosankan, tapi ternyata di pertengahan sampai akhir sangat seru, makanya jadi lupa waktu." Arunika mengakhiri kalimatnya dengan kekehan. Hera lagi-lagi hanya bisa mengembuskan napas pelan, hanya bisa maklum.


"Baguslah kalau begitu, takutnya ada apa-apa." Akhirnya Hera mempercayai perkataan temannya, kemudian kembali memandangi handphone-nya. Begitu juga dengan Arunika yang kembali menghadapkan badannya ke depan dan mengembuskan napas lega diam-diam.


Arunika tentu tidak bisa menceritakan apa yang dialaminya jam tiga pagi tadi, tapi alasannya tentang membaca buku itu benar. Dirinya yang telah terbangun tidak bisa tertidur kembali sehingga memilih untuk melanjutkan bacaannya dan tepat selesai di jam enam pagi, jamnya bangun di hari sekolah. Akhirnya setelah membaca, Arunika langsung bersiap dan pergi ke sekolah dalam kondisi kurang tidur. Arunika hanya tidak menceritakannya secara lengkap.


Tak lama suara bel tanda jam sekolah dimulai berbunyi. Seluruh murid berjalan memasuki kelas dan tempat duduknya. Guru pelajaran jam pertama masuk dan pelajaran pun dimulai.


...⁕⁕⁕...


"So, the Cold War was a period of geopolitical tension between the United States and the Soviet Union and their respective allies, the Western Bloc and the Eastern Bloc. The conflict was based on the ideological ...." Meski suara guru sejarah di depan kelas sangatlah keras, Gavin seakan tak mendengarnya dan lebih sibuk memandang ke arah luar jendela, pada satu orang di lapangan outdoor yang baru saja menyelesaikan tes larinya. Sosok itu mendaratkan bokongnya di pinggir lapangan dengan napas tersengal-sengal, lalu menegak minumnya cepat. Gavin tertawa kecil melihatnya. Ia kembali mengetahui hal baru tentang Arunika.


Ya, Arunika-lah yang ia tatapi sejak tadi. Gavin lupa kalau Arunika itu juga manusia, pasti ada kelemahannya dan ini salah satunya, olahraga. Gavin menutup mulutnya untuk menyembunyikan tawanya ketika perempuan itu diminta untuk tes ulang karena waktunya yang melebihi batas—menurut dugaannya. Bisa ia lihat Arunika yang mencak-mencak marah dengan bibir berkomat-kamit sambil menggerakkan kembali kakinya untuk berlari, sedangkan di pinggir lapangan berdiri Hera yang menyemangati Arunika, meskipun sambil tertawa.


"Mr. Kanagara, please pay your attention to me, not others." Sontak seluruh pandangan mengarah pada Gavin, begitu juga dengan Gavin yang sedikit terlonjak. Dia ketahuan. Ia pun kembali memandangi guru di depan dan meminta maaf padanya. Floyd yang duduk di sebelah Gavin—di baris yang berbeda—memberikan tatapan curiga, sedangkan yang diberikan tatapan hanya berdeham canggung dan kembali fokus pada buku di mejanya. Pelajaran pun kembali berjalan sampai akhirnya jam istirahat datang.


"Kau menatapi siapa tadi?" Interogasi Floyd pada Gavin yang masih membereskan mejanya. Gavin terdiam sebentar lalu menggeleng.


"Bukan siapa-siapa." Floyd makin curiga dan siap untuk memberikan pertanyaan kembali, namun suara Maverick dari depan pintu mengalihkan fokusnya.


"Ayo, cepat! Aku sudah lapar." Floyd mendengus pelan dan berjalan mendekati pria yang tak bisa diam itu, tak lama Gavin mengikuti. Ketiga pria itu pun berjalan menuju kantin yang berada di lantai satu.


"Menu hari ini apa, ya?" tanya Maverick sambil membayangkan makanan lezat yang kemungkinan akan muncul.


"Semoga saja sayurnya brokoli," ucap Floyd dengan nada santai, namun mampu memancing wajah penuh penolakan dari Maverick.


"Tidak, jangan! Tuhan, tolong jangan brokoli. Kenapa kau malah meminta brokoli, sih?" tolak Maverick sambil menyatukan kedua tangannya dan memejamkan mata, berdoa agar yang di atas mengiakan permintaannya. Floyd menaikkan kedua bahunya dan membiarkan Maverick memukulnya dengan bebas, sedangkan Gavin hanya tersenyum pasrah melihat interaksi kedua temannya—sambil berpikir kenapa dirinya bisa menjadi teman dari kedua orang ini.


"Ya sudah, ayo ke sana." Tanpa menunggu balasan, Maverick langsung menarik tangan Floyd dan Gavin.


"Halo, Nona Bumantara dan Nona Courtney, boleh duduk di sini?" Arunika dan Hera menoleh ke samping untuk melihat siapa yang datang, lalu mengangguk setelahnya.


"Kalau begitu aku ambil makanan dulu, ya. Jangan sampai tempatnya diambil," peringat Maverick dan pergi terlebih dahulu, meninggalkan Gavin dan Floyd. Beberapa detik kemudian, Floyd mengejar Maverick, sangat penasaran dengan menu hari ini. Karena jika benaran sayurnya brokoli, Floyd berjanji akan pergi ke gereja minggu ini.


Arunika menatap Gavin yang masih diam di tempatnya, "tidak ambil makanan?" Gavin mengedipkan matanya beberapa kali lalu sadar kalau dirinya telah ditinggal.


"Loh? Mereka sudah pergi?" Sehabis mengatakan itu, Gavin langsung pergi mengejar kedua temannya yang sepertinya sudah bertengkar karena sayur di menu hari ini benar-benar brokoli. Arunika dan Hera yang melihat tingkah lucu itu langsung tertawa terbahak-bahak. Ada apa dengan lelaki itu? Begitu pikir mereka.


Beberapa saat kemudian, trio itu kembali ke meja dengan Maverick berwajahkan cemberut, Floyd berwajahkan ceria, dan Gavin yang lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepala.


"Ada apa?" tanya Hera bingung melihat ekspresi Maverick dan Floyd yang berbeda 180 derajat.


"Karena dia di menu hari ini ada brokoli," tuduh Maverick sambil menunjuk tepat di wajah tanpa rasa dosa Floyd. Lelaki yang ditunjuk itu memegang tangannya dan menurunkannya.


"Kenapa kau menyalahkanku? Kalau mau, salahkan yang memasak, tanyalah kenapa memasak brokoli. Aku pun tidak tahu kalau akan menjadi kenyataan," bela Floyd sambil mengambil duduk di samping Gavin yang sudah duduk sejak tadi di depannya Arunika.


Di saat Maverick dan Floyd sibuk adu mulut, serta Hera yang berusaha melerai, Gavin membuka percakapan dengan perempuan di depannya, "tidak ambil makanan?" Arunika mengerutkan hidungnya sambil menggeleng lemah.


"Tidak nafsu, masih kelelahan karena lari tadi. Kau tahu? Aku diminta untuk tes ulang hanya karena waktuku melebihi batas lima detik dan gurunya tidak mau memberikan keringanan," curhat Arunika dengan wajah kesal. Gavin meringis mendengar itu, tapi dalam hati sedikit senang karena ternyata benar dugaannya tadi.


"Mau air dingin?" tawar Gavin sambil menyodorkan botol minumnya yang dingin pada Arunika. Gavin menawarkan karena melihat botol perempuan itu yang sudah kosong serta wajahnya yang masih merah.


"Kalau begitu kau minumnya bagaimana?"


"Nanti aku beli lagi, kau kelihatannya lebih butuh." Jawaban santai membuat Arunika akhirnya mengambil botol Gavin karena memang dirinya masih kehausan, namun tubuhnya juga masih belum kuat untuk berjalan.


"Thank you." Gavin mengangguk pelan, lalu memperhatikan perempuan itu meminum setengah air dari botol tersebut. Benar-benar menunjukkan seberapa lelahnya ia. Setelah merasa cukup puas karena kebutuhan cairannya terpenuhi, Arunika tiba-tiba teringat sesuatu.


"Oh, ya, aku lupa membawa jasmu hari ini, besok, ya." Gavin kembali mengangguk. Sebenarnya tidak dikembalikan juga tidak apa karena akan jarang dipakai, keluarganya lebih senang membeli yang baru ketika ada suatu acara. Namun ia tak bisa mengatakannya karena tidak ingin mendapatkan pandangan aneh dari semua orang di meja itu.


Tanpa mereka berdua sadari, perkelahian antara tom and jerry—Maverick dan Floyd—telah usai dan sejak tadi memperhatikan perilaku Gavin, serta percakapan keduanya yang mampu memberikan dugaan lain dalam diri ketiga orang di sana. Tak lama Gavin menyadari tatapan penuh maksud itu dan seperti tahu apa yang mereka pikirkan, Gavin langsung menjelaskan alasannya—meski dengan sedikit canggung.


"Aku menawarkannya minuman karena dia masih haus dan tentang jas, kemarin Sabtu aku dan dia ternyata mendatangi acara keluarga Rosverd. Karena dia kedinginan, aku meminjamkan jasku. Wajar 'kan aku begitu? Aku hanya berusaha bersikap baik pada orang lain." Hera, Maverick, dan Floyd hanya mengangguk-angguk mendengar alasan tersebut dengan wajah penuh arti. Sebenarnya dalam hati pun mereka kurang percaya.


Arunika mengerutkan dahinya bingung, "apa maksud kalian?"


...⁕⁕⁕...