RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 37: JANGAN BERHARAP



Jam istirahat kedua yang biasanya digunakan oleh para siswa untuk berkumpul bersama teman di kantin, bermain di lapangan, hingga hanya berdiam diri di kelas; sekarang semuanya berhimpun di hall sekolah untuk menyaksikan acara live music. Waktu istirahat belum berjalan sampai sepuluh menit namun ruangan tersebut telah dipenuhi oleh para murid, mereka sepertinya benar-benar tidak sabar dengan acara ini.


Tepat di menit ke sepuluh sejak waktu istirahat berjalan, Fernando dan Bianca naik ke atas panggung sambil berbicara dengan suara lantang. "Selamat siang semuanya!" ucap mereka bersamaan dengan satu tangan terangkat tinggi. Sapaan mereka pun dibalas teriakan oleh para penonton.


"Selamat datang di acara ..." ucap Brianna sedikit menjeda kalimatnya sambil melirik ke arah Fernando.


"Live Music Valentine's Day WG Senior High School!" Sesuai dengan latihan mereka, keduanya sepakat untuk mengucapkan kalimat ini secara bersamaan, untungnya dapat tereksekusi dengan baik. Tepuk tangan Fernando dan Brianna dapatkan sebagai balasannya.


"Brianna, sepertinya kita tidak perlu berlama-lama di sini karena semuanya sudah sangat excited dengan penampilan-penampilan yang akan diberikan pada hari ini," ucap Fernando sambil menatap Brianna yang berdiri di sebelahnya.


Brianna mengangguk pelan mendengar itu lalu menjawab, "benar banget, apalagi si tik-tok-tik-tok ini juga terus mengejar kita. Jadi, tanpa perlu berbasa-basi lagi, mari kita sambut performer pertama kita ..."


"TNW Band!" Fernando dan Brianna kembali mengucapkannya berbarengan. TNW Band adalah nama band sekolah mereka dan kepanjangan dari There's No Tomorrow. Band ini dibuat sejak lima tahun yang lalu dan terus bertahan hingga sekarang karena diwariskan pada adik-adik kelas. Sempat mengalami krisis kekurangan anggota, namun akhirnya bisa survive dan kembali melanjutkan kegiatan seperti biasa.


Ketika kedua MC memanggil band tersebut, Arunika yang bekerja sebagai pengatur dari balik layar menyuruh anggota-anggota band itu untuk segera naik ke atas panggung. Gadis itu juga mengapresiasi kedua temannya yang telah menjadi MC selama beberapa menit tadi.


"Good job, good job," puji Arunika sambil memberikan telapak tangannya pada dua orang itu, mengundang mereka untuk tos. Fernando dan Brianna memahami gestur tersebut sehingga mereka men-tos tangan masing-masing tangan Arunika, Fernando di tangan kanan dan Brianna di tangan kiri. Setelah itu Arunika memanggil Whitney, performers selanjutnya, dan memintanya untuk bersiap.


Di sisi lain, band tersebut mulai memainkan alat musik yang menjadi spesialisasi mereka dan sang vokalis pun memberikan suara merdunya. Kelihatannya seluruh penonton menikmati pertunjukkan singkat itu karena mereka yang ikut bernyanyi bersama dengan tubuh yang bergoyang santai ke kanan dan kiri. Sayang sekali, tiga menit harus berjalan dengan cepat dan TNW Band telah menyelesaikan tugas mereka. Sekarang giliran Whitney yang akan maju untuk menghibur para penonton.


Kemunculan gadis berumur lima belas tahun itu menimbulkan sorakan keras dari penonton, senang sekaligus bersemangat untuk kembali mendengar suara indah Whitney. Sementara itu, anggota-anggota band telah kembali ke backstage dan Arunika menyambut mereka dengan antusias sama seperti ia menyambut kedua MC tadi. Ia juga melakukan hal yang sama, mengajak satu per satu anggota untuk tos.


"Sayang sekali, tapi bukan itu lagu kesukaanku. Try it again next time," ucap Arunika dengan nada menyesal saat giliran sang vokalis band tos tangan dengannya. Ya, saat check sound kemarin, Arunika tidak memberitahukan lagu kesukaannya pada vokalis itu dan malah memintanya untuk menebak. Tantangan tersebut diterima dan inilah hasil dari dugaannya, salah. Vokalis band tersebut tertawa dan mengiakan perkataan Arunika, lalu berjalan pergi.


Sehabis kepergiannya, Arunika mengalihkan pandangannya pada Gavin yang telah berdiri di sampingnya. "Sudah siap?" tanya gadis itu dengan nada lembut. Lelaki tinggi itu menjawabnya dengan anggukan santai, menunjukkan seberapa terbiasanya ia dengan situasi semacam ini.


"Profesional memang beda, ya," balas Arunika sambil terkekeh, sedangkan Gavin hanya tersenyum mendengar itu.


Jika sebelumnya Gavin sedikit kebakaran jenggot akibat interaksi antara Arunika dengan vokalis TNW band yang jelas-jelas menyukai Arunika, ia sekarang berusaha untuk lebih rileks dan mengabaikan perasaan-perasaan yang menurutnya berlebihan ini. Setelah pembicaraannya dengan Archie tadi pagi, ia pun juga tersadar kalau Arunika tidak semudah itu untuk menyukai seseorang, jadi ia harus lebih tenang. Rasa takut akan perempuannya direbut orang lain harus ia kurangi.


"Baiklah, siap-siap, satu menit lagi kau akan tampil," peringat Arunika sambil melihat ke arah panggung, pada Whitney yang telah sampai pada bagian ******* lagunya. Gavin mengangguk paham.


Kemudian Arunika kembali menatap Gavin dan bertanya, "kalau boleh tahu, kepada siapa lagu ini kau mainkan?" Pertanyaan itu sungguh tak terduga bagi Gavin sehingga ia terdiam dibuatnya. Namun kedua netra biru kehijauannya terus menatap dalam Arunika.


Gavin pun tersenyum dan menaikkan kedua bahunya tak acuh, "silakan ditebak." Arunika sudah membuka mulutnya untuk protes, namun telinganya menangkap ucapan terima kasih yang Whitney lontarkan sehingga ia sadar, ini bukan waktunya bercanda dengan lelaki di depannya.


Hanya saja masih terasa sedikit rasa kesal dalam hati Arunika sehingga dengan senyuman yang dibuat-buat—tentu saja bercanda—ia berikan pada Gavin. "Silakan naik, Tuan Gavin Kanagara," ucapnya yang membuat Gavin terkekeh. Namun sebelum pria itu benar-benar naik ke atas panggung, ia mengucapkan satu kalimat penuh keambiguan pada Arunika.


"Kata ayahku, seluruh perasaanku akan tercetak jelas di ekspresi wajahku saat bermain piano. Jadi, mungkin dari situ kau bisa menyadari kepada siapa aku memainkan lagu ini." Setelah mengucapkan itu, Gavin kembali menggerakkan kakinya untuk menaiki tangga kecil yang menjadi penghubung antara backstage dengan panggung. Di sisi lain, Arunika terdiam mendengarnya.


Saat Gavin baru terlihat sedikit saja tubuhnya, teriakan penuh semangat langsung memenuhi ruangan luas itu. Para murid sudah tahu Gavin akan memberikan penampilannya di sana dan panggung inilah yang paling mereka tunggu. Kapan lagi mereka bisa menyaksikan pertunjukkan piano dari pemain kelas dunia secara gratis?


Dengan senyuman tipis terukir di bibirnya, Gavin mengambil duduknya di depan piano dan bergerak kecil untuk menyamankan posisinya, lalu ia meletakkan kesepuluh jarinya di atas tuts-tuts putih itu. Matanya ia pejamkan sambil menarik napas dalam, sedangkan keheningan terjadi selama Gavin mempersiapkan dirinya seakan siap untuk terhanyut dalam melodi lembut nan menenangkan itu


Tak lama setelahnya, Gavin mulai menggerakkan jari telunjuk kanannya dan diikuti oleh gerakan jari-jarinya yang lain. Awalnya banyak yang mengira Gavin akan memainkan lagu bernuansa mellow, namun nyatanya tidak, lagu ini malah terasa sangat ceria dan ringan dengan kesan jatuh cinta yang kuat. Beberapa anggota OSIS yang berdiri di pinggir lapangan mengajak para penonton untuk menyalakan flashlight smartphone dan mengayunkannya bersamaan dengan tempo permainan Gavin. Untungnya sinyal itu ditangkap sehingga sekarang ruangan itu dipenuhi oleh cahaya kecil dari flashlight.


Sama seperti sebelumnya, Gavin bermain sambil membayangkan gadis yang entah sejak kapan mengisi hati hampanya. Ketika matanya terpejam, kenangan akan kebersamaannya dengan Arunika terputar kembali sehingga melukiskan senyuman lebar di wajah tampannya. Ketika netra biru kehijauannya terbuka, maka ia akan langsung menatap Arunika yang berdiri di tangga kecil yang menjadi jalan penghubung antara panggung dengan belakang panggung. Bisa Gavin lihat perempuan itu menyandarkan punggungnya di tembok dan tersenyum lembut. Sadar saling bertatapan, keduanya makin melebarkan senyumannya.


Arunika tanpa sadar terhanyut dalam permainan Gavin. Ia sungguh-sungguh merasa nyaman dengan perasaan asing yang menjalar hatinya saat Gavin bermain. Apalagi setelah sadar kalau mereka berkontak mata beberapa kali, Arunika malah merasa rileks dan tenang. Apakah melodi piano memang bisa membuat orang setenang ini?


Inilah tiga menit yang sepertinya hampir semua orang di ruangan itu ingin untuk diulang kembali, sayangnya tidak bisa. Mereka hanya bisa menyayangkan pertunjukkan itu harus berakhir dengan memberikan tepukan tangan meriah bagi si pianis yang telah beranjak dari duduknya dan berdiri di tengah lapangan. Lelaki itu membungkukkan sedikit badannya sebagai ucapan terima kasih karena telah menikmati penampilannya. Senyuman kembali menghiasi wajahnya sembari meninggalkan panggung.


Ketika Gavin menginjakkan kakinya di backstage, dirinya langsung diserbu. Arunika, Hera, Maverick, Floyd, dan beberapa anggota pengurus acara lainnya memberikan berbagai kalimat penuh pujian tanpa jeda. Maverick berkali-kali memukul pelan tangan Gavin sambil melontarkan ucapan penuh kebanggaan padanya, sedangkan Floyd memeluk Gavin sekali. Hera pun juga memberikan reaksi yang tak jauh beda dari Maverick.


"Good job, Vin, permainan tadi sangatlah indah." Gavin membalikkan badannya ketika mendengar suara familier itu. Berbeda dengan ketiga temannya yang cenderung heboh, Arunika malah terkesan lebih tenang saat mengucapkan kalimat apresiasi itu, namun juga tersirat perasaan bangga yang cukup kuat di dalamnya.


"Tentu saja," balas Gavin dengan senyuman penuh percaya diri, membuat Arunika menggeleng pelan sambil tersenyum. Kemudian perhatian Gavin kembali teralihkan karena ada beberapa anggota OSIS yang menghampiri dan mengajaknya berbicara.


Arunika menatap lekat lelaki yang sedang tertawa setelah mendengar pujian dari anggota-anggota OSIS itu, lalu mengembuskan napasnya pelan sambil menundukkan kepalanya.


"Jangan berharap Arunika," gumam gadis itu dengan suara yang sangat kecil, nyaris seperti berbisik.


...⁕⁕⁕...