RUN WITH ME

RUN WITH ME
CHAPTER 18: MENGHABISKAN WAKTU BERSAMA



"Dia adalah nenekku, Eleonora Chakrawidara." Sekarang Arunika dan Gavin berdiri di sebuah ruang yang penuh dengan foto-foto orang yang telah meninggal. Foto-foto itu dipisahkan oleh sekat kayu yang bagian depannya ditutupi oleh kaca agar keluarga maupun kerabat masih dapat melihat foto tersebut.


Gavin memandangi wanita—menurut dugaannya—berada di umur sekitar tujuh puluhan dengan rambut selehernya yang hampir semuanya memutih. Wanita dalam foto itu memberikan senyuman terlebarnya sampai-sampai matanya menghilang. Di masing-masing samping foto terdapat buket bunga yang sama seperti Arunika berikan tadi. Dalam sekali lihat Gavin dapat membayangkan bagaimana ramah dan lembutnya ia pada sang cucu.


"Hari ini merupakan peringatan kematiannya yang kelima tahun, jadi aku datang ke sini untuk menyapanya," ucap Arunika dengan tatapan yang tak bisa lepas dari foto itu, sedangkan Gavin melirik kecil pada perempuan di sebelahnya. Ia mampu menangkap wajah sedih Arunika sehingga ia bisa menyimpulkan seberapa sayangnya perempuan itu pada sang nenek.


"Selama lima tahun ini, hanya diriku yang mendatanginya karena mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing." Gavin paham kepada siapa kata 'mereka' yang Arunika maksud. Siapa lagi kalau bukan keluarganya sendiri.


"Kau sangat menyayanginya, ya?" Akhirnya Gavin bersuara setelah sejak tadi menjadi pendengar. Mendengar pertanyaan itu Arunika tersenyum sambil mengangguk.


"Hanya nenek yang mengingatkanku untuk beristirahat dan menjaga kesehatan. Hanya nenek juga yang bisa membuat kedua orang tuaku bungkam dan membawa kami pergi bermain ke taman. Aku masih ingat dibelikan es krim secara diam-diam dari minimarket dekat rumah karena orang tuaku cukup strict terhadap makanan."


"Kami?"


"Kedua kakakku. Devian dan Demian, aku memanggilnya Kak Dev dan Kak Demi." Penjelasan singkat itu membuat Gavin teringat racauan Arunika dua hari lalu, saat Arunika tertidur di ruang kesehatan sekolah. Ternyata benar dugaannya, dua nama yang disebut oleh perempuan itu merupakan saudara kandungnya.


"Kedua kakakku sekarang kuliah kedokteran di Amerika dan kakekku berada di luar negeri untuk berobat karena sakit keras. Jadi, aku memahami mereka sulit untuk datang ke sini," ucap Arunika sambil menoleh menatap Gavin dengan senyuman lembutnya.


"Bagaimana perasaanmu saat nenekmu meninggal?" tanya Gavin sambil menatap foto Eleonora.


"Hancur," jawab Arunika sambil tertawa, sedangkan Gavin kembali menatap perempuan di sebelahnya dengan tatapan dalam.


"Sejak kecil aku selalu menjadikannya sebagai tumpuan dan ketika tumpuanku menghilang, maka diriku pun ikut hancur. Bagiku, nenek adalah satu-satunya orang waras di keluarga Bumantara. Ketika dirinya meninggal, aku langsung merasa hilang arah dan butuh waktu untuk bisa menerima kepergiannya." Lanjut Arunika dengan mata berkaca-kaca. Dirinya tak ingin menunjukkan mata berair di depan Gavin sehingga ia mengusap pelan sepasang matanya.


Tiba-tiba sebuah sapu tangan berwarna krem terpampang di depan wajah Arunika. Arunika menoleh dan menatap Gavin yang menyodorkan kain itu. Arunika tertawa kecil lalu menerimanya dan memakainya. Gavin kembali sadar kalau Arunika bisa memiliki sisi yang seperti ini, dirinya lupa karena selalu melihat sisi ceria Arunika yang seakan tak memiliki kesedihan sedikit pun.


Setelah cukup tenang, Arunika melipat sapu tangan tersebut dan menyimpannya dalam tas, tak mungkin ia mengembalikannya dalam kondisi kotor. Masih dengan tatapan mengarah pada sang nenek, Arunika kembali berbicara, "siapa yang kau kunjungi di sini?" Tentu pertanyaan itu ia berikan pada Gavin. Yang ditanyai terdiam.


Beberapa saat diisi oleh keheningan, sampai akhirnya Gavin menjawab, "ibuku." Mata Arunika melebar dan langsung menoleh pada si pemuda, memberikan tatapan meminta maaf. Gavin terkekeh.


"Tidak apa, ibuku sudah meninggal sepuluh tahun lalu."


"Dan kau masih mengunjunginya sampai sekarang," balas Arunika dengan suara sendu, mengartikan seberapa sakit hatinya Gavin akibat kepergian ibunya. Gavin memahami maksud kalimat itu sehingga ia memilih untuk diam.


Tak lama Gavin membuka kembali mulutnya, "aku mengunjunginya saat merasa rindu dan ingin bercerita pada seseorang. She's my safest place." Arunika mengangguk paham, ia sangat mengerti perasaan itu karena itulah yang dirasakannya terhadap neneknya. Setelahnya, tak ada lagi kalimat yang Gavin lontarkan mengenai ibunya sehingga Arunika sadar, pemuda itu tak ingin bercerita. Arunika pun hanya bisa menghargai privasi Gavin dengan tidak bertanya apa-apa lagi.


Kesunyian terjadi di antara mereka selama beberapa menit. Karena merasa sudah puas melepas rindunya pada sang nenek, Arunika bersiap untuk pulang dan Gavin menangkap gerak-gerik perempuan itu sehingga ia menahan tangannya, membuat Arunika yang belum beranjak satu senti pun dari tempatnya berdiri mengernyitkan dahi kebingungan.


"Kau mau pulang?"


"Kau bisa membaca pikiranku?"


Mereka tertawa kecil setelahnya. Sebenarnya Arunika mulai menyadari tingkat kepekaan Gavin yang cukup tinggi, tapi ia tak menduga dugaannya bisa setepat itu, atau apakah karena gerak-geriknya yang mudah dibaca oleh pria itu?


"Sudah sarapan?" Arunika menggeleng sebagai jawaban, membuat Gavin kembali bertanya, "mau sarapan bersama? Kebetulan aku juga belum sarapan karena pergi pagi sekali."


"Kau sudah tahu tempat sarapan yang enak?" tanya Arunika dengan tatapan tak yakin, entah kenapa Arunika bisa menduga kalau Gavin belum sekalipun berjalan mengelilingi kota. Tapi anehnya dia berani mengajak sarapan bersama.


Gavin terdiam sebentar lalu menggaruk tengkuknya dengan tangan bebasnya, membuat Arunika langsung tertawa keras. Saking lepasnya ia tertawa, perutnya mulai terasa sakit sehingga ia memeganginya. Wajah Gavin memerah dan menundukkan kepalanya


Masih dengan tawanya yang belum selesai, Arunika mengusap kembali sudut matanya yang berair. Namun sekarang bukan karena kesedihan, melainkan kesenangan akibat tingkah lucu Gavin. Butuh beberapa menit bagi Arunika sampai akhirnya bisa menghentikan tawanya, ia beberapa kali mengatur napasnya untuk mempercepat penghentian gelaknya.


"Sudah selesai tertawanya, hm?" tanya Gavin dengan senyuman lebar. Meski dirinya ditertawai habis-habisan oleh Arunika, entah kenapa ia tak merasa begitu malu dan malah lega melihat wajah senyuman Arunika. Ia merasa wajah tersebut hanya cocok untuk memberikan wajah ceria dengan senyuman yang terukir setiap saatnya, memunculkan keinginan dalam diri Gavin untuk menjaga wajah bahagia tersebut.


"Sudah, sudah," balas Arunika dengan kekehan, kemudian ia memutar tangannya yang dipegang oleh Gavin sehingga pegangan Gavin terlepas. Namun selanjutnya malah tangan Gavin yang digenggam oleh Arunika dan ditarik pelan. Sekarang Arunika berjalan di depan Gavin dengan kedua tangan yang saling berpaut.


Arunika menyerongkan sedikit tubuhnya dengan rambut yang meliuk indah di mata Gavin, "sekarang aku akan membawamu ke tempat sarapan yang enak di dekat sini dan selama sehari ini aku akan menjadi pemandumu untuk lebih mengenal kota ini. Siapkan kakimu, ya," ucapnya dengan senyuman penuh semangat, membuat Gavin ikut tersenyum.


"Baiklah, aku akan membiarkan diriku mengikuti ke mana kau membawaku pergi."


"Ini namanya bubur ayam, sering dijadikan sebagai sarapan oleh orang-orang sini karena kandungannya tidak terlalu berat. Ada orang yang paginya tidak bisa makan nasi atau makanan berat lainnya, jadi mereka menggantinya dengan bubur." Jelas Arunika sambil menyodorkan semangkok bubur dengan berbagai macam isi.


"Sepertinya aku pernah melihat makanan ini, tapi tidak dengan isinya yang sebanyak ini," komentar Gavin yang membuat Arunika terkekeh.


"Nah, ada satu perdebatan yang sering banget dibicarakan oleh anak muda di sini tentang makanan ini." Gavin memberikan tatapan tertarik pada perkataan Arunika. Perdebatan tentang bubur?


"Pertama, ada orang yang lebih suka buburnya diaduk, seperti yang kau lakukan sekarang," ucap Arunika sambil menunjuk mangkok bubur Gavin yang semua isinya telah tercampur. Gavin pun melihat mangkoknya dengan wajah polos.


"Kedua, ada orang yang lebih suka buburnya tidak diaduk dan dimakan secara terpisah, seperti milikku," lanjut perempuan itu sambil menunjuk mangkoknya sendiri.


"Perdebatannya adalah cara mana yang paling enak untuk menikmati bubur ini?" Gavin diam sebentar lalu menunjuk mangkoknya sendiri. Arunika terkekeh melihat itu.


"Aku lebih suka mencampur semua yang ada di piringku agar rasanya merata."


"Tapi bubur lebih enak kalau tidak diaduk agar kita bisa merasakan rasa asli setiap isinya," balas Arunika dengan wajah jahil. Gavin akhirnya menyadari maksud perdebatan itu sehingga ia tertawa.


"Ternyata itu maksudnya," ucapnya sambil mengangguk paham.


"Iya, semuanya hanya masalah selera dan dijadikan sebagai candaan oleh mereka." Jelas Arunika yang membuat Gavin kembali mengenal hal baru mengenai tempat baru ini. Jujur, Gavin senang bisa memiliki kesempatan untuk mengenal negara kecintaan ibunya itu, namun rasanya sulit karena tak ada yang mengajak. Jadi, ia bersyukur perempuan di depannya ini mengerti dan bersedia memperkenalkannya.


Sekitar dua puluh menit dua orang itu habiskan di kedai kecil tersebut. Setelahnya, Arunika mengajak Gavin untuk berjalan santai di area CFD (Car Free Day). Gavin sebenarnya tak paham, namun Arunika berkata akan menjelaskannya nanti. Jadilah mereka pergi diantar menggunakan mobil Gavin, sedangkan Arunika meminta sopirnya untuk pulang karena Gavin yang akan mengantarnya pulang.


Sekitar hampir empat puluh menit mereka habiskan di jalan menuju area CFD terdekat. Sesampainya di sana, Arunika mengajak Gavin untuk turun karena mobil tidak boleh masuk ke area tersebut. Keduanya pun mulai berjalan santai di trotoar. Gavin bisa melihat banyak orang melakukan olahraga, seperti berlari dan bersepeda, ada juga yang berjalan santai bersama keluarga. Benar-benar tidak ada satu pun kendaraan di area itu sehingga semua orang bisa beraktivitas dengan nyaman.


"Seharusnya kau sudah tahu hal ini karena Jerman dan Inggris ada car free day, 'kan?" Gavin mengangguk pelan lalu menggeleng, membuat Arunika bingung.


"Aku ingat di Inggris pernah diadakan beberapa kali, tapi kalau di Jerman aku tidak ingat sama sekali karena masih kecil." Jelas Gavin yang membuat Arunika mengangguk paham.


"Kegiatan ini dilakukan setiap hari Minggu dari jam enam hingga sepuluh pagi. Jadi, kalau kau sedang bosan berolahraga di rumah, kau bisa datang ke area-area CFD. Lokasinya ada banyak, jadi cari saja yang paling dekat dengan rumahmu."


Mereka terus berjalan santai entah ke mana, membiarkan kedua kaki yang mengambil komando. Arunika terus membicarakan banyak hal—sebagian besar berisi cerita konyol—dan Gavin lebih cenderung menjadi pendengar sambil sesekali mengomentari cerita si perempuan.


"Aku teringat satu kejadian lucu tentang Floyd dan Maverick. Kau tahu Floyd senang sekali mengganggu Maverick dan anak itu mudah emosi." Gavin mengangguk dengan pandangan terus mengarah Arunika yang bibirnya seperti tidak memiliki rem.


"Saat mereka masih kelas satu, Floyd pernah menjahili Maverick dengan mencuri baju olahraganya dan disembunyikan di kamar mandi laki-laki. Kemudian, saat jam olahraga tiba, Maverick panik mencari bajunya sambil menuduh Floyd dan memaksanya memberitahukan keberadaan bajunya. Guru olahraga waktu itu dikenal sangat keras, tapi dia sudah pensiun setelah kita naik ke kelas dua." Arunika mengubah posisi berjalannya menjadi melangkah ke belakang dengan badan menghadap Gavin. Gavin menjadi sedikit waswas sehingga beberapa kali memperhatikan area belakang Arunika sambil mendengarkan ocehan perempuan itu.


"Saking kesalnya sama Floyd, akhirnya ia mengambil penghapus dan melemparnya ke Floyd. Floyd berhasil menghindar dan penghapus itu mengenai guru olahraga yang—" Kalimat itu belum bisa Arunika selesaikan karena dirinya berteriak kecil akibat Gavin yang secara tiba-tiba merengkuhnya. Arunika cukup terkejut melihat aksi itu, sedangkan Gavin sudah memegang kedua pundaknya, mendekatkan wajahnya dan menyisakan jarak beberapa senti saja.


"Kau tidak apa?" tanya Gavin dengan wajah panik. Barulah Arunika tersadar dari lamunannya dan melirik anak kecil dengan sepeda dua rodanya yang berhenti tak jauh dari mereka. Sepertinya ia hampir ditabrak oleh sepeda itu dan Gavin menyelamatkannya.


Setelah mengatur kembali kepalanya, Arunika memberikan senyuman serta jempolnya pada Gavin, "aku baik-baik saja, terima kasih. Refleksmu bagus juga." Gavin mengembuskan napas lega dan melepaskan pegangannya pada pundak Arunika, lalu tanpa sadar menepuk pelan kepala Arunika.


Seketika itu juga Arunika dan Gavin saling bertatapan dan mengedipkan mata beberapa kali dengan tangan Gavin yang masih bertengger di kepala Arunika. Gavin dengan gelagapan menarik cepat tangannya, panik sekaligus bingung mengapa dirinya melakukan itu. Sedangkan Arunika juga tak ada bedanya dengan Gavin, sehingga ia berjalan menghampiri anak kecil itu sambil berusaha menenangkan detak jantungnya.


"Maaf, saya tidak sengaja," ucap anak kecil itu dengan wajah tertunduk. Arunika pun berlutut satu kaki agar bisa menyejajarkan tingginya sambil tersenyum lembut. Ia juga mengelus lembut kepala anak itu.


"Kakak tidak apa-apa, tapi kalau mau bersepeda, jangan di trotoar, ya. Tempat ini digunakan untuk berjalan, jadi kalau kamu bersepeda di sini bisa membahayakan orang lain, mengerti maksud kakak?" Anak kecil itu terdiam sebentar, sepertinya mencerna perkataan Arunika. Tak lama setelahnya ia mengangguk dengan wajah berseri, untung dirinya bertemu dengan kakak baik.


Si anak kecil mengucapkan terima kasih dan menjalankan sepedanya di jalan raya, sedangkan Arunika kembali berdiri dan menepuk pelan lutut yang digunakannya untuk berlutut. Kemudian ia menoleh ke belakang dan melihat Gavin yang sudah tersenyum lembut padanya, sepertinya pria itu sudah tidak malu lagi. Dan entah kenapa, mereka saling tertawa dengan Arunika yang kembali berjalan di samping Gavin.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menatap dari kejauhan dengan pakaian olahraganya. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut, namun juga bingung.


"Arunika sama Gavin? Sejak kapan mereka pacaran?"


...⁕⁕⁕...